Avakuasi Jenazah Pilot AMA, Gagal
WAMENA-Meski lokasi letak jatuhnya pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) jenis pilatus porter PC-6 dengan nomor penerbangan PK – RCZ yang menewaskan pilot Dave Craig Clapper di Kampung Ndundu, wilayah Kabupaten Tolikara sudah diketahui, namun sampai hari kedua kemarin upaya evakuasi jenazah sang pilot belum membuahkan hasil.
Gagalnya evakuasi ini, akibat cuaca buruk dan sering berubah-ubah membuat tim SAR mengalami kesulitan melakukan pendaratan pesawat. Kendati pihak AMA sendiri sudah membuka basecamp di Taife II, dekat jatuhnya pesawat naas tersebut.
Tak tanggung-tanggung pihak AMA menurunkan seluruh kekuatannya untuk mencari kejelasan nasib sang Pilot. Bahkan 2 pesawat pilatus bersama 3 orang pilot disiapkan untuk mengevakuasi korban manakala evakuasi berhasil dilakukan.
Tak ketinggalan Manajer AMA Norbert turut dalam rombongan di Taife II. Disisi lain sejumlah armada pesawat di Sentani, Manokwari dan Nabire dalam posisi siap bila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membantu proses evakuasi.
Hal itu dibenarkan kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto ketika ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya siang kemarin.
“Proses evakuasi hari ini (kemarin, red) gagal dilakukan oleh tim SAR, karena cuaca yang berkabut dan sering berubah-ubah. Padahal tim SAR sudah berhasil mendaratkan pesawat tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat, namun harus kembali karena cuaca berkabut,” tegas Yanto.
“Atas musibah itu pihak AMA yang beroperasi di Wamena untuk sementara waktu tidak melayani penerbangan selama seminggu, bahkan Pihak AMA yang beroperasi di Papua pada umumnya baru mulai beroperasi Kamis (14/8),” ujarnya.
Proses evakuasi oleh tim SAR akan dilanjutkan hari ini dan berusaha semaksimal mungkin mengangkut jenazah Dave yang sangat dekat dengan masyarakat Papua itu.
“Kami sangat kehilangan dengan kepergian Dave itu,” ujar Yanto sedih.
Hal senada juga diungkapkan rekan seprofesi Clerence Togeretz, salah seorang pilot AMA yang lain. “Saya merasa sangat kehilangan dengan kepergian Dave, selain sebagai pilot, Dave adalah orang yang sangat baik dalam melayani masyarakat Papua, terutama bagi hamba Tuhan dalam pelayanan gereja,” ujarnya.
Gagalnya evakuasi jenazah pilot naas tersebut juga diakui Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Jayapura, Kolonel Dedy Permadi,SE.MMDS. Ia mengatakan, pihaknya belum berhasil membawa korban mengingat cuaca buruk dan terus berubah-ubah.
“Laporan yang kami terima pesawat sudah mendarat di tempat yang aman hanya saat akan melakukan evakuasi sedikit menyulitkan, sehingga kami putuskan hanya 4 orang yang turun mengamankan lokasi selanjutnya pesawat kembali,” ujar Dedy Permadi saat ditemui kemarin. Lokasi jatuhnya pesawat ini berada di daerah perbukitan Taife 2 dan Ndundu Kabupaten Tolikara dengan koordinat 03o 26′ 08″ Selatan dan 138o 21′ 58′ Timur. Lokasi tersebut berada di punggung sebuah bukit, namun cukup curam hingga sulit untuk dijangkau.
“Ada empat orang yang kami tinggalkan di lokasi terdiri dari 4 orang, 2 paskas dan 2 tim SAR dan rencananya besok pagi (hari ini) dilakukan pengambilan jenazah,” jelas Dedy yang juga pernah menjadi dosen di ACSC di Australia selama 2 tahun ini.
“Kami masih melakukan koordinasi dengan keluarga korban apa jenazah dikirim ke Wamena atau dibawa ke Sentani,” katanya mempertegas bahwa tidak ada muatan baik orang melainkan hanya barang seperti pakaian yang dibawa oleh sang pilot.
Disinggung penyebab jatuhnya pesawat, Dedy yang sebelumnya menjabat sebagai Komandar Kops Siswa Sesko AU di Lembang ini menjelaskan, hal tersebut menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT).
Sementara Mayor Pnb Jumarto saat ditanya wartawan setibanya di Hanggar TNI-AU usai dari lokasi menceritakan kesulitannya melakukan evakuasi, dimana setelah tiba di lokasi, tak lama kemudian daerah tersebut tertutup awan hingga diputuskan untuk pesawat kembali. Namun setelah 2 jam kemudian cuaca kembali jelek. Bahkan 2 pesawat jenis pilatus yang juga sempat ke lokasi akhirnya kembali dengan alasan yang sama.”Cuaca cepat sekali berubah,” katanya.
Dari lokasi jatuhnya tersebut dikatakan berada pada ketinggian 6200-6400 Feet antara pesawat dan bangkai pesawat sementara letak lokasi tersebut sekitar 7 mile dari Taife 2.
“Bangkai pesawat bisa dilihat jelas karena berada di atas perbukitan hanya kondisinya rusak parah karena terbelah menjadi 3 bagian,” ujar Mayor Jumarto.
Dikatakan pesawat tersebut diperkirakan jatuh akibat cuaca buruk lalu menabrak pohon hingga badan pesawat terpecah menjadi 3 bagian, dimana yang nampak ekor body tersebar dibawah pepohonan, sayap berada diatas pohon begitu pula dengan rover dan stabilizer yang tersangkut di pepohonan. “Hanya pesawat tidak meledak melainkan hanya terpecah-pecah,” ujarnya menggambarkan.
Rencananya hari ini (Selasa, 12/8) setelah dilakukan evakuasi jenazah akan dibawa ke Taife, namun jika tidak memungkinkan jenazah akan dibawa ke Ndundu.
Dalam pencarian kemarin, tim SAR (Search and Rescue) Nasional (Sarnas) dan Paskas TNI-AU melibatkan 12 orang. Mereka terdiri dari 5 crew pesawat, 3 personel paskas dan 4 personel Sarnas dengan menggunakan pesawat Super Puma dari skadron 6 dengan registrasi H-3211 yang dipiloti Mayor Pnb Jumarto dan Kapt Pnb Suryo.
Pesawat Super Puma ini berangkat dari hangar TNI-AU pukul 06.33 WIT langsung menuju lokasi jatuhnya pesawat. Hanya sayangnya karena faktor cuaca, pilot yang dipastikan tewas akhirnya tidak berhasil dievakuasi meski berhasil ditemukan.(jk/ade)
