Debit Air Turun Akibat Kerusakan Cyclop
JAYAPURA- Direktur WWF-Indonesia Region Sahul Benja V Mambai mengungkapkan bahwa menurunnya tingkat kejernihan air bersih serta berkurangnya volume sumber air di daerah hilir, diakibatkan adanya potensi kerusakan lingkungan alam di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), utamanya di kawasan Cagar Alam Cyclop Sentani.
“ DAS adalah suatu wilayah daratan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut, dimana pengairannya sangat tergantung aktifitas daratan,” ujar Benja Mambai kepada Cenderawasih Pos disela-sela seminar hasil study keadaan DAS Sentani dan Tami di Aula F Mipa Uncen, Senin (10/8).
Jika DAS kondisinya telah mengalami kerusakan kata Benja Mambai, maka yang terjadi adalah titik-titik potensi penampungan atau penyimpanan air hampir tidak ada. Akibatnya yang terjadi adalah adanya penurunan sumber-sumber air di kawasan hilir.
Sementaraa itu, anggota Forum DAS Pemprov Papua Ir. J.P Satsuitubun mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, luas lahan kritis di Sub DAS Sentani (Hubay) adalah 819 Hektare atau 49,3 % dari luas Sub DAS. Untuk mengatasi lahan kritis itu, berbagai upaya telah dilakukan tapi hasilnya belum maksimal. “ Kekeruhan air sungai Hubay atau jembatan dua Sentani bukan dipicu oleh proses erosi pada saat hujan, tapi disebabkan oleh aktivitas pendulangan emas dibagian Sub DAS serta penggalian batu pada lereng-lereng gunung,” ujarnya dalam presentasi, kemarin.
Sementara itu, sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi Cagar Alam Cyclop sejumlah mahasiswa Universitas Yapis Papua Kampus Sentani Angkatan VI Tahun Akademik 2009/2010 mengadakan penghijauan, dengan menanam 500 pohon rambutan di lereng gunung Cyclop.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diikuti 78 orang dari beberapa Fakultas Uniyap seperti, Hukum, Ekonomi, Fisip dan juga Agama Islam. Menurut ketua panitia KKL, Yosep Jek mengatakan, kegiatan KKL yang diikuti mahasiswa semester VII tersebut dimulai pada 22 Juli s/d 15 Agustus 2009. (mud/cr-156)
Mahasiswa di Nabire Ancam Palang Bandara
16 Januari 2009 10:02:15
Jika Para Pengusaha Emas Tak Menggubris Kerusakan Lingkungan
NABIRE-Kerusakan lingkungan di area penambangan emas Bayabiru, Nabire, ternyata mendapat perhatian serius dari para pelajar dan mahasiswa di Nabire. Mereka pun meminta agar para penambang/pengusaha emas untuk memperhatikan hal tersebut. Jika tak digubris mereka pun mengancam akan memalang bandara di Nabire.
Kerisauan tentang kerusakan lingkungan ini disampaikan Titus Agimbau,SH, yang merupakan tokoh intelektual dari Suku Wolani. Dia meminta agar seluruh penambang Pengusaha emas yang ada di areal Bayabiru agar menghargai masyarakat setempat selaku pemilik hak ulayat.”Tolong jangan rusak lingkungan kami,” pintanya.
Para pelajar/mahasiswa asal Suku Wolani yang kini sedang sekolah dan kuliah di Nabire sangat menyesal atas terjadinya kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh para pengusaha emas diareal Bayabiru.
“Kami telah menyurati para pengusaha yang beroperasi di Bayabiru agar ada perhatian. Apabila tidak ada jawaban, maka para pelajar dan mahasiswa Suku Wolani akan memalang semua Armada penerbangan Hellykopter yang beroperasi di wilayah Bayabiru dalam kurun waktu satu hingga dua bulan, ini merupakan teguran dan perigatan.Dan bila tidak diindahkan maka peringatan ketiga itu langsung pemalangan di Bandara Nabire.
Dan pemalangan armada pemalangan itu dilakukan pada saat pihaknya mengajukan tuntutan ganti rugi kepada semua pengusaha atas kerusakan lingkungan yang telah ada di wilayah lokasi penambangan emas di Bayabiru.
Karena kini pihaknya telah menilai para pengusaha emas telah merusak lingkungan mereka bersama masa depannya.Dan kerusakan tersebut sudah tentu untuk 10 tahun mendatang generasinya akan sulit mendapatkan makanan dari alam yang ada ,karena sudah ada kerusakan di saat ini.(jon)