Berdiri Megah Tanpa Izinla Para Jenderal di Puncak (1) Berdiri Megah Tanpa Izin

September 4, 2010 at 5:05 am (kerusakan alam) (, , )

Selasa, 20/02/2007 08:15 WIB

Jakarta – Kawasan puncak selaku daerah hulu terus dituding sebagai faktor penting penyebab banjir Jakarta pada awal Februari 2007. Alasannya karena banyak hutan lindung sebagai lahan resapan banyak yang berganti menjadi vila-vila mewah. Pemerintah Kabupaten Bogor sebagai pemegang otoritas kawasan tersebut enggan disalahkan. Pasalnya vila-vila tersebut merupakan investasi orang-orang kaya di Jakarta, terutama para pejabat dan mantan pejabat pemerintahan pusat. Wakil Bupati Bogor Albert Pribadi secara tegas menyatakan akan menindak vila-vila milik pejabat dan pengusaha yang bercokol di puncak. Salah satu sasaran penertiban adalah kompleks peristirahatan purnawirawan jenderal TNI. Lokasi vila tersebut berada di ujung jalan Blok Citamiang, Kampung Ciburial, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Ada dua versi nama kompleks vila tersebut. Sebagian warga setempat menyebut lokasi vila itu bernama Kompleks Graha Respati. Namun, sebagian warga yang lain mengatakan kompleks itu bernama Kompleks Bukit Sehati. “Penjaga vila Pak Wiranto sering datang ke sini membeli kebutuhannya,” ujar Nining, pemilik warung yang berjarak 500 meter dari kompleks vila tersebut. Ia juga mengaku pernah melihat penjaga vila yang ditengarai milik Wiranto memasang plang penunjuk arah dengan nama Bukit Sehati di pertigaan Citamiang. Kompleks vila tersebut berada di lahan seluas 20 hektar. Empunya vila antara lain Wiranto, mantan Panglima Kodam Jaya Letjen Djadja Suparman, Gubernur DKI Sutiyoso, Haris Sudarno, HBL Mantiri, mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, mantan Mensesneg Moerdiono, mantan Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo, pengusaha King Juwono, Moetojib, dan Suryadi. Namun, pada tahun 2002 vila milik Sutiyoso sudah dibongkar. Luas lahan yang dimiliki para pejabat ini bervariasi. Tjokropranolo punya tanah seluas 4.976 meter persegi. Tanah Djaja Suparman seluas 5.645, vila mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman berdiri di atas lahan 6.410 meter persegi, lahan Suryadi seluas 7.100 meter persegi, pengusaha King Juwono memiliki tiga kavling masing-masing seluas 3.405, 7074, dan 1.015, Moetojib punya dua kavling, yakni 4.800 meter persegi dan 16.000 meter persegi, mantan Mensesneg Moerdiono punya 3.000 meter persegi, dan HBL Mantiri 10.250 meter. Untuk mencapai ke lokasi, pengendara mobil harus ekstra hati-hati. Selain jalannya menanjak dan penuh dengan tikungan tajam, badan jalan juga relatif sempit. Terutama jarak satu kilometer menuju Bukit Sehati yang hanya bisa dilalui satu mobil. Lokasi Bukit Sehati berjarak sekitar 3 kilo meter dari jalan raya Puncak. Dari pengamatan detikcom, kompleks tersebut berada di areal hutan pinus yang merupakan kawasan hutan lindung. Hanya ada sebuah pintu masuk ke areal kompleks tersebut. Pintu masuk itu selalu tertutup.

Menurut keterangan warga setempat, hanya Wiranto yang sering terlihat datang ke sana. Mungkin lantaran wajah mantan Menham Pangab itu sudah familiar di publik. Kalau berkunjung ke vila tersebut Wiranto sering menggunakan kendaraan jenis SUV berwarna hitam. Tapi ada juga pemilik vila itu yang menjadikannya tempat tinggal. Mantan Duta Besar Singapura Herman Bernhard Leopold (HBL) Mantiri, pada Kamis, (15/2/2007), mengurus kependudukan di Kantor Desa Tugu Utara. “Pak Mantiri sedang ngurus surat pindah. Makanya dia lagi bikin KTP daerah sini,” ujar Sekretaris Desa Tugu Utara Asep Ma’mun Nawawi. Mantan Wakasum ABRI, yang dituding terlibat kasus Timor Timur ini sebelumnya tinggal di wilayah Kota Bogor. Sementara vila yang dibangunnya sejak tahun 1992 itu hanya dijadikan tempat peristirahatan. Kini ketika usia semakin menua Mantiri memutuskan untuk menetap di vila tersebut. Selain para mantan petinggi militer, di Desa Tugu Utara yang memiliki luas 1.703 hektar ini, juga berdiri vila-vila milik pengusaha dan para artis. Di antaranya, Tomy Winata, Rima Melati, Almarhum pelawak Dono, dan Yesi Gusman. Hanya saja para artis ini berada di Blok yang berbeda. Vila milik Rima Melati dan Dono berada di Blok Batu Karaton, Kampung Ciburial, Tugu Utara. Sedangkan Artis Yesi Gusman dan Tomi Winata di Blok Baru Jeruk di kampung yang sama. Dari beberapa nama orang top tersebut, hanya vila Yesi Guswan yang kerap dikunjungi. Hampir setiap minggu pemeran Ratna dalam film Gita Cinta Dari SMA itu membawa teman-teman untuk melakukan pengajian di vilanya. Sementara vila milik Bos Arta Graha, yang berjarak 100 meter dari vila milik Yesi Gusman, hanya didatangi setahun sekali. “Tomy datang setiap awal Ramadhan untuk bagi-bagi sembako ke warga sini,” kata Dayat, penarik ojek yang mangkal di mulut gang Kampung Ciburial. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), juga disebut-sebut memiliki vila di daerah itu. Bahkan dua minggu sebelum Pilpres gelombang ke dua, SBY ditemani Ani Yudhoyono dan kedua putranya, Agus Haris Murti Yudhoyono dan Edhi Baskoro Yudhoyono sempat menginap di sana.

Bukti kehadiran SBY juga diabadikan dalam bentuk album foto yang terpajang di ruang tamu vila. Dalam foto tersebut terlihat SBY tengah melakukan jogging di sekitar vila. Sementara di foto-foto lainnya terlihat SBY sedang duduk-duduk bersama koleganya di teras vila. Namun ketika dikonfirmasi, Adang Jeki, penjaga vila itu menolak tegas bahwa vila tersebut milik SBY. Menurutnya, vila itu adalah milik H. Harris, kolega SBY. Kini Harris menjabat sebagai Ketua Majelis Zikir SBY Nurrusalam. “Sebelum jadi presiden SBY sering ke sini. Terakhir sebelum pemilihan presiden yang kedua,” ujar Adang, yang sudah menjaga vila tersebut sejak tahun 1991. Bapak dua anak ini menuturkan, SBY bila ke vila itu selalu ditemani keluarganya. Aktivitas yang sering dilakukan adalah menyanyi bersama. Di vila tersebut dilengkapi sebuah piano. Kompleks vila yang sering didatangi SBY terdapat tiga bangunan yang materialnya didominasi kayu dan batu bata merah yang tidak diaci atau disemen. Ukuran dan kapasitas vila-vila tersebut bervariasi.

Ada yang berkapasitas empat kamar, enam kamar, dan delapan kamar. Nah, di vila yang berkapasitas delapan kamar inilah SBY selalu menginap bersama keluarga. Areal vila seluas lima ribu meter persegi ini jaraknya 1,5 kilo meter sebelum kompleks vila milik Wiranto. Kabarnya, sebelum dimiliki Harris, vila itu merupakan milik Bos Bogasari Franciscus “Frangky” Welirang. Tapi entah mengapa di tahun 1991 menantu Liem Sioe Liong ini kemudian menjualnya ke Harris. Kini vila-vila yang berdiri di atas tanah garapan dan tanpa memiliki izin, tengah disorot publik. Pemda Kabupaten Bogor sempat mengancam akan menindak kompleks vila itu karena berdiri tanpa izin. Tapi sepertinya dibutuhkan keberanian ekstra dari Pemda Kabupaten Bogor untuk bisa menertibkannya. (dik) (Deden Gunawan dan Moehammad Samoedera Harapan/)

Jakarta – Kawasan puncak selaku daerah hulu terus dituding sebagai faktor penting penyebab banjir Jakarta pada awal Februari 2007. Alasannya karena banyak hutan lindung sebagai lahan resapan banyak yang berganti menjadi vila-vila mewah. Pemerintah Kabupaten Bogor sebagai pemegang otoritas kawasan tersebut enggan disalahkan. Pasalnya vila-vila tersebut merupakan investasi orang-orang kaya di Jakarta, terutama para pejabat dan mantan pejabat pemerintahan pusat. Wakil Bupati Bogor Albert Pribadi secara tegas menyatakan akan menindak vila-vila milik pejabat dan pengusaha yang bercokol di puncak. Salah satu sasaran penertiban adalah kompleks peristirahatan purnawirawan jenderal TNI. Lokasi vila tersebut berada di ujung jalan Blok Citamiang, Kampung Ciburial, Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Ada dua versi nama kompleks vila tersebut. Sebagian warga setempat menyebut lokasi vila itu bernama Kompleks Graha Respati. Namun, sebagian warga yang lain mengatakan kompleks itu bernama Kompleks Bukit Sehati. “Penjaga vila Pak Wiranto sering datang ke sini membeli kebutuhannya,” ujar Nining, pemilik warung yang berjarak 500 meter dari kompleks vila tersebut. Ia juga mengaku pernah melihat penjaga vila yang ditengarai milik Wiranto memasang plang penunjuk arah dengan nama Bukit Sehati di pertigaan Citamiang. Kompleks vila tersebut berada di lahan seluas 20 hektar. Empunya vila antara lain Wiranto, mantan Panglima Kodam Jaya Letjen Djadja Suparman, Gubernur DKI Sutiyoso, Haris Sudarno, HBL Mantiri, mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, mantan Mensesneg Moerdiono, mantan Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo, pengusaha King Juwono, Moetojib, dan Suryadi. Namun, pada tahun 2002 vila milik Sutiyoso sudah dibongkar. Luas lahan yang dimiliki para pejabat ini bervariasi. Tjokropranolo punya tanah seluas 4.976 meter persegi. Tanah Djaja Suparman seluas 5.645, vila mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman berdiri di atas lahan 6.410 meter persegi, lahan Suryadi seluas 7.100 meter persegi, pengusaha King Juwono memiliki tiga kavling masing-masing seluas 3.405, 7074, dan 1.015, Moetojib punya dua kavling, yakni 4.800 meter persegi dan 16.000 meter persegi, mantan Mensesneg Moerdiono punya 3.000 meter persegi, dan HBL Mantiri 10.250 meter. Untuk mencapai ke lokasi, pengendara mobil harus ekstra hati-hati. Selain jalannya menanjak dan penuh dengan tikungan tajam, badan jalan juga relatif sempit. Terutama jarak satu kilometer menuju Bukit Sehati yang hanya bisa dilalui satu mobil. Lokasi Bukit Sehati berjarak sekitar 3 kilo meter dari jalan raya Puncak. Dari pengamatan detikcom, kompleks tersebut berada di areal hutan pinus yang merupakan kawasan hutan lindung. Hanya ada sebuah pintu masuk ke areal kompleks tersebut. Pintu masuk itu selalu tertutup.

Menurut keterangan warga setempat, hanya Wiranto yang sering terlihat datang ke sana. Mungkin lantaran wajah mantan Menham Pangab itu sudah familiar di publik. Kalau berkunjung ke vila tersebut Wiranto sering menggunakan kendaraan jenis SUV berwarna hitam. Tapi ada juga pemilik vila itu yang menjadikannya tempat tinggal. Mantan Duta Besar Singapura Herman Bernhard Leopold (HBL) Mantiri, pada Kamis, (15/2/2007), mengurus kependudukan di Kantor Desa Tugu Utara. “Pak Mantiri sedang ngurus surat pindah. Makanya dia lagi bikin KTP daerah sini,” ujar Sekretaris Desa Tugu Utara Asep Ma’mun Nawawi. Mantan Wakasum ABRI, yang dituding terlibat kasus Timor Timur ini sebelumnya tinggal di wilayah Kota Bogor. Sementara vila yang dibangunnya sejak tahun 1992 itu hanya dijadikan tempat peristirahatan. Kini ketika usia semakin menua Mantiri memutuskan untuk menetap di vila tersebut. Selain para mantan petinggi militer, di Desa Tugu Utara yang memiliki luas 1.703 hektar ini, juga berdiri vila-vila milik pengusaha dan para artis. Di antaranya, Tomy Winata, Rima Melati, Almarhum pelawak Dono, dan Yesi Gusman. Hanya saja para artis ini berada di Blok yang berbeda. Vila milik Rima Melati dan Dono berada di Blok Batu Karaton, Kampung Ciburial, Tugu Utara. Sedangkan Artis Yesi Gusman dan Tomi Winata di Blok Baru Jeruk di kampung yang sama. Dari beberapa nama orang top tersebut, hanya vila Yesi Guswan yang kerap dikunjungi. Hampir setiap minggu pemeran Ratna dalam film Gita Cinta Dari SMA itu membawa teman-teman untuk melakukan pengajian di vilanya. Sementara vila milik Bos Arta Graha, yang berjarak 100 meter dari vila milik Yesi Gusman, hanya didatangi setahun sekali. “Tomy datang setiap awal Ramadhan untuk bagi-bagi sembako ke warga sini,” kata Dayat, penarik ojek yang mangkal di mulut gang Kampung Ciburial. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), juga disebut-sebut memiliki vila di daerah itu. Bahkan dua minggu sebelum Pilpres gelombang ke dua, SBY ditemani Ani Yudhoyono dan kedua putranya, Agus Haris Murti Yudhoyono dan Edhi Baskoro Yudhoyono sempat menginap di sana.

Bukti kehadiran SBY juga diabadikan dalam bentuk album foto yang terpajang di ruang tamu vila. Dalam foto tersebut terlihat SBY tengah melakukan jogging di sekitar vila. Sementara di foto-foto lainnya terlihat SBY sedang duduk-duduk bersama koleganya di teras vila. Namun ketika dikonfirmasi, Adang Jeki, penjaga vila itu menolak tegas bahwa vila tersebut milik SBY. Menurutnya, vila itu adalah milik H. Harris, kolega SBY. Kini Harris menjabat sebagai Ketua Majelis Zikir SBY Nurrusalam. “Sebelum jadi presiden SBY sering ke sini. Terakhir sebelum pemilihan presiden yang kedua,” ujar Adang, yang sudah menjaga vila tersebut sejak tahun 1991. Bapak dua anak ini menuturkan, SBY bila ke vila itu selalu ditemani keluarganya. Aktivitas yang sering dilakukan adalah menyanyi bersama. Di vila tersebut dilengkapi sebuah piano. Kompleks vila yang sering didatangi SBY terdapat tiga bangunan yang materialnya didominasi kayu dan batu bata merah yang tidak diaci atau disemen. Ukuran dan kapasitas vila-vila tersebut bervariasi.

Ada yang berkapasitas empat kamar, enam kamar, dan delapan kamar. Nah, di vila yang berkapasitas delapan kamar inilah SBY selalu menginap bersama keluarga. Areal vila seluas lima ribu meter persegi ini jaraknya 1,5 kilo meter sebelum kompleks vila milik Wiranto. Kabarnya, sebelum dimiliki Harris, vila itu merupakan milik Bos Bogasari Franciscus “Frangky” Welirang. Tapi entah mengapa di tahun 1991 menantu Liem Sioe Liong ini kemudian menjualnya ke Harris. Kini vila-vila yang berdiri di atas tanah garapan dan tanpa memiliki izin, tengah disorot publik. Pemda Kabupaten Bogor sempat mengancam akan menindak kompleks vila itu karena berdiri tanpa izin. Tapi sepertinya dibutuhkan keberanian ekstra dari Pemda Kabupaten Bogor untuk bisa menertibkannya. (dik) (Deden Gunawan dan Moehammad Samoedera Harapan/)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.