Materi belum Siap, Pembacaan Tuntutan Sebby Ditunda
JAYAPURA-Pembacaan tuntutan terhadap terdakwa kasus dugaan makar Sebby Sembom yang sedianya dilakukan, Rabu (19/8) terpaksa ditunda oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jayapura.
Majelis hakim yang diketuai Manungku Prasetyo, SH, dengan hakim anggota Hontar Simarmata, SH dan Lucky L Kalalo, SH, serta Panitra Ida Zulfa M, SH, terpaksa menunda persidangan, karena materi tuntutan yang sedianya dibacakan oleh Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang diketuai Maskel Rambulangi, SH, belum siap.
Bahkan dalam persidangan kemarin, JPU meminta waktu satu minggu kepada majelis hakim untuk menyusun kembali tuntutan. Menanggapi permintan itu, Penasehat Hukum Sebby, Iwan Niode, SH, berharap majelis hakim tidak mengundur waktu lagi. Sebab hal itu menurutnya, dapat menghambat kerja mereka dalam menyusun jawaban. Meski demikian majelis hakim akhirnya memenuhi permintaan JPU dan menunda persidangan hingga Rabu (26/8).
Usai persidangan, terdakwa Sebby Sembom terlihat membagikan pernyataan keberatan atas dakwaan makar yang diberi judul Ratapan Keadilan kepada warga yang hadir di ruang sidang.
Selain sidang Sebby, sidang kasus dugaan makar lainnya dengan terdakwa Mako Tabuni, cs, juga ditunda. Majelis Hakim yang diketuai A.
Siboro SH didampingi H. Simamora SH dan Mahmuriadin SH, menunda persidangan karena JPU Libert, SH, tidak dapat menghadirkan saksi. (cr-157)
Caleg Tolikara ‘Resah’
Selasa, 11 Agustus 2009 00:00
JAYAPURA (PAPOS) – Ketua DPC partai Hanura Tolikara, Kris Begolu Wanimbo meminta agar KPUD Tolikara segera melakukan pleno. Sebab KPUD kabupaten tetangga sudah melakukan pleno.“Saya minta agar KPUD Tolikara sesegera mungkin melakukan pleno,” ujar Kris kepada Papua Pos di Abepura, Senin (11/8) kemarin.
Sebab, kata dia wanti-wanti bila tidak dilakukan dalam waktu dekat ini maka akan menghambat pembangunan di Tolikara. Pasalnya, dengan lambatnya dilalukan pleno ini maka dalam melakukan pembahasan ditingkat Dewan menjadi terhambat.Permasalah ini bukan hanya sampai disitu sebab, dengan keterlambatan melakukan pleno ini akan menimbulkan persefsi tidak seriusnya KPUD Tolikra ini untuk melakukan langkah-langkah untuk menuju perubahan.
Dengan melihat kondisi seperti ini selayaknya KPU Provinsi Papua bisa menyarankan kalau melakukan pleno tersebut bisa dilakukan diluar Tolikara. Dengan pertimbangan kalau kantor KPUD yang ada diwilayah tersebut telah dibakar oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab.
Demikian juga diharapkan, DPRD Tolikara akan berakhir massa jabatannya yakni 24 September mendatang. Hendaknya dapat dilanjutkan dengan melakukan pelantikan kepada anggota Dewan baru yang terpilih. Adapun kata dia, jumlah kursi yang disediakan bagi DPRD setempat sebanyak 30 kursi dengan perolehan untuk Golkar sebanyak 21 kursi dan sisanya diperebutkan oleh partai politik lainnya.(fer)
Debit Air Turun Akibat Kerusakan Cyclop
JAYAPURA- Direktur WWF-Indonesia Region Sahul Benja V Mambai mengungkapkan bahwa menurunnya tingkat kejernihan air bersih serta berkurangnya volume sumber air di daerah hilir, diakibatkan adanya potensi kerusakan lingkungan alam di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), utamanya di kawasan Cagar Alam Cyclop Sentani.
“ DAS adalah suatu wilayah daratan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut, dimana pengairannya sangat tergantung aktifitas daratan,” ujar Benja Mambai kepada Cenderawasih Pos disela-sela seminar hasil study keadaan DAS Sentani dan Tami di Aula F Mipa Uncen, Senin (10/8).
Jika DAS kondisinya telah mengalami kerusakan kata Benja Mambai, maka yang terjadi adalah titik-titik potensi penampungan atau penyimpanan air hampir tidak ada. Akibatnya yang terjadi adalah adanya penurunan sumber-sumber air di kawasan hilir.
Sementaraa itu, anggota Forum DAS Pemprov Papua Ir. J.P Satsuitubun mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, luas lahan kritis di Sub DAS Sentani (Hubay) adalah 819 Hektare atau 49,3 % dari luas Sub DAS. Untuk mengatasi lahan kritis itu, berbagai upaya telah dilakukan tapi hasilnya belum maksimal. “ Kekeruhan air sungai Hubay atau jembatan dua Sentani bukan dipicu oleh proses erosi pada saat hujan, tapi disebabkan oleh aktivitas pendulangan emas dibagian Sub DAS serta penggalian batu pada lereng-lereng gunung,” ujarnya dalam presentasi, kemarin.
Sementara itu, sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi Cagar Alam Cyclop sejumlah mahasiswa Universitas Yapis Papua Kampus Sentani Angkatan VI Tahun Akademik 2009/2010 mengadakan penghijauan, dengan menanam 500 pohon rambutan di lereng gunung Cyclop.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diikuti 78 orang dari beberapa Fakultas Uniyap seperti, Hukum, Ekonomi, Fisip dan juga Agama Islam. Menurut ketua panitia KKL, Yosep Jek mengatakan, kegiatan KKL yang diikuti mahasiswa semester VII tersebut dimulai pada 22 Juli s/d 15 Agustus 2009. (mud/cr-156)
Diduga Kelompok TPN/OPM Pimpinan Erick Manitori
14 Juli 2009 00:24:24
Kasus Baku Tembak di Kepulauan Yapen
JAYAPURA-Insiden kontak tembak yang terjadi di Kampung Mantembu, Kelurahan Anotauri, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua yang terjadi, Sabtu (10/7) pukul 11.00 WIT lalu, diperkirakan pelakunya berasal dari kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori.
“Ya, memang diduga pelakunya diduga kuat dari kelompok TPN/OPM pimpinan Erick Manitori atau kelompok Serui istilahnya,” ungkap Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri ketika ditanya Cenderawasih Pos di Mapolda Papua, Senin (13/7) kemarin.
Kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori sebelumnya sempat terlibat kontak senjata dengan aparat kepolisian di Poiway, Kabupaten Kepulauan Yapen beberapa hari lalu dan dalam kontak tembak ini, salah seorang anggota TPN/OPM bernama Natanael Runggaimusi warga Korongbobi, Serui ini sempat ditangkap polisi.
Mereka diduga merupakan kelompok TPN/OPM yang melarikan diri usai Polda Papua berhasil menguasai Lapter Kapeso yang sempat diduduki selama hampir 1 bulan oleh kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri tersebut.
Yang jelas, kata Nurhabri, Polres Kepulauan Yapen sampai saat ini masih melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku penyerangan terhadap 9 anggota Polres setempat yang sempat melakukan patroli dan menangkap dua orang yang diduga sebagai anggota TPN/OPM di Kampung Mantembu, Kelurahan Anotauri tersebut.
Soal serangan mortir dan granat yang diduga digunakan untuk menyerang polisi oleh kelompok TPN/OPM itu, Nurhabri mengakui bahwa faktanya di lapangan yang terjadi memang seperti itu.
“Kita tidak bisa menduga-duga. Faktanya memang ada mortir, masalah dapatnya darimana, nantilah! Kami akan ungkap semuanya itu,” ujar Nurhabri.
Dikatakan, kejadian penyerangan yang dilakukan oleh kelompok TPN/OPM itu susah dipresiksi di mana akan dilakukan, apalagi medan di Papua cukup sulit.
“Seandainya diketahui, ya bisa saja diatasi, tapi ini kejadiannya biasanya di tempat-tempat yang ekstrim atau tempat yang memiliki medan yang sulit, karena di situ pengamanan kurang dan kesempatan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan penyerangan,” paparnya.
Meski demikian, Plh Kabid Humas Nurhabri mengakui bahwa aparat kepolisian terus berupaya meningkatkan patroli untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sebelumnya, dilaporkan 9 anggota Polres Kepulauan Yapen yang sedang melakukan patroli di Kampung Mantembu Kelurahan Anotauri, Sabtu (10/7) pukul 09.30 WIT lalu.
Kejadian kontak tembak dengan kelompok yang tidak dikenal tersebut, berawal ketika 9 anggota Polres Kepulauan Yapen melakukan patroli ke Kampung Mantembu Kelurahan Anotaurei dan saat itu berhasil menangkap 2 orang yang diduga kelompok TPN/OPM yang beroperasi di daerah tersebut.
Kedua anggota TPN/OPM tersebut, diketahui bernama Policarmus Ambokari (30) seorang petani warga Kampung Mantembu, Warmetan (23) seorang buruh TKBM.
Setelah itu, kedua orang yang diduga TPN/OPM tersebut dibawa turun oleh pasukan untuk dibawa ke Mapolres Kepulauan Yapen, namun tiba-tiba diserang dengan mortir dan rentetan senjata otomatis sekitar pukul 11.30 WIT.
Nurhabri mengungkapan usai terjadi kontak senjata tersebut, polisi sempat melakukan pengejaran dan melakukan penyisirian di sekitar arah tempat penyerang.
“Selain menangkap dua orang yang diduga kuat sebagai anggota TPN/OPM, juga kami berhasil mengamankan 1 buah granat, parang, dokumen-dokumen dan pakaian,” imbuhnya.(bat)
11 Anggota Brimob Diperiksa
04 Juli 2009 15:47:49
Terkait Bentrok di Paniai
JAYAPURA-Bentrok antara masyarakat dengan aparat Brimob di Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai yang berujung tewasnya 1 warga dan 4 orang luka-luka termasuk anggota Brimob, masih terus diselidiki Polda Papua.
Bahkan, Polda Papua kini telah melakukan pemeriksaan terhadap 11 anggota Brimob yang terlibat dalam kasus tersebut, termasuk beberapa warga masyarakat juga telah dimintai keterangannya.
Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan pihaknya sudah memintai keterangan terhadap 11 anggota Brimob dan beberapa saksi dari warga. “Penembakan yang dilakukan oleh anggota Brimob dalam insiden itu, sudah sesuai dengan prosedur,” ungkap Nurhabri, Jumat (3/7) kemarin.
Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi itu, lanjut Nurhabri, diketahui bahwa insiden bentrokan tersebut bermula ketika masyarakat dari Marga Boma mendatangi rumah Yosias Degey di Aikai sambil melakukan tarian adat untuk menuntut denda atas dugaan keluarga mereka yang diduga dibunuh oleh keluarga Degey pada 13 Juni 2009 lalu.
Bahkan, masyarakat dari Marga Boma tersebut kemudian melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey. Sementara itu, anggota Brimo yang di BKO-kan di Polres Paniai saat itu baru pulang dari Mapolresta setelah apel pagi.
Tidak jauh dari Pos Brimob tersebut, anggota Brimob melihat masyarakat dari keluarga Boma sudah melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey, sehingga anggota Brimob yang berjumlah 11 orang tersebut berusaha untuk melerainya.
Namun, saat itu justru anggota Brimob tersebut diserang ratusan masyarakat dari keluarga Boma tersebut dengan parang, panah, kapak, batu dan kayu. “Anggota sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke atas, namun massa tetap anarkis bahkan ada yang berusaha merebut senjata anggota Brimob, sehingga anggota langsung melakukan tembakan untuk melumpuhkan. Itu pun dengan peluru karet,” jelas Nurhabri.
Nurhabri mengungkapkan pemicunya sebenarnya masalah tuntuan keluarga Boma yang meminta denda adat kepada marga Degey. “Dua hari sebelum Manis Boma meninggal, sempat bertengkar dengan salah seorang dari marga Degey sehingga diklaim mereka sebagai penyebab meninggalnya Manis Boma tersebut, padahal korban meninggal karena sakit jantung,” ungkapnya.
Ditambahkan, pasca terjadinya bentrok tersebut, sampai saat ini situasi di Enarotali, Kabupaten Paniai dalam keadaan aman. “Sekarang sudah aman dan masyarakat sudah beraktifitas seperti biasanya,” imbuhnya.
Sementara itu, dari kejadian itu terjadi korban tewas Matheus Boma (54) terkena tembakan, Marthen Pigay (27) terkena tembak di paha kanan, Simon Keiye (25) luka tembak di bagian kakikiri, Pentetius Boma (50) luka tembak paha kanan dan Bripda Faizal (24) luka panah di pantatnya dan mendapatkan 5 jahitan. “Korban luka semua dirawat di Paniai dan kini sudah membaik,” pungkasnya. (bat)
Kerusakan Hutan Diperkirakan Capai 5 Juta HA
¶ Topik SPM | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:16 | § Add a Comment
JAYAPURA-Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Ir Karjono, MP, mengungkapkan bahwa kerusakan hutan di Papua cukup mengkhawatirkan dan bisa dikatakan dalam kondisi lampu kuning. Sebab luas hutan yang mengalami kerusakan diperkirakan telah mencapai 5 juta HA.
“Bila dibandingkan dengan luas hutan kita yang da di Papua sekitar 330 juta HA, kerusakan hutan dan lahan yang potensial kritis sebesar 5 juta Ha tentunya masih kecil. Tetapi hal itu perlu mendapat perhatian serius,” ungkap Karjono saat ditemui Cenderawasih Pos di sela kegiatan Penyegaran Pengelolaan DAS Aparat Kehutanan Tahun 2009 di Hotel Relat, Rabu (3/6).
Dikatakan, dari 5 juta Ha areal hutan yang mengalami kerusakan dibagi dalam tiga kategori yaitu potensial kritis atau amat kritis, agak kritis dan kritis sekali. Sedangkan kondisi lahan yang masuk kategori kritis sekali menurut Karjono diperkirakan mencapai 3 juta Ha. “Ini diduga akibat adanya pertambahan penduduk,
perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurangnya keterpaduan antar sektor dan antar wilayah dari hulu hingga hilir dalam pengelolaan DAS,” jelasnya.
Untuk memperbaiki atau merehabilitasi lahan kritis tersebut, pemerintah bersama masyarakat menurutnya telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui program penyelamatan hutan, reboisasi, Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK).
“Semua itu merupakan dasar untuk mewujudkan perbaikan lingkungan penanggulangan bencana bajir, tanah longsor dan kekeringan secara terpadu, transparan dan partisipatif,” tambahnya.
Upaya rehabilitasilahan dan hutan yang mulai dilakukan sejak tahun 2004, menurut Karjono sudah mulai menampakan hasil. Dari program-program yang dilakukan, lahan dan hutan yang berhasil direhabilitasi sekitar 34.000 Ha.(ind)
Popularity: 12% [?]
Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua Kecewa
¶ Papua | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:15 | § Add a Comment
JAYAPURA-Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua yang juga gabungan penasehat hukum empat tersangka penyerangan Mapolsek Abepura pada Kamis (9/4) masing-masing Yance Yogobi, Dino Agubi, Andi Gobay dan Jhoni Hisage yang kini dalam proses penyidikan di Mapolda Papua mengaku kecewa dengan penyidik Polda Papua
Ketua Tim Penasehat Hukum keempat terdakwa, Gustaf Kawer, SH, mengaku kecewa [...]
Popularity: 13% [?]
Tiga Tahun Setelah itu, Pengungsi Asal West Papua di Australia Mendapat Izin Menetap
¶ Asiaoceania, Catatan Khusus | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 2:39 | § Add a Comment
Media NKRI memang jelas tidak memberitakan sedikitpun mengenai kemenangan diplomasi Papua Merdeka. Pada minggu ini, tepatnya 2 Juni 2009, Hermain Wainggai, salah seorang anak Alm. Thom Wainggai mendapat izin tinggal tetap di Australia.
Seperti dilaporkan dalam versi Inggris @westpapua.net, Julius Kogoya, Izack Marani dan Richard Rumbiak di samping Marike Tebay, Papuana Motte, William Omabak, dan [...]
Popularity: 15% [?]
Kelestarian Budaya Baliem Terancam Punah
¶ Masyarakat Adat | ©admin | @ Kamis, Juni 4, 2009 17:05 | § Add a Comment
WAMENA-Pimpinan Sanggar Seni Dani Baliem Wamena, Yoko Huby mengatakan, sejak berdiri pada 2002 lalu, hingga saat ini pihaknya belum mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya baik dalam bentuk bantuan maupun pembinaan.
“Kami sudah beberapa kali ajukan permohonan bantuan guna memajukan sanggar seni ini demi kelestarian budaya Baliem, tapi belum ada direspon dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) [...]
Di Yapen, Polisi Baku Tembak Dengan OPM
4 Juli 2009 15:48:44
1 Anggota OPM Ditangkap, 1 Menyerahkan Diri
JAYAPURA-Baku tembak antara anggota Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua dengan anggota TPN/OPM dilaporkan terjadi di Distrik Poiway, Waropen, Selasa (2/7) kemarin.
Dalam kontak tembak yang berlangsung beberapa saat dalam penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Eric Manitori itu, aparat dari Polres Kepulauan Yapen yang berjumlah 15 personel dan dibackup 5 personel TNI dari Kodim 1709, berhasil menangkap 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen.
Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya membenarkan adanya kejadian kontak tembak antara aparat keamanan dengann kelompok TPN/OPM tersebut.
“Kami telah berhasil melakukan penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM di wilaya Poiway, Waropen. Kami menduga kelompok ini merupakan pelarian dari Mamberamo Raya di bawah pimpinan Eric Manitori,” ungkap Kapolres Imam Setiawan, Jumat (3/7) kemarin.
Selain berhasil menangkap salah satu dari anggota TPN/OPM, pihaknya juga berhasil mengamankan ratusan barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.
Dari kejadian kontak tembak tersebut, lanjut Kapolres Imam Setiawan, anggota TPN/OPM berhasil melarikan diri masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.
Sehari kemudian (Jumat, 3/7), ujar Kapolres Imam Setiawan, seorang anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Yance Mabuai menyerahkan diri, setelah melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua.
“Kini keduanya telah berada di Polres Kepulauan Yapen dalam pemeriksaan secara intensif dalam rangka penyelidikan lebih lanjut,” ungkap Imam Setiawan.
Kapolres menegaskan bahwa saat ini pihaknya masih memburu TPN/OPM di bawah pimpinan Erik Manitori yang diduga kuat telah bersembunyi di hutan tersebut.
“Polres masih terus melakukan pengusutan terhadap para pelaku lainnya yang terdaftar dalam dokumen yang kami temukan setelah kontak senjata tersebut,” imbuhnya.
Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri saat dikonfirmasi juga membenarkan adanya kejadian penghadangan tersebut. Nurhabri menduga bahwa kelompok TPN/OPM tersebut diduga merupakan pecahan kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Decky Imbiri yang melakukan penguasaan Lapter Kapeso, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, selama beberapa minggu lalu.
“Bisa saja, itu bagian dari kelompok TPN/OPM yang sempat menguasai Lapter Kapeso. Apalagi, dari penghadangan itu, ditemukan dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso,” ungkap Nurhabri.
Saat ini, imbuh Nurhabri, aparat kepolisian setempat masih melakukan upaya pengejaran terhadap kelompok TPN/OPM yang melarikan diri ke dalam hutan tersebut.
Sebelumnya, Polda Papua berhasil menguasai Lapter Kapeso tersebut dari penguasaan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri dan mereka melarikan diri yang diperkirakan menuju ke arah Serui. (bat)
Barang bukti diamankan
1. 4 senjata api laras panjang rakitan.
2. 3 pistol rakitan.
3. 1 pelontar granat.
4. 4 sangkur.
5. 7 pisau tulang beracun.
6. 8 butir amunisi SS1.
7. 3 butir amunisi LE.
8. 3 butir amunisi moser.
9. 2 butir amunisi revolver.
10. 3 bendera bintang kejora.
11. 14 ikat kepala jimat warna merah.
12. 5 ikat kepala jimat warna hitam.
13. 16 kalung jimat.
14. 9 kalung salib.
15. 5 batu jimat.
16. 5 taring babi.
17. 7 seragam loreng OPM.
18. bahan makanan sagu.
19. 13 lembar kartu tanda anggota TPN/OPM 203.
20. dokumen rencana penyerangan bandara Kapeso.
21. 17 busur.
22. 144 anak panah.
23. 1 bambu runcing.
24. 1 rangsel militer.
25. 7 alkitab
26. 5 lembar foto.
Sumber Polres Kepulauan Yapen, Papua.
Dua Anggota OPM Akan Dikirim ke Polda
06 Juli 2009 09:45:57
JAYAPURA-Dua anggota TPN/OPM yang telah diamankan di Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, yang mana satu diantaranya ditangkap dalam penghadangan di Distrik Poiway, Kabupaten Kepulauan Yapen, Selasa (2/7) lalu dan satunya lagi karena menyerahkan diri sehari kemudian, sesuai rencana akan dikirim ke Polda Papua.
ìRencananya, kedua anggota TPN/OPM yang ditangkap dan menyerahkan diri itu, akan kami kirim ke Polda Papua untuk penyidikan lebih lanjut,î kata Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya, Minggu (5/7) kemarin.
Hanya saja, kapan rencana kedua anggota TPN/OPM akan dikirim ke Polda Papua, Kapolres Imam Setiawan belum mau mengungkapnya, yang jelas, keduanya pasti akan dikirim ke Polda Papua.
Apalagi, lanjut Kapolres Imam Setiawan, pihaknya masih melakukan pengembangan penyelidikan dan penyidikan terkait penghadangan kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Erick Manitori yang sempat melakukan perlawanan dengan tembakan itu.
Kapolres Imam Setiawan mengakui, kedua anggota TPN/OPM tersebut, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 106 KUHP tentang makar. ìKami sudah melakukan penahanan terhadap keduanya,î ungkap Imam.
Sementara itu, terkait dengan anggota TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori yang melarikan diri ke hutan, Kapolres menegaskan pihaknya sampai saat ini masih melakukan pengejaran. ìKami masih berupaya untuk mengejar mereka,î tandasnya.
Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan ada kemungkinan bahwa kelompok TPN/OPM di bawah pimpian Erick Manitori ada kaitannya dengan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri yang sempat menguasai Lapter Kapeso, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya hingga hampir 1 bulan tersebut.
ìDari penghadangan itu, kami menemukan adanya dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso. Hanya saja, apakah ada kaitannya dengan kelompok Decky Imbiri kami belum bisa memastikan, karena masih kami pelajari,î imbuhnya.
Sekadar diketahui, dalam penghadangan itu, 15 personel dari Polres Kepulauan Yapen yang diback up 5 anggota TNI dari Kodim 1709 sempat terlibat kontak senjata di Poiway, Selasa (2/7).
Dalam penghadangan itu, 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen berhasil ditangkap.
Selain itu, aparat juga berhasil mengamankan cukup banyak barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.
Dari kejadian kontak tembak itu, sekitar 20 anggota TPN/OPM berhasil lari masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.
Jumat (3/7), seorang anggota TPN/OPM bernama Yance Mabuai menyerahkan diri melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. (bat
