jenasah pilot Ama di bawah ke wamena

Agustus 14, 2008 at 12:42 am (musibah) (, , , )

Jenazah Pilot AMA Dibawa ke Wamena

*Kondisinya Utuh, Pesawat Terbelah Tiga
(Pemakaman Tunggu Kedatangan Dua Putranya dari Amerika)
SENTANI-Setelah sebelumnya gagal diangkat lantaran cuaca buruk, akhirnya Jenazah pilot Dave Craig Clapper berhasil dievakuasi Selasa (12/8), kemarin oleh tim evakuasi yang tergabung dalam tim Sarnas dan Paskhas.
Seperti diketahui, Dave-panggilan akrab sang pilot naas itu, tewas setelah pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) jenis Pilatus PC-6 dengan nomor penerbangan PK-RCZ yang diterbangkannya, jatuh di gunung Teibu, Kampung Ndundu, Distrik Wori, Kabupaten Tolikara, Sabtu (9/8).

Dari lokasi, jenazah korban berkebangsaan Amerika ini, diterbangkan ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya dengan menggunakan pesawat milik AMA, jenis pilatus PK-RCY yang dipiloti Erick Robert.

Jalannya evakuasi korban sendiri tidak terlalu mengalami banyak hambatan. Perjalanan evakusi dimulai pagi hari, dimana rombongan yang di dalamnya termasuk wartawan Cenderawasih Pos berangkat dari hanggar TNI-AU di Sentani pukul 06.00 WIT menggunakan pesawat Heli Super Puma, dipiloti Mayor Pnb Jumarto.

Rombongan tim evakuasi yang terdiri dari tim Sarnas dan Paskhas menuju pendaratan terdekat dari lokasi kejadian, yakni di Kampung Taife 2, Distrik Mori. Tepat itu ditempu dalam waktu sekitar 1 jam.

Setelah menurunkan sebagian muatan, heli langsung menuju lokasi gunung Teibu. Masyarakat Taife yang sudah menunggu kedatangan tim evakuasi ini terlihat tegang. Wajah mereka penuh harap, mengingat saat dilakukan kontak menggunakan satelit, tim pemantau tidak mendapatkan jawaban.

Namun akhirnya selang 27 menit kemudian, tim evakuasi kembali dengan membawa jenazah yang sudah berada di dalam kantong jenazah. Karena sudah di dalam kantong, sehingga bagaimana kondisi jenazah korban tidak diketahui secara pasti. Tapi menurut keterangan Tim SAR, kondisi jenazah korban dalam keadaan utuh. Ini karena kondisi pesawat juga saat jatuh tidak terbakar, namun hanya terbelah tiga.

Awalnya jenazah Dave, hendak langsung dibawa ke Wamena, namun tidak direlahkan oleh warga setempat. Masyarakat Taife memang memiliki ikatan emosional dengan korban. Selain sangat dekat dengan

masyarakata, korban juga dianggap sangat berjasa bagi warga setempat, karena itu disepakati untuk beberapa menit jenazah disemayamkan di kantor Distrik Mori.

Pantauan Cenderawasih Pos saat pesawat mendarat, 6 orang warga yang telah disiapkan langsung mendekati pesawat dan mengangkut kantong jenazah tanpa alat apapun, kemudian digotong ke kantor distrik. Saat itu pula tangisan yang mulai mereda kembali pecah.

Saat pendaratan pukul 07.54 WIT di Taife terdengar isak tangis yang tak henti dari beberapa wanita, termasuk anak-anak hingga menimbulkan pertanyaan bagi Cenderawasih Pos.

Namun setelah mendapat jawaban dari Kepala Kampung, Gerson ternyata tangisan tersebut muncul karena perasaan sedih yang cukup mendalam atas kejadian yang menimpa Dave.

“Masyarakat sangat sedih dengan meninggalnya pilot Dave, dia banyak berjasa bagi masyarakat,” ujar Gerson.

Sangking dekatnya dengan masyarakat, menurut Gerson hari Minggu (10/8) sekelompok masyarakat menutuskan menuju lokasi jatuhnya pesawat dengan jalan kaki, namun di tengah perjalanan rombongan ini akhirnya kembali setelah mendapat kabar bahwa lokasi jatuhnya telah ditemukan dan akan dilakukan pencarian melalui udara.

“Masyarakat juga sudah berusaha mencari, tapi batal karena mendengar kabar tempat jatuhnya sudah diketahui,” imbuh Gerson.

Saat jenazah digotong ke kantor distrik, terlihat sekali kerumunan masyarakat yang sudah menunggu sejak pesawat berangkat ke lokasi. Bahkan setibanya di kantor distrik yang bangunannya berbentuk panggung ini, tangisan kembali pecah terutama kaum perempuan, tidak ketinggalan anak-anak, tua maupun muda. Bahkan sungguh di luar dugaan ternyata nyaris seluruh masyarakat yang saat itu berada di Taife berkumpul untuk melepas sang pilot.

“Dia sudah sangat dekat dengan kami, dia bagai keluarga kami meski orang asing,” tutur seorang wanita setengah baya seraya mengusap pipinya.

Tangisan terdengar tak henti ketika jenazah diletakkan di ruangan sementara masayarakat terus mendesak masuk hingga ruangan terasa pengap. Di sela-sela tangisan itu ada yang mengunakan bahasa setempat dengan lantunan pantun yang jika diartikan menggunakan bahasa Indonesia memiliki maksud seakan mengelu-elukan.

Sekitar pukul 08.42 WIT akhirnya jenazah dikeluarkan dari kantor distrik dan diputuskan untuk dibawa ke Wamena menggunakan pesawat pilatus milik AMA yang memang sudah disiapkan dari pagi dilandasan. Tak lama kemudian rombongan kembali ke Jayapura dan sebelumnya masyarakat terlihat sempat mengucapkan terima kasih kepada tim evakuasi yang sudah membawa jenazah sang pilot meski dalam kondisi meninggal.
Sosok Dave tetap dianggap berharga dan berjasa di mata masyarakat kampung Taife.

Sementara itu dari Wamena dilaporkan, setibanya di Wamena, jenazah korban masih disemayamkan di hanggar Heli mission Wamena hingga Kamis (14/8) untuk menunggu kedatangan kedua putra Dave dari Amerika, Judah David Clapper dan Tirzah Rose Clapper untuk melihat jenazah ayahnya untuk kali terakhir.

Hal itu dibenarkan Kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto. “Jenazah korban rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum Sinagma, namun belum bisa dipastikan kapan pelaksanaan pemakamannya karena masih menunggu dua anak Dave yang tiba pada Kamis dari Amerika,” tegas Yanto ketika ditemui Cenderawasih Pos saat menjemput jenazah korban di hanggar pesawat Heli Mission Wamena kemarin.

“Seluruh masyarakat Papua khususnya yang berada di wilayah Pegunungan Tengah sangat kehilangan dengan kepergian Dave, lebih khusus pihak AMA ,” tambahnya.

Di kediaman Dave yang terletak di jalan Trikora Hom-Hom Wamena yang saat ini didiami Istri dan ketiga anaknya masih terlihat dalam suasana duka. Tak habis-habisnya warga masyarakat berdatangan silih berganti mengucapkan bela sungkawa. Bahkan krans bunga dari berbagai pihak mulai berdatangan sebagai tanda ucapan duka cita. Sampai berita ini ditulis situasi dan kondisi kota Wamena dalam keadaan aman dan kondusif. Pasca pengibaran bendera bintang kejora Sabtu (9/8) lalu tak mengurangi prosesi penjemputan jenazah korban.(ade/jk)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Avakuasi Jenazah Pilot AMA, Gagal

Agustus 13, 2008 at 1:13 am (musibah) (, , , )

pencarian pesawat ama yang jatuh

pencarian pesawat ama yang jatuh

*Akibat Cuaca Buruk, Tim SAR Sempat Sampai ke Lokasi
WAMENA-Meski lokasi letak jatuhnya pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) jenis pilatus porter PC-6 dengan nomor penerbangan PK – RCZ yang menewaskan pilot Dave Craig Clapper di Kampung Ndundu, wilayah Kabupaten Tolikara sudah diketahui, namun sampai hari kedua kemarin upaya evakuasi jenazah sang pilot belum membuahkan hasil.

Gagalnya evakuasi ini, akibat cuaca buruk dan sering berubah-ubah membuat tim SAR mengalami kesulitan melakukan pendaratan pesawat. Kendati pihak AMA sendiri sudah membuka basecamp di Taife II, dekat jatuhnya pesawat naas tersebut.

Tak tanggung-tanggung pihak AMA menurunkan seluruh kekuatannya untuk mencari kejelasan nasib sang Pilot. Bahkan 2 pesawat pilatus bersama 3 orang pilot disiapkan untuk mengevakuasi korban manakala evakuasi berhasil dilakukan.

Tak ketinggalan Manajer AMA Norbert turut dalam rombongan di Taife II. Disisi lain sejumlah armada pesawat di Sentani, Manokwari dan Nabire dalam posisi siap bila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membantu proses evakuasi.

Hal itu dibenarkan kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto ketika ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya siang kemarin.

“Proses evakuasi hari ini (kemarin, red) gagal dilakukan oleh tim SAR, karena cuaca yang berkabut dan sering berubah-ubah. Padahal tim SAR sudah berhasil mendaratkan pesawat tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat, namun harus kembali karena cuaca berkabut,” tegas Yanto.
“Atas musibah itu pihak AMA yang beroperasi di Wamena untuk sementara waktu tidak melayani penerbangan selama seminggu, bahkan Pihak AMA yang beroperasi di Papua pada umumnya baru mulai beroperasi Kamis (14/8),” ujarnya.

Proses evakuasi oleh tim SAR akan dilanjutkan hari ini dan berusaha semaksimal mungkin mengangkut jenazah Dave yang sangat dekat dengan masyarakat Papua itu.

“Kami sangat kehilangan dengan kepergian Dave itu,” ujar Yanto sedih.

Hal senada juga diungkapkan rekan seprofesi Clerence Togeretz, salah seorang pilot AMA yang lain. “Saya merasa sangat kehilangan dengan kepergian Dave, selain sebagai pilot, Dave adalah orang yang sangat baik dalam melayani masyarakat Papua, terutama bagi hamba Tuhan dalam pelayanan gereja,” ujarnya.

Gagalnya evakuasi jenazah pilot naas tersebut juga diakui Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Jayapura, Kolonel Dedy Permadi,SE.MMDS. Ia mengatakan, pihaknya belum berhasil membawa korban mengingat cuaca buruk dan terus berubah-ubah.

“Laporan yang kami terima pesawat sudah mendarat di tempat yang aman hanya saat akan melakukan evakuasi sedikit menyulitkan, sehingga kami putuskan hanya 4 orang yang turun mengamankan lokasi selanjutnya pesawat kembali,” ujar Dedy Permadi saat ditemui kemarin. Lokasi jatuhnya pesawat ini berada di daerah perbukitan Taife 2 dan Ndundu Kabupaten Tolikara dengan koordinat 03o 26′ 08″ Selatan dan 138o 21′ 58′ Timur. Lokasi tersebut berada di punggung sebuah bukit, namun cukup curam hingga sulit untuk dijangkau.

“Ada empat orang yang kami tinggalkan di lokasi terdiri dari 4 orang, 2 paskas dan 2 tim SAR dan rencananya besok pagi (hari ini) dilakukan pengambilan jenazah,” jelas Dedy yang juga pernah menjadi dosen di ACSC di Australia selama 2 tahun ini.

“Kami masih melakukan koordinasi dengan keluarga korban apa jenazah dikirim ke Wamena atau dibawa ke Sentani,” katanya mempertegas bahwa tidak ada muatan baik orang melainkan hanya barang seperti pakaian yang dibawa oleh sang pilot.

Disinggung penyebab jatuhnya pesawat, Dedy yang sebelumnya menjabat sebagai Komandar Kops Siswa Sesko AU di Lembang ini menjelaskan, hal tersebut menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT).

Sementara Mayor Pnb Jumarto saat ditanya wartawan setibanya di Hanggar TNI-AU usai dari lokasi menceritakan kesulitannya melakukan evakuasi, dimana setelah tiba di lokasi, tak lama kemudian daerah tersebut tertutup awan hingga diputuskan untuk pesawat kembali. Namun setelah 2 jam kemudian cuaca kembali jelek. Bahkan 2 pesawat jenis pilatus yang juga sempat ke lokasi akhirnya kembali dengan alasan yang sama.”Cuaca cepat sekali berubah,” katanya.

Dari lokasi jatuhnya tersebut dikatakan berada pada ketinggian 6200-6400 Feet antara pesawat dan bangkai pesawat sementara letak lokasi tersebut sekitar 7 mile dari Taife 2.

“Bangkai pesawat bisa dilihat jelas karena berada di atas perbukitan hanya kondisinya rusak parah karena terbelah menjadi 3 bagian,” ujar Mayor Jumarto.

Dikatakan pesawat tersebut diperkirakan jatuh akibat cuaca buruk lalu menabrak pohon hingga badan pesawat terpecah menjadi 3 bagian, dimana yang nampak ekor body tersebar dibawah pepohonan, sayap berada diatas pohon begitu pula dengan rover dan stabilizer yang tersangkut di pepohonan. “Hanya pesawat tidak meledak melainkan hanya terpecah-pecah,” ujarnya menggambarkan.
Rencananya hari ini (Selasa, 12/8) setelah dilakukan evakuasi jenazah akan dibawa ke Taife, namun jika tidak memungkinkan jenazah akan dibawa ke Ndundu.

Dalam pencarian kemarin, tim SAR (Search and Rescue) Nasional (Sarnas) dan Paskas TNI-AU melibatkan 12 orang. Mereka terdiri dari 5 crew pesawat, 3 personel paskas dan 4 personel Sarnas dengan menggunakan pesawat Super Puma dari skadron 6 dengan registrasi H-3211 yang dipiloti Mayor Pnb Jumarto dan Kapt Pnb Suryo.

Pesawat Super Puma ini berangkat dari hangar TNI-AU pukul 06.33 WIT langsung menuju lokasi jatuhnya pesawat. Hanya sayangnya karena faktor cuaca, pilot yang dipastikan tewas akhirnya tidak berhasil dievakuasi meski berhasil ditemukan.(jk/ade)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar