11 Anggota Brimob Diperiksa
04 Juli 2009 15:47:49
Terkait Bentrok di Paniai
JAYAPURA-Bentrok antara masyarakat dengan aparat Brimob di Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai yang berujung tewasnya 1 warga dan 4 orang luka-luka termasuk anggota Brimob, masih terus diselidiki Polda Papua.
Bahkan, Polda Papua kini telah melakukan pemeriksaan terhadap 11 anggota Brimob yang terlibat dalam kasus tersebut, termasuk beberapa warga masyarakat juga telah dimintai keterangannya.
Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan pihaknya sudah memintai keterangan terhadap 11 anggota Brimob dan beberapa saksi dari warga. “Penembakan yang dilakukan oleh anggota Brimob dalam insiden itu, sudah sesuai dengan prosedur,” ungkap Nurhabri, Jumat (3/7) kemarin.
Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi itu, lanjut Nurhabri, diketahui bahwa insiden bentrokan tersebut bermula ketika masyarakat dari Marga Boma mendatangi rumah Yosias Degey di Aikai sambil melakukan tarian adat untuk menuntut denda atas dugaan keluarga mereka yang diduga dibunuh oleh keluarga Degey pada 13 Juni 2009 lalu.
Bahkan, masyarakat dari Marga Boma tersebut kemudian melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey. Sementara itu, anggota Brimo yang di BKO-kan di Polres Paniai saat itu baru pulang dari Mapolresta setelah apel pagi.
Tidak jauh dari Pos Brimob tersebut, anggota Brimob melihat masyarakat dari keluarga Boma sudah melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey, sehingga anggota Brimob yang berjumlah 11 orang tersebut berusaha untuk melerainya.
Namun, saat itu justru anggota Brimob tersebut diserang ratusan masyarakat dari keluarga Boma tersebut dengan parang, panah, kapak, batu dan kayu. “Anggota sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke atas, namun massa tetap anarkis bahkan ada yang berusaha merebut senjata anggota Brimob, sehingga anggota langsung melakukan tembakan untuk melumpuhkan. Itu pun dengan peluru karet,” jelas Nurhabri.
Nurhabri mengungkapkan pemicunya sebenarnya masalah tuntuan keluarga Boma yang meminta denda adat kepada marga Degey. “Dua hari sebelum Manis Boma meninggal, sempat bertengkar dengan salah seorang dari marga Degey sehingga diklaim mereka sebagai penyebab meninggalnya Manis Boma tersebut, padahal korban meninggal karena sakit jantung,” ungkapnya.
Ditambahkan, pasca terjadinya bentrok tersebut, sampai saat ini situasi di Enarotali, Kabupaten Paniai dalam keadaan aman. “Sekarang sudah aman dan masyarakat sudah beraktifitas seperti biasanya,” imbuhnya.
Sementara itu, dari kejadian itu terjadi korban tewas Matheus Boma (54) terkena tembakan, Marthen Pigay (27) terkena tembak di paha kanan, Simon Keiye (25) luka tembak di bagian kakikiri, Pentetius Boma (50) luka tembak paha kanan dan Bripda Faizal (24) luka panah di pantatnya dan mendapatkan 5 jahitan. “Korban luka semua dirawat di Paniai dan kini sudah membaik,” pungkasnya. (bat)
Di Kab. Jayapura Tingkat Kekerasan Terhadap Perempuan Masih Tinggi
” Untuk semua bangsa PAPUA yang terhormat, dan sebagai bangsa yang bercirikhas tersendiri, kita harus bangga dan berterimakasih kepada Tuhan yang Maha Esa, karena apa yang Tuhan buat untuk kita sangat lah luar biasa.
“Oleh sebab itu dengan adanya perjuangan kami sebagai anak PAPUA mari kita bergabung satu hati, satu tangan, satu suara untuk merebut kembali hak kemerdekaan kita yang selama ini kita tuntut dari Bangsa Penjajah.
“Kita semua tau, dan dunia luar pun tau bahwa kita Bangsa PAPUA sudah merdeka, tapi kenapa hak kemerdekaan kita masih di tahan sama bangsa yang tidak bertanggung jawab? Sekarang yang menjadi pertanyaan buat kita adalah: sebagai anak PAPUA kita bisa bersatu atau tidak? Kunci dari kemenangan kita hanya ada disitu, kalau kita bersatu dalam perjuangan, satu hati, satu suara, satu tekat dan satu tujuan, saya yakin dan percaya bahwa perjuangan kita tidak akan sia – sia, cepat atau lambat kita akan mendapatkan hasil dari perjuangan kita selama ini.
“Mungkin itu saja dan salam juang buat teman – teman perjuangan semua. HORMAT
19 Nopember 2008 05:37:03 Di Kab. Jayapura Tingkat Kekerasan Terhadap Perempuan Masih Tinggi
Tercatat 56 Kasus KDRT yang Telah Dilaporkan
SENTANI-Tindak kekerasan pada perempuan dan anak di Kabupaten Jayapura kini masih tinggi. Hal ini terbukti beradasarkan data Polres Jayapura bahwa 24 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi Januari-Oktober 2008, Lembaga Pengkajian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (LP3A) sebanyak 12 Kasus, dan yang melapor di Kantor Pemberdayaan Perempuan sebanyak 20 kasus. Sehingga totalnya 56 kasus.
“Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di kabupaten Jayapura yang banyak diakibatkan karena adanya ketidak adilan dalam pembagian peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat,” jelas Assiten I Setda Kabupaten Jayapura, Drs Jeck Ayamiseba mewakili bupati dalam acara sosialisasi pembentukan pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan Anak (P2TP2A) yang digelar di Hotel Ratna Sentani, Selasa (18/11)
Dikatakan, dengan kondidi ini maka harus ada lembaga yang penangani secara khusus tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak ini. Anggapan kedudukan wanita lebih rendah dari laki-laki tersebut, lanjut Ayamiseba menyebabkan perempuan banyak mengalami tindakan kekerasan baik secara fisik ataupun psikis.
Munculnya keberanian dari para korban untuk mengadukan/melaporkan kasus kekerasan yang dialaminya tersebut diperlukan adanya lembaga independent atau spesifik yang bersifat pedampingan korban mulai dari penanganan psikologis, penguatan rohani, bahkan hingga ke proses penyelesaian secara hukum dipandang perlu dibentuk.
“Saya sangat mendukung terbentuknya institusi tersebut, sehingga masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Jayapura akan segera teratasi,” harapnya
Sementara itu, Assisten Deputy Profesi dan Swasta Pemberdayaan lembaga Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Ir Nurti Mukti Wibawati mengatakan, tidak hanya program KDRT saja yang akan ditangani oleh lembaga P2TP2A Kabupaten.
“Kementarian pemberdayaan perempuan sesuai dengan peraturan presiden no 18 tahun 2007 mengenai rencana kerja pemerintah tahun 2008, menargetkan akan membentuk di 15 propinsi 40 kabupaten/kota dengan memberikan dana stimulant,” ungkapnya saat ditemui wartawan di sela-sela acara tersebut.
“Dari kedua belas area kritis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak hanya kekerasan saja yang harus dihadapi oleh lembaga P2TP2A Kabupaten Jayapura akan tetapi masalah ekonomi, kesehatan, anak perempuan harus dihadapi,” paparnya
Dari kacamata kementerian pemberdayaan perempuan RI terhadap di Papua, ia menjelaskan pihaknya menginginkan adanya indeks peningkatan terhadap pendidikan, kesehatan dan ekonomi. (ind)