Diduga Kelompok TPN/OPM Pimpinan Erick Manitori

Juli 15, 2009 at 1:32 am (pelanggaran HAM) (, , , )

14 Juli 2009 00:24:24

Kasus Baku Tembak di Kepulauan Yapen
JAYAPURA-Insiden kontak tembak yang terjadi di Kampung Mantembu, Kelurahan Anotauri, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua yang terjadi, Sabtu (10/7) pukul 11.00 WIT lalu, diperkirakan pelakunya berasal dari kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori.

“Ya, memang diduga pelakunya diduga kuat dari kelompok TPN/OPM pimpinan Erick Manitori atau kelompok Serui istilahnya,” ungkap Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri ketika ditanya Cenderawasih Pos di Mapolda Papua, Senin (13/7) kemarin.

Kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori sebelumnya sempat terlibat kontak senjata dengan aparat kepolisian di Poiway, Kabupaten Kepulauan Yapen beberapa hari lalu dan dalam kontak tembak ini, salah seorang anggota TPN/OPM bernama Natanael Runggaimusi warga Korongbobi, Serui ini sempat ditangkap polisi.

Mereka diduga merupakan kelompok TPN/OPM yang melarikan diri usai Polda Papua berhasil menguasai Lapter Kapeso yang sempat diduduki selama hampir 1 bulan oleh kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri tersebut.

Yang jelas, kata Nurhabri, Polres Kepulauan Yapen sampai saat ini masih melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pelaku penyerangan terhadap 9 anggota Polres setempat yang sempat melakukan patroli dan menangkap dua orang yang diduga sebagai anggota TPN/OPM di Kampung Mantembu, Kelurahan Anotauri tersebut.

Soal serangan mortir dan granat yang diduga digunakan untuk menyerang polisi oleh kelompok TPN/OPM itu, Nurhabri mengakui bahwa faktanya di lapangan yang terjadi memang seperti itu.

“Kita tidak bisa menduga-duga. Faktanya memang ada mortir, masalah dapatnya darimana, nantilah! Kami akan ungkap semuanya itu,” ujar Nurhabri.

Dikatakan, kejadian penyerangan yang dilakukan oleh kelompok TPN/OPM itu susah dipresiksi di mana akan dilakukan, apalagi medan di Papua cukup sulit.

“Seandainya diketahui, ya bisa saja diatasi, tapi ini kejadiannya biasanya di tempat-tempat yang ekstrim atau tempat yang memiliki medan yang sulit, karena di situ pengamanan kurang dan kesempatan itu dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut untuk melakukan penyerangan,” paparnya.

Meski demikian, Plh Kabid Humas Nurhabri mengakui bahwa aparat kepolisian terus berupaya meningkatkan patroli untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebelumnya, dilaporkan 9 anggota Polres Kepulauan Yapen yang sedang melakukan patroli di Kampung Mantembu Kelurahan Anotauri, Sabtu (10/7) pukul 09.30 WIT lalu.

Kejadian kontak tembak dengan kelompok yang tidak dikenal tersebut, berawal ketika 9 anggota Polres Kepulauan Yapen melakukan patroli ke Kampung Mantembu Kelurahan Anotaurei dan saat itu berhasil menangkap 2 orang yang diduga kelompok TPN/OPM yang beroperasi di daerah tersebut.

Kedua anggota TPN/OPM tersebut, diketahui bernama Policarmus Ambokari (30) seorang petani warga Kampung Mantembu, Warmetan (23) seorang buruh TKBM.

Setelah itu, kedua orang yang diduga TPN/OPM tersebut dibawa turun oleh pasukan untuk dibawa ke Mapolres Kepulauan Yapen, namun tiba-tiba diserang dengan mortir dan rentetan senjata otomatis sekitar pukul 11.30 WIT.

Nurhabri mengungkapan usai terjadi kontak senjata tersebut, polisi sempat melakukan pengejaran dan melakukan penyisirian di sekitar arah tempat penyerang.

“Selain menangkap dua orang yang diduga kuat sebagai anggota TPN/OPM, juga kami berhasil mengamankan 1 buah granat, parang, dokumen-dokumen dan pakaian,” imbuhnya.(bat)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

11 Anggota Brimob Diperiksa

Juli 7, 2009 at 4:59 am (kekerasan) (, , )

04 Juli 2009 15:47:49
Terkait Bentrok di Paniai
JAYAPURA-Bentrok antara masyarakat dengan aparat Brimob di Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai yang berujung tewasnya 1 warga dan 4 orang luka-luka termasuk anggota Brimob, masih terus diselidiki Polda Papua.

Bahkan, Polda Papua kini telah melakukan pemeriksaan terhadap 11 anggota Brimob yang terlibat dalam kasus tersebut, termasuk beberapa warga masyarakat juga telah dimintai keterangannya.

Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan pihaknya sudah memintai keterangan terhadap 11 anggota Brimob dan beberapa saksi dari warga. “Penembakan yang dilakukan oleh anggota Brimob dalam insiden itu, sudah sesuai dengan prosedur,” ungkap Nurhabri, Jumat (3/7) kemarin.

Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi itu, lanjut Nurhabri, diketahui bahwa insiden bentrokan tersebut bermula ketika masyarakat dari Marga Boma mendatangi rumah Yosias Degey di Aikai sambil melakukan tarian adat untuk menuntut denda atas dugaan keluarga mereka yang diduga dibunuh oleh keluarga Degey pada 13 Juni 2009 lalu.

Bahkan, masyarakat dari Marga Boma tersebut kemudian melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey. Sementara itu, anggota Brimo yang di BKO-kan di Polres Paniai saat itu baru pulang dari Mapolresta setelah apel pagi.

Tidak jauh dari Pos Brimob tersebut, anggota Brimob melihat masyarakat dari keluarga Boma sudah melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey, sehingga anggota Brimob yang berjumlah 11 orang tersebut berusaha untuk melerainya.

Namun, saat itu justru anggota Brimob tersebut diserang ratusan masyarakat dari keluarga Boma tersebut dengan parang, panah, kapak, batu dan kayu. “Anggota sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke atas, namun massa tetap anarkis bahkan ada yang berusaha merebut senjata anggota Brimob, sehingga anggota langsung melakukan tembakan untuk melumpuhkan. Itu pun dengan peluru karet,” jelas Nurhabri.

Nurhabri mengungkapkan pemicunya sebenarnya masalah tuntuan keluarga Boma yang meminta denda adat kepada marga Degey. “Dua hari sebelum Manis Boma meninggal, sempat bertengkar dengan salah seorang dari marga Degey sehingga diklaim mereka sebagai penyebab meninggalnya Manis Boma tersebut, padahal korban meninggal karena sakit jantung,” ungkapnya.

Ditambahkan, pasca terjadinya bentrok tersebut, sampai saat ini situasi di Enarotali, Kabupaten Paniai dalam keadaan aman. “Sekarang sudah aman dan masyarakat sudah beraktifitas seperti biasanya,” imbuhnya.

Sementara itu, dari kejadian itu terjadi korban tewas Matheus Boma (54) terkena tembakan, Marthen Pigay (27) terkena tembak di paha kanan, Simon Keiye (25) luka tembak di bagian kakikiri, Pentetius Boma (50) luka tembak paha kanan dan Bripda Faizal (24) luka panah di pantatnya dan mendapatkan 5 jahitan. “Korban luka semua dirawat di Paniai dan kini sudah membaik,” pungkasnya. (bat)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kerusakan Hutan Diperkirakan Capai 5 Juta HA

Juli 7, 2009 at 4:41 am (alam) (, )

¶ Topik SPM | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:16 | § Add a Comment

JAYAPURA-Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Ir Karjono, MP, mengungkapkan bahwa kerusakan hutan di Papua cukup mengkhawatirkan dan bisa dikatakan dalam kondisi lampu kuning. Sebab luas hutan yang mengalami kerusakan diperkirakan telah mencapai 5 juta HA.

“Bila dibandingkan dengan luas hutan kita yang da di Papua sekitar 330 juta HA, kerusakan hutan dan lahan yang potensial kritis sebesar 5 juta Ha tentunya masih kecil. Tetapi hal itu perlu mendapat perhatian serius,” ungkap Karjono saat ditemui Cenderawasih Pos di sela kegiatan Penyegaran Pengelolaan DAS Aparat Kehutanan Tahun 2009 di Hotel Relat, Rabu (3/6).

Dikatakan, dari 5 juta Ha areal hutan yang mengalami kerusakan dibagi dalam tiga kategori yaitu potensial kritis atau amat kritis, agak kritis dan kritis sekali. Sedangkan kondisi lahan yang masuk kategori kritis sekali menurut Karjono diperkirakan mencapai 3 juta Ha. “Ini diduga akibat adanya pertambahan penduduk,

perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurangnya keterpaduan antar sektor dan antar wilayah dari hulu hingga hilir dalam pengelolaan DAS,” jelasnya.

Untuk memperbaiki atau merehabilitasi lahan kritis tersebut, pemerintah bersama masyarakat menurutnya telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui program penyelamatan hutan, reboisasi, Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK).

“Semua itu merupakan dasar untuk mewujudkan perbaikan lingkungan penanggulangan bencana bajir, tanah longsor dan kekeringan secara terpadu, transparan dan partisipatif,” tambahnya.

Upaya rehabilitasilahan dan hutan yang mulai dilakukan sejak tahun 2004, menurut Karjono sudah mulai menampakan hasil. Dari program-program yang dilakukan, lahan dan hutan yang berhasil direhabilitasi sekitar 34.000 Ha.(ind)

Popularity: 12% [?]
Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua Kecewa
¶ Papua | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:15 | § Add a Comment

JAYAPURA-Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua yang juga gabungan penasehat hukum empat tersangka penyerangan Mapolsek Abepura pada Kamis (9/4) masing-masing Yance Yogobi, Dino Agubi, Andi Gobay dan Jhoni Hisage yang kini dalam proses penyidikan di Mapolda Papua mengaku kecewa dengan penyidik Polda Papua

Ketua Tim Penasehat Hukum keempat terdakwa, Gustaf Kawer, SH, mengaku kecewa [...]

Popularity: 13% [?]
Tiga Tahun Setelah itu, Pengungsi Asal West Papua di Australia Mendapat Izin Menetap
¶ Asiaoceania, Catatan Khusus | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 2:39 | § Add a Comment

Media NKRI memang jelas tidak memberitakan sedikitpun mengenai kemenangan diplomasi Papua Merdeka. Pada minggu ini, tepatnya 2 Juni 2009, Hermain Wainggai, salah seorang anak Alm. Thom Wainggai mendapat izin tinggal tetap di Australia.

Seperti dilaporkan dalam versi Inggris @westpapua.net, Julius Kogoya, Izack Marani dan Richard Rumbiak di samping Marike Tebay, Papuana Motte, William Omabak, dan [...]

Popularity: 15% [?]
Kelestarian Budaya Baliem Terancam Punah
¶ Masyarakat Adat | ©admin | @ Kamis, Juni 4, 2009 17:05 | § Add a Comment

WAMENA-Pimpinan Sanggar Seni Dani Baliem Wamena, Yoko Huby mengatakan, sejak berdiri pada 2002 lalu, hingga saat ini pihaknya belum mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya baik dalam bentuk bantuan maupun pembinaan.

“Kami sudah beberapa kali ajukan permohonan bantuan guna memajukan sanggar seni ini demi kelestarian budaya Baliem, tapi belum ada direspon dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) [...]

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Di Yapen, Polisi Baku Tembak Dengan OPM

Juli 7, 2009 at 4:30 am (kemerdekaan) (, , )

4 Juli 2009 15:48:44

1 Anggota OPM Ditangkap, 1 Menyerahkan Diri
JAYAPURA-Baku tembak antara anggota Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua dengan anggota TPN/OPM dilaporkan terjadi di Distrik Poiway, Waropen, Selasa (2/7) kemarin.

Dalam kontak tembak yang berlangsung beberapa saat dalam penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Eric Manitori itu, aparat dari Polres Kepulauan Yapen yang berjumlah 15 personel dan dibackup 5 personel TNI dari Kodim 1709, berhasil menangkap 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen.

Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya membenarkan adanya kejadian kontak tembak antara aparat keamanan dengann kelompok TPN/OPM tersebut.

“Kami telah berhasil melakukan penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM di wilaya Poiway, Waropen. Kami menduga kelompok ini merupakan pelarian dari Mamberamo Raya di bawah pimpinan Eric Manitori,” ungkap Kapolres Imam Setiawan, Jumat (3/7) kemarin.

Selain berhasil menangkap salah satu dari anggota TPN/OPM, pihaknya juga berhasil mengamankan ratusan barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.

Dari kejadian kontak tembak tersebut, lanjut Kapolres Imam Setiawan, anggota TPN/OPM berhasil melarikan diri masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.

Sehari kemudian (Jumat, 3/7), ujar Kapolres Imam Setiawan, seorang anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Yance Mabuai menyerahkan diri, setelah melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua.

“Kini keduanya telah berada di Polres Kepulauan Yapen dalam pemeriksaan secara intensif dalam rangka penyelidikan lebih lanjut,” ungkap Imam Setiawan.

Kapolres menegaskan bahwa saat ini pihaknya masih memburu TPN/OPM di bawah pimpinan Erik Manitori yang diduga kuat telah bersembunyi di hutan tersebut.

“Polres masih terus melakukan pengusutan terhadap para pelaku lainnya yang terdaftar dalam dokumen yang kami temukan setelah kontak senjata tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri saat dikonfirmasi juga membenarkan adanya kejadian penghadangan tersebut. Nurhabri menduga bahwa kelompok TPN/OPM tersebut diduga merupakan pecahan kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Decky Imbiri yang melakukan penguasaan Lapter Kapeso, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, selama beberapa minggu lalu.

“Bisa saja, itu bagian dari kelompok TPN/OPM yang sempat menguasai Lapter Kapeso. Apalagi, dari penghadangan itu, ditemukan dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso,” ungkap Nurhabri.

Saat ini, imbuh Nurhabri, aparat kepolisian setempat masih melakukan upaya pengejaran terhadap kelompok TPN/OPM yang melarikan diri ke dalam hutan tersebut.

Sebelumnya, Polda Papua berhasil menguasai Lapter Kapeso tersebut dari penguasaan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri dan mereka melarikan diri yang diperkirakan menuju ke arah Serui. (bat)

Barang bukti diamankan

1. 4 senjata api laras panjang rakitan.
2. 3 pistol rakitan.
3. 1 pelontar granat.
4. 4 sangkur.
5. 7 pisau tulang beracun.
6. 8 butir amunisi SS1.
7. 3 butir amunisi LE.
8. 3 butir amunisi moser.
9. 2 butir amunisi revolver.
10. 3 bendera bintang kejora.
11. 14 ikat kepala jimat warna merah.
12. 5 ikat kepala jimat warna hitam.
13. 16 kalung jimat.
14. 9 kalung salib.
15. 5 batu jimat.
16. 5 taring babi.
17. 7 seragam loreng OPM.
18. bahan makanan sagu.
19. 13 lembar kartu tanda anggota TPN/OPM 203.
20. dokumen rencana penyerangan bandara Kapeso.
21. 17 busur.
22. 144 anak panah.
23. 1 bambu runcing.
24. 1 rangsel militer.
25. 7 alkitab
26. 5 lembar foto.

Sumber Polres Kepulauan Yapen, Papua.

Permalink & Komentar

Dua Anggota OPM Akan Dikirim ke Polda

Juli 7, 2009 at 4:21 am (Uncategorized)

06 Juli 2009 09:45:57
JAYAPURA-Dua anggota TPN/OPM yang telah diamankan di Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, yang mana satu diantaranya ditangkap dalam penghadangan di Distrik Poiway, Kabupaten Kepulauan Yapen, Selasa (2/7) lalu dan satunya lagi karena menyerahkan diri sehari kemudian, sesuai rencana akan dikirim ke Polda Papua.

ìRencananya, kedua anggota TPN/OPM yang ditangkap dan menyerahkan diri itu, akan kami kirim ke Polda Papua untuk penyidikan lebih lanjut,î kata Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya, Minggu (5/7) kemarin.

Hanya saja, kapan rencana kedua anggota TPN/OPM akan dikirim ke Polda Papua, Kapolres Imam Setiawan belum mau mengungkapnya, yang jelas, keduanya pasti akan dikirim ke Polda Papua.

Apalagi, lanjut Kapolres Imam Setiawan, pihaknya masih melakukan pengembangan penyelidikan dan penyidikan terkait penghadangan kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Erick Manitori yang sempat melakukan perlawanan dengan tembakan itu.

Kapolres Imam Setiawan mengakui, kedua anggota TPN/OPM tersebut, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 106 KUHP tentang makar. ìKami sudah melakukan penahanan terhadap keduanya,î ungkap Imam.

Sementara itu, terkait dengan anggota TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori yang melarikan diri ke hutan, Kapolres menegaskan pihaknya sampai saat ini masih melakukan pengejaran. ìKami masih berupaya untuk mengejar mereka,î tandasnya.

Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan ada kemungkinan bahwa kelompok TPN/OPM di bawah pimpian Erick Manitori ada kaitannya dengan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri yang sempat menguasai Lapter Kapeso, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya hingga hampir 1 bulan tersebut.

ìDari penghadangan itu, kami menemukan adanya dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso. Hanya saja, apakah ada kaitannya dengan kelompok Decky Imbiri kami belum bisa memastikan, karena masih kami pelajari,î imbuhnya.

Sekadar diketahui, dalam penghadangan itu, 15 personel dari Polres Kepulauan Yapen yang diback up 5 anggota TNI dari Kodim 1709 sempat terlibat kontak senjata di Poiway, Selasa (2/7).

Dalam penghadangan itu, 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen berhasil ditangkap.

Selain itu, aparat juga berhasil mengamankan cukup banyak barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.

Dari kejadian kontak tembak itu, sekitar 20 anggota TPN/OPM berhasil lari masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.

Jumat (3/7), seorang anggota TPN/OPM bernama Yance Mabuai menyerahkan diri melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. (bat

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bintang Kejora Berkibar di 5 Tempat

Juli 2, 2009 at 7:46 pm (kemerdekaan) (, , )

Kapolda: Itu Untuk Cari Perhatian Saja

JAYAPURA – Meski Polda Papua telah melakukan antisipasi terhadap 1 Juli yang diklaim merupakan HUT Organisasi Papua Merdeka, ternyata Bendera Bintang Kejora yang merupakan simbol Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilaporkan telah berkibar di 5 tempat berbeda di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom.

Setidaknya, Bendera Bintang Kejora dilaporkan telah ditancapkan di depan pagar SMPN 5 Keerom di Kampung Yanamaa, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, sekitar pukul 03.00 WIT kemarin. Tidak jauh dari tempat tersebut, ditemukan juga Bendera Bintang Kejora Dikibarkan di Kampung Workwama, Perkebunan Kelapa Sawit Pir 2 Arso, tepatnya di perbukitan dengan ketinggian sekitar 50 meter dari jalan utama.

Selain itu, dikabarkan juga, bendera bercorak cerah itu berkibar sekitar pukul 05.45 WIT di dua tempat terpisah di Sentani, Kabupaten Jayapura, yakni di atas sebuah gunung di belakang Koramil. Bendera di pasang badan salib. Sementara Bendera Bintang Kejora lainnya dikibarkan di ujung landasan Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.

Tidak hanya itu, bendera milik OPM tersebut diduga juga telah dikibarkan di sebuah tempat di Waena, yakni di daerah perbatasan antara Kota Jayapura dengan Kabupaten Jayapura.

Dari data yang dihimpun Cenderawasih Pos, 2 Bendera Bintang Kejora yang dilaporkan berkibar di Sentani diperkirakan telah dikibarkan sejak malam harinya dan baru diketahui pukul 06.00 WIT pagi hari, dan barang bukti berupa bendera tersebut khususnya di atas bukit langsung diamankan oleh pihak Koramil Sentani.

Kapolres Jayapura, AKBP Mathius Fakhiri SIK, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya aksi pengibaran bendera pada dua titik tersebut.

“Ya memang ada informasi yang kami dengar seperti itu adanya pengibaran bendera di Bandara Sentani dan di atas bukit di belakang Koramil Sentani,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos disela-sela anjangsana di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren YPKP Sentani, Rabu, (1/7).

Kata Kapolres, meski mengetahui ada informasi pengibaran bendera, namun barang bukti (BB) belum ditemukan. Untuk itu, penyidik akan mengkonfirmasikan ke pihak Koramil guna mengetahui secara pasti tentang permasalahan pengibaran Bintang Kejora itu.

Termasuk siapa saja yang mengetahui akan persoalan itu diharapkan partisipasinya memberikan informasi, termauk barang bukti kepada penyidik. “Namun persoalan itu akan tetap ditindaklanjuti untuk mengetahui siapa sebenarnya pelaku dan dalang utama pengibaran Bintang Kejora tersebut,” jelas Kapolres Fakhiri.

Menanggapi adanya pengibaran Bendera Bintang Kejora ini, Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yomboisembut menandaskan, bila dilihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aksi pengibaran bendera itu bukan dilakukan oleh masyarakat adat Papua, tapi pihak lain yang dengan sengaja memanfaatkan situasi yang ada guna mengkambing hitamkan orang atau organisasi tertentu.

Kedua, jika memang orang adat Papua yang mengibarkan, maka orang itu digunakan oleh para penguasa yang memiliki kuasa, uang dan fasilitas yang kemudian oknum itu menjadi agen provokasi.

“Saya lihat ini bermuara bagaimana penguasa itu menjerat organisasi tertentu ke masalah hukum. Contohnya saja yang dulu ditemukan di kantor DAP ada senjata, padahal mana ada kami punya senjata?,” tandas Forkorus di kediamannya, kemarin.

Menurutnya, setelah organisasi tersebut dijerat hukum, maka langkah selanjutnya penguasa itu membersihkan orang tadi gunakan itu guna tidak diketahui siapa yang menjadi pelaku yang sebenarnya.

Ditegaskan, jika dilihat dari lokasi pengibarannya, yaitu di belakang Koramil di Sentani, sudah pasti itu adalah orang pintar bukan orang bodoh. Dan orang itu sudah pasti diiming-iming dengan janji.

“Ya nyatakan bahwa pada dasarnya skenarionya sudah diatur sedemikin bagus untuk memojokan organisasi tertentu yang bertujuan memberikan efek jera,” tukasnya lagi.

Ia juga mempertanyakan bahwa kenapa selama ini jika pihak TNI yang menemukan dan menahan BB Bintang Kejora. Nah ini jelas suatu kejanggalan karena TNI tugasnya bertempur, dan kenapa itu tidak diserahkan ke Polisi yang punya kewenangan untuk melakukan penyidikan itu.

Ditambahkannya, setahu dirinya jika TPM menaikan Bintang Kejora, mereka tidak menaikan di belakang Kantor Koramil dan lainnya, tapi mengibarkan di markasnya atau tempat-tempat yang sudah dikhususkan. Dan itupun melalui prosesi penting, contohnya menyanyikan lagu kebangsaan.

Terkait dengan itu, diharapkan kepada masyarakat Papua supaya tetap tenang, jangan terpengaruh dengan isu yang tidak bertanggungjawab, jangan ikut jadi agen profokasi, supaya tidak terlibat dalam kasus hukum, karena itu tidak ada untungnya.

Sementara untuk Bendera Bintang Kejora yang berkibar di dua tempat di Kabupaten Keerom sempat diturunkan oleh anggota Polres Keerom setelah mendapatkan informasi dari masyarakat, selanjutnya diamankan ke Mapolres Keerom bersama kayu sekitar 3 meter yang digunakan untuk menancapkan bendera tersebut. Diketahui, bendera tersebut diperkirakan berukuran 1 meter x 72 cm. Hingga kini pelaku pengibaran belum diketahui, diduga mereka langsung melarikan diri setelah mengibarkan bendera tersebut, seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut. Hanya saja, Kapolda mengakui baru mendapatkan laporan pengibaran bendera bintang kejora tersebut di dua tempat di Keerom.

“Sesuai laporan yang saya terima hanya di daerah Keerom saja, itupun sudah diantisipasi,” kata Kapolda Bagus Ekodanto di Lapangan SPN Jayapura usai upacara HUT Bhayangkara ke-63, 1 Juli 2009 kemarin.

Kapolda mengatakan informasi yang diperolehnya, bahwa pengibaran bendera Bintang Kejora itu ditempatkan di depan pagar sekolah SMPN 1 Keerom dan beberapa meter jalan arah bukit di Kampung Workwama, Keerom.

Kapolda menilai pelaku yang mengibarkan merupakan masyarakat yang tidak puas, karena kesejahteraan atau hal lainnya sehingga melakukan hal tersebut. “Itu bentuk mencari perhatian saja,” ungkap Kapolda.

Yang jelas, tegas Kapolda Bagus Ekodanto, pelaku pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut, jelas melakuakn pelanggaran terhadap ketertiban umum. ” Mereka melanggar ketertiban umum, maksudnya dalam arti kepentingan orang per orang, bukan kelompok. Yang pasti, dilakukan oleh orang perorang dan sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggungjawab,” ujarnya.

Sementara itu ditanya kekuatan TPN/OPM di Papua? Kapolda mengakui belum tahu secara persis, namun yang jelas kelompok tersebut ada di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, perbatasan Papua New Guinie (PNG) namun relatif kecil jumlahnya.

Kapolda menegaskan bahwa pada peringatan HUT Bhayangkara 1 Juli 2009 ini, jauh relatif aman di seluruh Papua, apalagi kesadaran masyarakat juga makin meningkat, karena mereka mengetahui bahwa pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut merupakan kepentingan orang-orang tertentu saja.

Khusus di Tingginambut, Puncak Jaya, Kapolda mengungkapkan bahwa 3 hari lalu, sempat terjadi insiden penembakan terhadap iring-iringan masyarakat yang membawa bahan makanan lewat jalan dari dari Wamena-Mulia, namun namun tidak ada korban jiwa dan hanya mengenai kendaraan saja. “Tim saya dari Brimob juga sudah lidik di Tingginambut,” ujarnya.

Terkait dengan pengamanan Pemilu presiden yang sudah dekat, Kapolda menambahkan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan KPU Provinsi Papua untuk mempersiapkan Pemilu lebih baik, sehingga pihaknya berharap pelaksanaan Pilpres lebih baik dari Pemilu legislatif beberapa bulan lalu. “Semoga tidak terjadi ( gangguan keamanan, red) dan kita terus lakukan upaya untuk mengantisipasinya,” imbuhnya. (nls/bat)

Pengibaran Bintang Kejora di Papua

Pengibaran Bintang Kejora di Papua

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar