Untuk Alihkan Air Danau Tigi

Agustus 22, 2009 at 2:42 am (kelestarian alam) (, , , )

1 Agustus 2009 23:20:25

Juga Akan Jadi Sumber Energi PLTA
JAYAPURA- Seringnya Air Danau Tigi melimpah rupanya telah membuat jalan dan areal perkebunan di sekitarnya menjadi tergenang. Karena itu, di Danau Tigi yang terletak di Waghete itu kedepan oleh pemprov Papua akan dibuatkan sedotan raksasa untuk mengalihkan air danau yang kerap kali meluap setiap kali hujan deras.

Hal itu sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Papua Ir Jansen Monim, MT kepada Cenderawasihi Pos kemarin. “Jadi kedepan ini, kami akan berupaya membangun sedotan untuk mengalihkan air Danau Tigi di waghete,” ungkapnya.

Ia mengatakan, air Danau Tigi selalu melimpah pada musim penghujan saking banyaknya air selalu meluap hingga menggenangi areal disekitarnya baik jalan raya hingga areal perkebunan rakyat yang berada di daerah itu ikut terendam air. Sehingga tanaman di perkebunan itu menjadi rusak yang sudah tentu merugikan para petani.

Tidak hanya itu, lanjut Jansen Monim, jalan raya di dekat danau itu yang merupakan ruas Waghete – Enarotali juga ikut rusak karena terendam air, sehingga jalanan tersebut tidak bisa berfungsi maksimal akibatnya kegiatan masyarakat juga ikut terhambat. “Jadi meluapnya air sungai Danau Tigi ini sudah menyebabkan banyak kerusakan tidak hanya sarana dan prasarana infrastruktur saja tetapi juga areal perkebunan rakyat,” terangnya. Danau Tigi meluap karena hanya memiliki satu lubang pembuangan, itupun sangat sempit.

Karena itu kata Jansen Monim, pihaknya akan membangun sedotan raksasa untuk mengalihkan air Danau Tigi ke Sungai Yawei. Di Sungai Yawei aliran air ini akan difungsikan untuk energi listrik yakni pusat listrik tenaga air (PLTA). Dengan begitu air sungai yang dilihkan itu akan memiliki dua fungsi paket. Pertama untuk mengairi areal pertanian di Yawei yang selama ini hanya berharap pada air hujan dan kedua untuk energi pembangkit listrik di daerah Yawei maupun Waghete.

“Jadi dengan adanya sedotan ini ada dua fungsi yang bisa kita gunakan yaitu untuk membantu mengairi areal pertanian dan untuk energi pembangkit listrik atau PLTA di daerah itu,” tandasnya.(ta)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Debit Air Turun Akibat Kerusakan Cyclop

Agustus 19, 2009 at 1:00 am (kerusakan alam) (, , , , )

JAYAPURA- Direktur WWF-Indonesia Region Sahul Benja V Mambai mengungkapkan bahwa menurunnya tingkat kejernihan air bersih serta berkurangnya volume sumber air di daerah hilir, diakibatkan adanya potensi kerusakan lingkungan alam di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS), utamanya di kawasan Cagar Alam Cyclop Sentani.

“ DAS adalah suatu wilayah daratan ekosistem dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau laut, dimana pengairannya sangat tergantung aktifitas daratan,” ujar Benja Mambai kepada Cenderawasih Pos disela-sela seminar hasil study keadaan DAS Sentani dan Tami di Aula F Mipa Uncen, Senin (10/8).

Jika DAS kondisinya telah mengalami kerusakan kata Benja Mambai, maka yang terjadi adalah titik-titik potensi penampungan atau penyimpanan air hampir tidak ada. Akibatnya yang terjadi adalah adanya penurunan sumber-sumber air di kawasan hilir.

Sementaraa itu, anggota Forum DAS Pemprov Papua Ir. J.P Satsuitubun mengungkapkan, berdasarkan data yang ada, luas lahan kritis di Sub DAS Sentani (Hubay) adalah 819 Hektare atau 49,3 % dari luas Sub DAS. Untuk mengatasi lahan kritis itu, berbagai upaya telah dilakukan tapi hasilnya belum maksimal. “ Kekeruhan air sungai Hubay atau jembatan dua Sentani bukan dipicu oleh proses erosi pada saat hujan, tapi disebabkan oleh aktivitas pendulangan emas dibagian Sub DAS serta penggalian batu pada lereng-lereng gunung,” ujarnya dalam presentasi, kemarin.

Sementara itu, sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi Cagar Alam Cyclop sejumlah mahasiswa Universitas Yapis Papua Kampus Sentani Angkatan VI Tahun Akademik 2009/2010 mengadakan penghijauan, dengan menanam 500 pohon rambutan di lereng gunung Cyclop.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) yang diikuti 78 orang dari beberapa Fakultas Uniyap seperti, Hukum, Ekonomi, Fisip dan juga Agama Islam. Menurut ketua panitia KKL, Yosep Jek mengatakan, kegiatan KKL yang diikuti mahasiswa semester VII tersebut dimulai pada 22 Juli s/d 15 Agustus 2009. (mud/cr-156)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kerusakan Hutan Diperkirakan Capai 5 Juta HA

Juli 7, 2009 at 4:41 am (alam) (, )

¶ Topik SPM | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:16 | § Add a Comment

JAYAPURA-Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Ir Karjono, MP, mengungkapkan bahwa kerusakan hutan di Papua cukup mengkhawatirkan dan bisa dikatakan dalam kondisi lampu kuning. Sebab luas hutan yang mengalami kerusakan diperkirakan telah mencapai 5 juta HA.

“Bila dibandingkan dengan luas hutan kita yang da di Papua sekitar 330 juta HA, kerusakan hutan dan lahan yang potensial kritis sebesar 5 juta Ha tentunya masih kecil. Tetapi hal itu perlu mendapat perhatian serius,” ungkap Karjono saat ditemui Cenderawasih Pos di sela kegiatan Penyegaran Pengelolaan DAS Aparat Kehutanan Tahun 2009 di Hotel Relat, Rabu (3/6).

Dikatakan, dari 5 juta Ha areal hutan yang mengalami kerusakan dibagi dalam tiga kategori yaitu potensial kritis atau amat kritis, agak kritis dan kritis sekali. Sedangkan kondisi lahan yang masuk kategori kritis sekali menurut Karjono diperkirakan mencapai 3 juta Ha. “Ini diduga akibat adanya pertambahan penduduk,

perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurangnya keterpaduan antar sektor dan antar wilayah dari hulu hingga hilir dalam pengelolaan DAS,” jelasnya.

Untuk memperbaiki atau merehabilitasi lahan kritis tersebut, pemerintah bersama masyarakat menurutnya telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui program penyelamatan hutan, reboisasi, Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK).

“Semua itu merupakan dasar untuk mewujudkan perbaikan lingkungan penanggulangan bencana bajir, tanah longsor dan kekeringan secara terpadu, transparan dan partisipatif,” tambahnya.

Upaya rehabilitasilahan dan hutan yang mulai dilakukan sejak tahun 2004, menurut Karjono sudah mulai menampakan hasil. Dari program-program yang dilakukan, lahan dan hutan yang berhasil direhabilitasi sekitar 34.000 Ha.(ind)

Popularity: 12% [?]
Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua Kecewa
¶ Papua | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:15 | § Add a Comment

JAYAPURA-Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua yang juga gabungan penasehat hukum empat tersangka penyerangan Mapolsek Abepura pada Kamis (9/4) masing-masing Yance Yogobi, Dino Agubi, Andi Gobay dan Jhoni Hisage yang kini dalam proses penyidikan di Mapolda Papua mengaku kecewa dengan penyidik Polda Papua

Ketua Tim Penasehat Hukum keempat terdakwa, Gustaf Kawer, SH, mengaku kecewa [...]

Popularity: 13% [?]
Tiga Tahun Setelah itu, Pengungsi Asal West Papua di Australia Mendapat Izin Menetap
¶ Asiaoceania, Catatan Khusus | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 2:39 | § Add a Comment

Media NKRI memang jelas tidak memberitakan sedikitpun mengenai kemenangan diplomasi Papua Merdeka. Pada minggu ini, tepatnya 2 Juni 2009, Hermain Wainggai, salah seorang anak Alm. Thom Wainggai mendapat izin tinggal tetap di Australia.

Seperti dilaporkan dalam versi Inggris @westpapua.net, Julius Kogoya, Izack Marani dan Richard Rumbiak di samping Marike Tebay, Papuana Motte, William Omabak, dan [...]

Popularity: 15% [?]
Kelestarian Budaya Baliem Terancam Punah
¶ Masyarakat Adat | ©admin | @ Kamis, Juni 4, 2009 17:05 | § Add a Comment

WAMENA-Pimpinan Sanggar Seni Dani Baliem Wamena, Yoko Huby mengatakan, sejak berdiri pada 2002 lalu, hingga saat ini pihaknya belum mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya baik dalam bentuk bantuan maupun pembinaan.

“Kami sudah beberapa kali ajukan permohonan bantuan guna memajukan sanggar seni ini demi kelestarian budaya Baliem, tapi belum ada direspon dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) [...]

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

FINAL LIGA COPA YG TIDAK PROFESIONAL

Juni 28, 2009 at 10:21 pm (alam) ()

Pertaningan FINAL LIGA COPA INDONESIA antara PERSIPURA VS SRIWIJAYA FC Penuh dengan kecurangan dan
sangat tidak profesional,dengan kepemimpinan wasit yg tidak jujur dalam memimpin pertandingan.seharusnya
wasit harus tidak memihak pada satu tim,bagaimana persepakbolaan INDONESIA bisa maju dan berkembang.
wasit yang bernama PURWANTO sudah tidak layak untuk memimpin suatu pertandingan.karna faktor umur dan kwalitas sebagai WASIT tidak di miliki oleh PURWANTO.PURWANTO anda semestinya udah pensiun cos udah tua…..muka lho aja kelihatan sebagai orang yang tidak jujur dan mata duitan……..”DASAR WASIT ASUH”!!!!

Permalink & Komentar

Mahasiswa di Nabire Ancam Palang Bandara

Januari 17, 2009 at 1:08 am (kerusakan alam) (, , , )

16 Januari 2009 10:02:15

Jika Para Pengusaha Emas Tak Menggubris Kerusakan Lingkungan
NABIRE-Kerusakan lingkungan di area penambangan emas Bayabiru, Nabire, ternyata mendapat perhatian serius dari para pelajar dan mahasiswa di Nabire. Mereka pun meminta agar para penambang/pengusaha emas untuk memperhatikan hal tersebut. Jika tak digubris mereka pun mengancam akan memalang bandara di Nabire.
Kerisauan tentang kerusakan lingkungan ini disampaikan Titus Agimbau,SH, yang merupakan tokoh intelektual dari Suku Wolani. Dia meminta agar seluruh penambang Pengusaha emas yang ada di areal Bayabiru agar menghargai masyarakat setempat selaku pemilik hak ulayat.”Tolong jangan rusak lingkungan kami,” pintanya.

Para pelajar/mahasiswa asal Suku Wolani yang kini sedang sekolah dan kuliah di Nabire sangat menyesal atas terjadinya kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh para pengusaha emas diareal Bayabiru.

“Kami telah menyurati para pengusaha yang beroperasi di Bayabiru agar ada perhatian. Apabila tidak ada jawaban, maka para pelajar dan mahasiswa Suku Wolani akan memalang semua Armada penerbangan Hellykopter yang beroperasi di wilayah Bayabiru dalam kurun waktu satu hingga dua bulan, ini merupakan teguran dan perigatan.Dan bila tidak diindahkan maka peringatan ketiga itu langsung pemalangan di Bandara Nabire.

Dan pemalangan armada pemalangan itu dilakukan pada saat pihaknya mengajukan tuntutan ganti rugi kepada semua pengusaha atas kerusakan lingkungan yang telah ada di wilayah lokasi penambangan emas di Bayabiru.

Karena kini pihaknya telah menilai para pengusaha emas telah merusak lingkungan mereka bersama masa depannya.Dan kerusakan tersebut sudah tentu untuk 10 tahun mendatang generasinya akan sulit mendapatkan makanan dari alam yang ada ,karena sudah ada kerusakan di saat ini.(jon)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar