Jeritan, Hati Anak Negri………

Oktober 23, 2009 at 8:49 pm (kemerdekaan) (, , , )

Salam dan Hormat saya, Untuk semua Kaum Papua Yang berada dimana saja???? Sebelum saya melanjut kan apa yang akan saya muat, Sebagai Anak Negri, Saya mohon dukungan dan kerja sama yang baik, Dalam merebut kembali, Hak Kemerdekaan kita yang selama ini di tutupi, Oleh Bangsa Penjajah.

MERDEKA……………………………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sebagai Anak Papua, Pasti kita semua tau tentang Sejarah Tanah kita??? Bahwa kita adalah Bangsa tersendiri, Dan kita sudah MERDEKA, Tapi mengapa hak Kemerdekaan kita slalu di tutupi oleh Bangsa Indonesia?? Sudah jelas2 kita sangat jauh berbeda dengan ciri khas kita yang tersendiri dengan bangsa ini, Tapi mengapa kita masih saja hidup di bawah kaki mereka???? Ini yang kita harus hapus, Dengan semangat dan satu tujuan, Yaitu meraih kembali Hak Kemerdekaan kita yang hilang slama ini di rampas oleh bangsa penjajah.

Dengan demikian, Maka kita sebagai Anak – Anak Papua Dimana saja berada?? Mari kita bergabung angkat suara, Satukan tangan, Satukan Hati Kita mendukung Para Pejuang kita yang lg brjuang selama ini, Entah dimana mereka berada?? Kita wajib untuk memberi semangat dan dorongan serta tanggapan, Bahwa kita juga selalu ada di seblah mereka dalam merebut apa yang kita cari selama ini??

Dengan Perjuangan dari Orang orang tua kita yang telah tiada, Dengan nama dan Pekerjaan mreka yang belum sampai pada ujung nya, Dengan semangat perjuangan dari para leluhur kita, Mari semua yang ada demi kesejahteraan Bangsa kita dan kesuburan Tanah Papua, Mari satukan niat kita mengantar perjuangan ini sampai ke ujung kesuksesan, Dan meraih kembali Hak kita yang sebenar nya.

Mari bergabung, Satukan Tangan,Satukan suara, Satu tekat kita maju.Dalam hal apa pun kita tunjukan bahwa bangsa Papua tidak diam begitu saja diatas Tanah nya sendiri untuk di jajah, Tapi dia akan berjuang untuk mengusir semua kaum penjajah dan mendapat kan kembali Hak Kemerdekaan.

MERDEKA…………………………………………………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!1

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KNPB Klaim Bertanggungjawab

Agustus 19, 2009 at 9:38 am (kemerdekaan) (, , , )

19 Agustus 2009 07:57:11

Atas Pengibaran Bintang Kejora
JAYAPURA-Komite Nasional Papua Barat (KNPB) mengaku bertanggungjawab atas pengibaran bendera Bintang Kejora (BK) di Abe Pantai dan belakang Gedung FISIP Uncen Kampus Waena jelang peringatan HUT RI ke-64, Senin (17/8) lalu.

Bahkan, berbagai insiden penembakan yang terjadi di area PT Freeport, Timika dan Serui beberapa waktu lalu, juga diklaim merupakan bagian dari aksinya sebagai bentuk perlawanan kepada pemerintah RI maupun pemerintah daerah.

Sekjen KNPB Demus Wenda mengungkapkan, perlawanan akan terus dilakukan kepada pemerintah RI dan Pemda, selama aspirasinya yang menuntut digelarnya dialog dengan para pemegang kekuasaan tentang penentuan nasib sendiri (referendum) tidak direspon.

“Yang jelas selama aspirasi kami tidak direspon atau dijawab oleh pemerintah, maka perlawanan akan terus dilakukan. Perlawanan rakyat Papua ini merupakan cara terbaik setelah upaya-upaya melalui aksi demo dan diplomasi tidak ada hasilnya,” ujar Demus Wenda kepada Cenderawasih Pos, selasa (18/8).

Demus yang juga mengklaim sebagai juru bicara TPN/OPM ini, sengaja setiap melakukan aksi pengibaran bendera, pihaknya tidak selalu meninggalkan tempat. Hal ini dilakukan guna menghindari berbagai tindakan kekerasan yang akan dilakukan aparat keamanan dalam setiap mengatasi persoalan.

Sebenarnya, setiap melakukan aksi perlawanan, pihaknya akan berusaha melakukan dengan cara-cara ksatria dan gentlemen atau tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Hanya saja, pengalaman yang ada selama ini, aparat keamanan setiap menghadapi aksinya itu, selalu menggunakan cara-cara kekerasan.

“Jadi perlawanan yang kami lakukan ini sekaligus upaya menggugat pemerintah yang dinilai gagal melindungi rakyat Papua. Bagi kami rakyat Papua kehidupannya akan berubah lebih baik jika diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri,” ungkapnya.

Dikatakan, meski Pemerintah RI telah memberikan Otsus kepada Pemprov Papua, namun kenyataanya belum memberikan perubahan yang berarti bagi rakyat Papua. Justru yang terjadi selama ini, rakyat Papua hidup sengsara, tertindas dan masih mendapatkan perlakuan ketidakadilan di atas gelimpangan kekayaannya di tanahnya sendiri.

Karena itu, dirinya siap menghentikan berbagai perlawanan yang dilakukannya, selama Pemerintah RI dan Pemda memberikan ruang bagi rakyat Papua untuk dialog guna membicarakan berbagai persoalan-persoalan yang ada di tanah ini. Selama ruang dialog ini belum ada, maka sampai kapanpun perlawanan akan terus dilakukan.

Disinggung berbagai insiden penembakan di area Freepot Timika, Demus Wenda mengatakan, itu semua dilakukan atas perintah langsung Kwelik Kwalik. Perlawanan yang dilakukan itu, sebagai wujud protes dan menggugat atas ketidakadilan yang diterima rakyat selaku pemilik hak ulayat.

“Tanah dan kekayaan alam ini dikeruk oleh pihak lain, sementara rakyat sebagai pemiliknya justru hidup dalam suatu kondisi ketidakpastian dan penderitaan. Karena itu, untuk melawan terhadap berbagai rasa ketidakadilan yang terjadi di tanah ini, komponen rakyat Papua yang diback up kekuatan TPN/OPM akan terus melakukan perlawanan dalam bentuk apapun,” paparnya.

Apa tidak takut dikejar dan ditangkap aparat? Dengan suara lantang, Demus Wenda yang suka berpindah-pindah markas ini, mengaku tidak merasa takut dan gentar sedikitpun.

Baginya, selama perlawanan dan perjuangan yang dilakukan ini demi untuk membela rakyat Papua yang sedang tertindas, maka berbagai risiko yang akan terjadi siap dihadapi. (mud/fud)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Di Yapen, Polisi Baku Tembak Dengan OPM

Juli 7, 2009 at 4:30 am (kemerdekaan) (, , )

4 Juli 2009 15:48:44

1 Anggota OPM Ditangkap, 1 Menyerahkan Diri
JAYAPURA-Baku tembak antara anggota Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua dengan anggota TPN/OPM dilaporkan terjadi di Distrik Poiway, Waropen, Selasa (2/7) kemarin.

Dalam kontak tembak yang berlangsung beberapa saat dalam penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Eric Manitori itu, aparat dari Polres Kepulauan Yapen yang berjumlah 15 personel dan dibackup 5 personel TNI dari Kodim 1709, berhasil menangkap 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen.

Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya membenarkan adanya kejadian kontak tembak antara aparat keamanan dengann kelompok TPN/OPM tersebut.

“Kami telah berhasil melakukan penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM di wilaya Poiway, Waropen. Kami menduga kelompok ini merupakan pelarian dari Mamberamo Raya di bawah pimpinan Eric Manitori,” ungkap Kapolres Imam Setiawan, Jumat (3/7) kemarin.

Selain berhasil menangkap salah satu dari anggota TPN/OPM, pihaknya juga berhasil mengamankan ratusan barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.

Dari kejadian kontak tembak tersebut, lanjut Kapolres Imam Setiawan, anggota TPN/OPM berhasil melarikan diri masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.

Sehari kemudian (Jumat, 3/7), ujar Kapolres Imam Setiawan, seorang anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Yance Mabuai menyerahkan diri, setelah melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua.

“Kini keduanya telah berada di Polres Kepulauan Yapen dalam pemeriksaan secara intensif dalam rangka penyelidikan lebih lanjut,” ungkap Imam Setiawan.

Kapolres menegaskan bahwa saat ini pihaknya masih memburu TPN/OPM di bawah pimpinan Erik Manitori yang diduga kuat telah bersembunyi di hutan tersebut.

“Polres masih terus melakukan pengusutan terhadap para pelaku lainnya yang terdaftar dalam dokumen yang kami temukan setelah kontak senjata tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri saat dikonfirmasi juga membenarkan adanya kejadian penghadangan tersebut. Nurhabri menduga bahwa kelompok TPN/OPM tersebut diduga merupakan pecahan kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Decky Imbiri yang melakukan penguasaan Lapter Kapeso, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, selama beberapa minggu lalu.

“Bisa saja, itu bagian dari kelompok TPN/OPM yang sempat menguasai Lapter Kapeso. Apalagi, dari penghadangan itu, ditemukan dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso,” ungkap Nurhabri.

Saat ini, imbuh Nurhabri, aparat kepolisian setempat masih melakukan upaya pengejaran terhadap kelompok TPN/OPM yang melarikan diri ke dalam hutan tersebut.

Sebelumnya, Polda Papua berhasil menguasai Lapter Kapeso tersebut dari penguasaan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri dan mereka melarikan diri yang diperkirakan menuju ke arah Serui. (bat)

Barang bukti diamankan

1. 4 senjata api laras panjang rakitan.
2. 3 pistol rakitan.
3. 1 pelontar granat.
4. 4 sangkur.
5. 7 pisau tulang beracun.
6. 8 butir amunisi SS1.
7. 3 butir amunisi LE.
8. 3 butir amunisi moser.
9. 2 butir amunisi revolver.
10. 3 bendera bintang kejora.
11. 14 ikat kepala jimat warna merah.
12. 5 ikat kepala jimat warna hitam.
13. 16 kalung jimat.
14. 9 kalung salib.
15. 5 batu jimat.
16. 5 taring babi.
17. 7 seragam loreng OPM.
18. bahan makanan sagu.
19. 13 lembar kartu tanda anggota TPN/OPM 203.
20. dokumen rencana penyerangan bandara Kapeso.
21. 17 busur.
22. 144 anak panah.
23. 1 bambu runcing.
24. 1 rangsel militer.
25. 7 alkitab
26. 5 lembar foto.

Sumber Polres Kepulauan Yapen, Papua.

Permalink & Komentar

Bintang Kejora Berkibar di 5 Tempat

Juli 2, 2009 at 7:46 pm (kemerdekaan) (, , )

Kapolda: Itu Untuk Cari Perhatian Saja

JAYAPURA – Meski Polda Papua telah melakukan antisipasi terhadap 1 Juli yang diklaim merupakan HUT Organisasi Papua Merdeka, ternyata Bendera Bintang Kejora yang merupakan simbol Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilaporkan telah berkibar di 5 tempat berbeda di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom.

Setidaknya, Bendera Bintang Kejora dilaporkan telah ditancapkan di depan pagar SMPN 5 Keerom di Kampung Yanamaa, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, sekitar pukul 03.00 WIT kemarin. Tidak jauh dari tempat tersebut, ditemukan juga Bendera Bintang Kejora Dikibarkan di Kampung Workwama, Perkebunan Kelapa Sawit Pir 2 Arso, tepatnya di perbukitan dengan ketinggian sekitar 50 meter dari jalan utama.

Selain itu, dikabarkan juga, bendera bercorak cerah itu berkibar sekitar pukul 05.45 WIT di dua tempat terpisah di Sentani, Kabupaten Jayapura, yakni di atas sebuah gunung di belakang Koramil. Bendera di pasang badan salib. Sementara Bendera Bintang Kejora lainnya dikibarkan di ujung landasan Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.

Tidak hanya itu, bendera milik OPM tersebut diduga juga telah dikibarkan di sebuah tempat di Waena, yakni di daerah perbatasan antara Kota Jayapura dengan Kabupaten Jayapura.

Dari data yang dihimpun Cenderawasih Pos, 2 Bendera Bintang Kejora yang dilaporkan berkibar di Sentani diperkirakan telah dikibarkan sejak malam harinya dan baru diketahui pukul 06.00 WIT pagi hari, dan barang bukti berupa bendera tersebut khususnya di atas bukit langsung diamankan oleh pihak Koramil Sentani.

Kapolres Jayapura, AKBP Mathius Fakhiri SIK, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya aksi pengibaran bendera pada dua titik tersebut.

“Ya memang ada informasi yang kami dengar seperti itu adanya pengibaran bendera di Bandara Sentani dan di atas bukit di belakang Koramil Sentani,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos disela-sela anjangsana di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren YPKP Sentani, Rabu, (1/7).

Kata Kapolres, meski mengetahui ada informasi pengibaran bendera, namun barang bukti (BB) belum ditemukan. Untuk itu, penyidik akan mengkonfirmasikan ke pihak Koramil guna mengetahui secara pasti tentang permasalahan pengibaran Bintang Kejora itu.

Termasuk siapa saja yang mengetahui akan persoalan itu diharapkan partisipasinya memberikan informasi, termauk barang bukti kepada penyidik. “Namun persoalan itu akan tetap ditindaklanjuti untuk mengetahui siapa sebenarnya pelaku dan dalang utama pengibaran Bintang Kejora tersebut,” jelas Kapolres Fakhiri.

Menanggapi adanya pengibaran Bendera Bintang Kejora ini, Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yomboisembut menandaskan, bila dilihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aksi pengibaran bendera itu bukan dilakukan oleh masyarakat adat Papua, tapi pihak lain yang dengan sengaja memanfaatkan situasi yang ada guna mengkambing hitamkan orang atau organisasi tertentu.

Kedua, jika memang orang adat Papua yang mengibarkan, maka orang itu digunakan oleh para penguasa yang memiliki kuasa, uang dan fasilitas yang kemudian oknum itu menjadi agen provokasi.

“Saya lihat ini bermuara bagaimana penguasa itu menjerat organisasi tertentu ke masalah hukum. Contohnya saja yang dulu ditemukan di kantor DAP ada senjata, padahal mana ada kami punya senjata?,” tandas Forkorus di kediamannya, kemarin.

Menurutnya, setelah organisasi tersebut dijerat hukum, maka langkah selanjutnya penguasa itu membersihkan orang tadi gunakan itu guna tidak diketahui siapa yang menjadi pelaku yang sebenarnya.

Ditegaskan, jika dilihat dari lokasi pengibarannya, yaitu di belakang Koramil di Sentani, sudah pasti itu adalah orang pintar bukan orang bodoh. Dan orang itu sudah pasti diiming-iming dengan janji.

“Ya nyatakan bahwa pada dasarnya skenarionya sudah diatur sedemikin bagus untuk memojokan organisasi tertentu yang bertujuan memberikan efek jera,” tukasnya lagi.

Ia juga mempertanyakan bahwa kenapa selama ini jika pihak TNI yang menemukan dan menahan BB Bintang Kejora. Nah ini jelas suatu kejanggalan karena TNI tugasnya bertempur, dan kenapa itu tidak diserahkan ke Polisi yang punya kewenangan untuk melakukan penyidikan itu.

Ditambahkannya, setahu dirinya jika TPM menaikan Bintang Kejora, mereka tidak menaikan di belakang Kantor Koramil dan lainnya, tapi mengibarkan di markasnya atau tempat-tempat yang sudah dikhususkan. Dan itupun melalui prosesi penting, contohnya menyanyikan lagu kebangsaan.

Terkait dengan itu, diharapkan kepada masyarakat Papua supaya tetap tenang, jangan terpengaruh dengan isu yang tidak bertanggungjawab, jangan ikut jadi agen profokasi, supaya tidak terlibat dalam kasus hukum, karena itu tidak ada untungnya.

Sementara untuk Bendera Bintang Kejora yang berkibar di dua tempat di Kabupaten Keerom sempat diturunkan oleh anggota Polres Keerom setelah mendapatkan informasi dari masyarakat, selanjutnya diamankan ke Mapolres Keerom bersama kayu sekitar 3 meter yang digunakan untuk menancapkan bendera tersebut. Diketahui, bendera tersebut diperkirakan berukuran 1 meter x 72 cm. Hingga kini pelaku pengibaran belum diketahui, diduga mereka langsung melarikan diri setelah mengibarkan bendera tersebut, seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut. Hanya saja, Kapolda mengakui baru mendapatkan laporan pengibaran bendera bintang kejora tersebut di dua tempat di Keerom.

“Sesuai laporan yang saya terima hanya di daerah Keerom saja, itupun sudah diantisipasi,” kata Kapolda Bagus Ekodanto di Lapangan SPN Jayapura usai upacara HUT Bhayangkara ke-63, 1 Juli 2009 kemarin.

Kapolda mengatakan informasi yang diperolehnya, bahwa pengibaran bendera Bintang Kejora itu ditempatkan di depan pagar sekolah SMPN 1 Keerom dan beberapa meter jalan arah bukit di Kampung Workwama, Keerom.

Kapolda menilai pelaku yang mengibarkan merupakan masyarakat yang tidak puas, karena kesejahteraan atau hal lainnya sehingga melakukan hal tersebut. “Itu bentuk mencari perhatian saja,” ungkap Kapolda.

Yang jelas, tegas Kapolda Bagus Ekodanto, pelaku pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut, jelas melakuakn pelanggaran terhadap ketertiban umum. ” Mereka melanggar ketertiban umum, maksudnya dalam arti kepentingan orang per orang, bukan kelompok. Yang pasti, dilakukan oleh orang perorang dan sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggungjawab,” ujarnya.

Sementara itu ditanya kekuatan TPN/OPM di Papua? Kapolda mengakui belum tahu secara persis, namun yang jelas kelompok tersebut ada di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, perbatasan Papua New Guinie (PNG) namun relatif kecil jumlahnya.

Kapolda menegaskan bahwa pada peringatan HUT Bhayangkara 1 Juli 2009 ini, jauh relatif aman di seluruh Papua, apalagi kesadaran masyarakat juga makin meningkat, karena mereka mengetahui bahwa pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut merupakan kepentingan orang-orang tertentu saja.

Khusus di Tingginambut, Puncak Jaya, Kapolda mengungkapkan bahwa 3 hari lalu, sempat terjadi insiden penembakan terhadap iring-iringan masyarakat yang membawa bahan makanan lewat jalan dari dari Wamena-Mulia, namun namun tidak ada korban jiwa dan hanya mengenai kendaraan saja. “Tim saya dari Brimob juga sudah lidik di Tingginambut,” ujarnya.

Terkait dengan pengamanan Pemilu presiden yang sudah dekat, Kapolda menambahkan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan KPU Provinsi Papua untuk mempersiapkan Pemilu lebih baik, sehingga pihaknya berharap pelaksanaan Pilpres lebih baik dari Pemilu legislatif beberapa bulan lalu. “Semoga tidak terjadi ( gangguan keamanan, red) dan kita terus lakukan upaya untuk mengantisipasinya,” imbuhnya. (nls/bat)

Pengibaran Bintang Kejora di Papua

Pengibaran Bintang Kejora di Papua

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang Bapak yang Bijaksana dan Adil pada Bangsa nya sendiri

Agustus 15, 2008 at 6:28 pm (kemerdekaan) (, , , , )

Seorang Bapak yang merindukan Kemerdekaan Bangsa nya

Ada seorang bapak yang sudah berumur 70 lebih hampir mencapai 80 tahun, Selama dia mengabdi sebagai seorang penegak hukum (ABRI), Dia tidak pernah mengakui hukum yang berlaku di Tanah Dia sendiri ( PAPUA )

Saya kagum dengan bapak tersebut, Walaupun di saat Upacara  Bendera di Nyanyikan lagu Indonesia raya tanah air ku dia ngomong dengan tanah air mu bukan tanah air ku, Dia selalu berada pada posisi nya sendiri.

Menurut bapak tersebut dia adalah bangsa kulit hitam yang badaki, rambut keriting kusuk, Dia akan hormat dan akan mengakui bahwa PAPUA itu lah bangsa nya, Sedikit pun apa sebab nya dia ditanya bapak tersebut tidak pernah menyerah dari pertanyaan yang di kasih.

menurut dia sekalipun pangkat ku di copot, Seragam ku di lepas, Saya akan selalu siap menghadapi apa saja yang terjadi, karna ini bukan seragam ku. Ini adalah seragam kaum penjajah untuk apa saya yang harus pakai ? Saya malah akan berterimakasih pada TUHAN karna akhir nya saya bisa melepas kan semua yang menjadi kepunyaan kaum penjajah.

Saya adalah saya dan saya adalah Polisi BELANDA saya bukan Polisi NKRI itu prinsip dari bapak tersebut sampai saat ini, menurut dia bahwa apa yang dia saksikan di depan mata dengan apa yang di buat oleh bangsa Indonesia kepada bangsa nya sendiri, Itu akan tersimpang dalam ingatan dia, dan itu sudah menjadi luka hati yang dalam buat dia, Luka tersebut akan sembuh kalau bangsa PAPUA sudah terlepas dan mendapatkan hak Kemerdekaan nya kembali.

Sampai saat ini kalau dia bertemu dengan orang tersebut yang menjadi musuh nya, Sikap dan kelakuan dia tidak pernah berubah untuk menyapa mereka dengan baik, Karna setiap bertemu dengan mereka ingatan dia yang dulu itu akan kambul lagi dan emosi itu pasti muncul, Oleh sebab itu dia memilih untuk selalu di rumah saja dari pada harus keluar dan bertemu dengan bangsa penyamun di luar, Itu prinsip dari bapak tersebut sampai saat ini.

Kini dia hanya bisa bertanya pada diri sendiri, Sampai kapang kah ? Bangsa saya akan terlepas dari tangan orang – orang penyamun atau lintah darat, istilah khusus Bangsa pengisap darah ?

Permalink 1 Komentar