Filep Karma dan Yusak Pakage Tolak Remisi

Agustus 20, 2008 at 12:25 am (pelanggaran HAM) (, , )

Filep Karma dan Yusak Pakage tolak Remisi

Filep Karma dan Yusak Pakage tolak Remisi

*Di Papua, 476 Nara Pidana Dapat Remisi
JAYAPURA- Desakan 40 Konggres Amerika Serikat yang meminta Presiden SBY membebaskan dua Nara Pidana (Napi) makar Filep Karma dan Yusak Pakage, tampaknya sudah sampai juga ke telinga dua Napi tersebut. Hanya saja, mereka mengakui belum tahu persis seperti apa isi surat tersebut.

” Sebenarnya desakan itu bukan saja dari konggres Amerika Serikat, tapi juga dari lembaga-lembaga internasional seperti Amnesti Internasional dan sejumlah pekerja HAM Papua sejak 2005. Tapi sampai sekarang ini Pemerintah Indonesia belum meresponnya,” ujar Filep Karma kepada wartawan di ruang kerja Lapas Abepura, kemarin.

Dikatakan, sebagai negara Demokrasi, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat dan aspirasi untuk memperjuangkan hak-haknya. Salah satu penyaluran aspirasi yang dilakukannya adalah melalui pengibaran bendera bintang kejora.

Menurutnya, sebagai warga bangsa Papua Barat yang hak-hak dasarnya dirampas dan dijajah Negara RI, maka sebagai warga yang tertindas, dirinya berhak menuntut kemerdekaan yang selama ini dirampasnya.

” Desakan Konggres Amerika Serikat itu merupakan wujud dukungannya terhadap perjuangan yang kami lakukan. Sebagai negara demokrasi, AS tahu betul bahwa apa yang kami lakukan ini tidak salah yakni dalam rangka penyampaian aspirasi,” terangnya.

Diakui, dukungan simpasti Kongres AS itu tidak terlepas dari perjuangan diplomasinya yang dilakukan selama ini kepada dunia internasional.

Sejak ditahan Tahun 2004 dan mulai diadili Tahun 2005, rekan-rekannya dari pekerja dan aktivis penegak HAM mulai berjuang untuk melakukan advokasi terhadap dirinya. Namun, perjuangannya di Indonesia tidak berhasil, sehingga yang dilakukan saat itu adalah perjuangan diplomasi ke dunia internasional.

” Meskipun kami terus mendapat intimidasi, saya akan terus berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan bangsa Papua Barat. Saat inipun kami ingin mendeklarasikan diri sebagai pemimpin perjuangan kemerdekaan Bangsa Papua Barat,” ujarnya.

Dia mengaku, meski selama ini hidup di Negara bangsa Indonesia, namun dirinya mengkalim tidak pernah menjadi warga Negara Indonesia. Sampai kapapun dirinya mengaku tetap menjadi warga Negara Papua Barat.

Disinggung dirinya, tidak mendapat remisi, baginya remisi tidak penting. Jikalau mendapat remisi dari pemerintah, lebih baik diberikan saja kepada warga lainnya. “Kalaupun saya mendapat remisi, saya akan tolak. Untuk apa menerima remisi, sebab kami tidak bersalah. Kami tidak melakukan makar, yang kami lakukan adalah menuntut hak kami yang telah dijajah negara Indonesia,” terangnya.

Di tempat yang sama Kalapas Abepura Anthonius M Ayorbab, SH, M.Si mengatakan, setiap warga binaan Lapas, memiliki hak yang sama untuk mendapat remisi dari Pemerintah. Persoalan, apakah dia menolak atau tidak itu menjadi hak mereka.

“Siapapun mereka, kami tetap memiliki tanggungjawab untuk melakukan pembinaan terhadap warga Lapas. Hanya saja menyangkut grasi dan amnesty bagi warga Napi, itu menjadi hak prerogratif presiden,” tandasnya.

Sementara itu terkait dengan HUT RI ke-63 ini ada sebanyak 476 Nara Pidana (Napi) penghuni LP se- Papua mendapatkan remisi (pengurangan masa tahanan) dari Menteri Hukum dan HAM RI. Penyerahan SK Remisi itu, secara simbolis diserahkan Sekda Provinsi Papua di LP Kelas II A Abepura, Ahad (17/8).

Dari 476 Napi itu, 438 Napi mendapat Remisi Umum Biasa (RU) 1, 20 Napi mendapat RU 2 langsung bebas dan 18 Napi RU Tambahan.

Sementara itu, 2 Napi kasus makar Filep Karma dan Yusak Pakage yang belum lama ini mendapat simpati 40 anggota Kongres Amerika Serikat dengan meminta Presiden SBY agar membebaskan dua Napi itu, tampaknya tidak mendapat resmisi.

Sedangkan di LP Narkoba Doyo Baru Sentani, sebanyak 30 Napi mendapat remisi biasa dan 1 Napi mendapatkan remisi bebas.

Sekda Provinsi Papua Drs. Tedjo Soeprapto mengatakan, pemberian remisi itu jangan diartikan sebagai kemudahan yang diberikan pemerintah agar warga Napi bisa cepat bebas. Remisi itu harus dijadikan sarana untuk meningkatkan kualitas diri agar lebih termotivasi menjalani kehidupan lebih baik lagi dan memberikan manfaatkan kepada masyarakat.

” Saya berharap pemberian remisi ini dapat dijadikan semangat, tekad dan bisa lebih berkarya untuk memberikan manfaatkan dalam hidupnya. Selain itu, dapat juga dimaknai sebagai kesungguhan agar kedepannya tidak melanggar hukum saat kembali ke masyarakat,” harapnya.

Dikatakan, pergeseran nilai-nilai social masyarakat pada akhir-akhir ini membuat kinerja pemasyarakatan telah memasuki ranah prioritas perhatian masyarakat.

Jika tahun-tahun sebelumnya, LP hanya diisi oleh kalangan bawah dan kurang berpendidikan, saat ini LP telah diisi dengan latar belakang pendidikan dan ekonomi lebih maju.
Kondisi itu, tentunya harus menjadi tantangan bagi petugas Lapas, karena memerlukan standar perlakuan dan lingkungan yang berbeda dengan sebelumnya.

” Kasus kelalaian maupun kesengajaan petugas Lapas terhadap keluarnya Napi harus menjadi pembenahan dilembaga Lapas. Karena itu, betapa bertanya tugas dan tanggungjawan, tapi pengabdian yang dilakukan itu sangat mulia,” tandasnya.

Terkait minimnya fasilitas ketrampilan yang ada di Lapas, Sekda berharap, kantor wilayah Departemen Hukum dan HAM serta Lapas bisa meningkatkan dan memberdayakan potensi instansi pemerintah, LSM dan kalangan swasta serta menjalin kerjasama yang baik.

Ditambahkan, Lapas merupakan system, dimana jika system yang melibatkan petugas Lapas, masyarakat dan Napi tidak bia bekerjasama dengan baik, maka sebaik apapu program yang dibuat Lapas tidak akan berjalan dengan baik.

” Saya mengajak insane pemasyarakatan hendaknya sebelum mengawali kegiatan selalu dengan niat untuk melakukan tindakan yang bersifat kontruktif sehingga pada akhirnya akan membentuk pola kerja dan pembinaan yang baik,” imbuhnya.(mud)

Permalink 1 Komentar

KELAKUAN DAN PERILAKU BANGSA PENJAJAH YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG DIA KATAKAN

Agustus 19, 2008 at 11:55 pm (pelanggaran HAM) (, , )

Saya sebagai perempuan Papua yang datang merantau ditanah Jawa ini, Saya benar – benar sakit hati dengan cara dan perilaku Bangsa tersebut, Dulu memang saya tidak tau ? Menurut saya Bangsa tersebut ini adalah Bangsa yang berhati nurani, Tapi setelah saya tau dan mengikuti cara hidup mereka dalam pergaulang hari – hari, Saya mengakui itu semua dalam diri saya bahwa Banngsa ini adalah penjajah Bangsa saya yang harus di usir keluar dari tanah PAPUA.

Alasan nya karna apa ? Mereka sudah mengakui bahwa Tanah Papua sudah masuk dalam NKRI, Tapi itu hanya tanah dan harta nya bukam kaum / orang Papua tersebut. Selama saya berada di tanah Jawa, Saya selalu turut dalam acara – acara / Pertemuan – pertemuan yang di adakan di dalam lingkunngan yang saya tempati di sana yang di bicarakan adalah Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang kayaraya akan hasil bumi, Tapi hasil bumi yang di bicarakan itu hasil bumi orang Papua bukan orang Jawa / Indonesia, Mereka seenak nya saja menikmati hasil kita, Mereka memonopoli semua hasil kekayaan kita tapi mereka sendiri jijik melihat kita Bangsa Papua. Apakah ini yang disebut ADIL? Sama harta nya dia mau – mau saja, Tapi sama orang nya dia jijik, Meurut mereka kita di ibaratkan sebagai Monyet ( ORANG HUTANG ) yang tidaktau mandi, Hitam badaki, Rambut kusuk. Apa ini juga yang di bilang ADIL untuk NKRI ? Menurut saya kalau memang NKRI adalah Negara yamg BERDAULAT ADIL dan MAKMUR dengan kerendahan hati kami Bangsa Papua berharapan besar dan mempunyai tekat yang sama agar Bangsa Indonesia bisa mengembalikan hak KEMERDEKAAN Bangsa PAPUA.

Bangsa Papua berhak lepas dari NKRI, Bangsa Papua menpunyai ciri khas tersendiri, Bangsa Papua tidak pas untu masuk ke dalam wilayah NKRI, Sebagai perempuan Papua saya ingin bertanya, NKRI benci dengan Bangsa Penjajah, Tapi mengapa masih senang untuk Menjajah Banngsa lain ? Apa ini tidak kebalikan ? NKRI harus sadar diri bahwa selama ini kalian sedang menjajah Bangsa Papua, Kalian sedang merampok hasil bumi Bangsa Papua untuk isi perut kalian Bangsa terkutuk. NKRI mempunyai peraturan Perundang –Undangan, Dasar – Dasar Pancasila tapi NKRI tidak berjalan menurut apa yang sudah di terapkan oleh NKRI tersebut, Undang – Undang NKRI adalah Undang – Undang kaki kepala. Dengan cara seperti ini bisa di lihat bahwa NKRI adalah Negara yang tidak bertanggungjawab, Negara yang tidak menjamin kebebasan orang lain khusus nya Bangsa PAPUA.

Bangsa Indonesia harus tau diri,bahwa Papua tidak termasuk dalam NKRI yang miskin, PAPUA punya NEGARA dan BENDERA, Papua tidak akan susah kalau terlepas dari NKRI, Malahan Papua akan semakin kaya dan makmur berdiri di tanah sendiri, Kenapa demikian ? jawaban nya YA karna sekarang dalam mengatur Bangsa sendiri khusus nya di wilayah Jawa saja Indonesia sudah tidak manpu lagi, Bagaimana mungkin bisa mengatur Bangsa Papua yang masih sangat jauh ketinggalan nya ? Oleh sebab itu untuk meringankan Indonesia lebih baik Bangsa Papua di kembalikan hak KEMERDEKAAN nya, Dari pada jangan Indonesia yang harus di jajah oleh Negara lain, Demi keslamatan NKRI sendiri maka Indonesia harus taudiri , Karna NKRI sudah tidak mampu lagi melunasi Utang –Utang luar negri.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Seorang Bapak yang Bijaksana dan Adil pada Bangsa nya sendiri

Agustus 15, 2008 at 6:28 pm (kemerdekaan) (, , , , )

Seorang Bapak yang merindukan Kemerdekaan Bangsa nya

Ada seorang bapak yang sudah berumur 70 lebih hampir mencapai 80 tahun, Selama dia mengabdi sebagai seorang penegak hukum (ABRI), Dia tidak pernah mengakui hukum yang berlaku di Tanah Dia sendiri ( PAPUA )

Saya kagum dengan bapak tersebut, Walaupun di saat Upacara  Bendera di Nyanyikan lagu Indonesia raya tanah air ku dia ngomong dengan tanah air mu bukan tanah air ku, Dia selalu berada pada posisi nya sendiri.

Menurut bapak tersebut dia adalah bangsa kulit hitam yang badaki, rambut keriting kusuk, Dia akan hormat dan akan mengakui bahwa PAPUA itu lah bangsa nya, Sedikit pun apa sebab nya dia ditanya bapak tersebut tidak pernah menyerah dari pertanyaan yang di kasih.

menurut dia sekalipun pangkat ku di copot, Seragam ku di lepas, Saya akan selalu siap menghadapi apa saja yang terjadi, karna ini bukan seragam ku. Ini adalah seragam kaum penjajah untuk apa saya yang harus pakai ? Saya malah akan berterimakasih pada TUHAN karna akhir nya saya bisa melepas kan semua yang menjadi kepunyaan kaum penjajah.

Saya adalah saya dan saya adalah Polisi BELANDA saya bukan Polisi NKRI itu prinsip dari bapak tersebut sampai saat ini, menurut dia bahwa apa yang dia saksikan di depan mata dengan apa yang di buat oleh bangsa Indonesia kepada bangsa nya sendiri, Itu akan tersimpang dalam ingatan dia, dan itu sudah menjadi luka hati yang dalam buat dia, Luka tersebut akan sembuh kalau bangsa PAPUA sudah terlepas dan mendapatkan hak Kemerdekaan nya kembali.

Sampai saat ini kalau dia bertemu dengan orang tersebut yang menjadi musuh nya, Sikap dan kelakuan dia tidak pernah berubah untuk menyapa mereka dengan baik, Karna setiap bertemu dengan mereka ingatan dia yang dulu itu akan kambul lagi dan emosi itu pasti muncul, Oleh sebab itu dia memilih untuk selalu di rumah saja dari pada harus keluar dan bertemu dengan bangsa penyamun di luar, Itu prinsip dari bapak tersebut sampai saat ini.

Kini dia hanya bisa bertanya pada diri sendiri, Sampai kapang kah ? Bangsa saya akan terlepas dari tangan orang – orang penyamun atau lintah darat, istilah khusus Bangsa pengisap darah ?

Permalink 1 Komentar

jenasah pilot Ama di bawah ke wamena

Agustus 14, 2008 at 12:42 am (musibah) (, , , )

Jenazah Pilot AMA Dibawa ke Wamena

*Kondisinya Utuh, Pesawat Terbelah Tiga
(Pemakaman Tunggu Kedatangan Dua Putranya dari Amerika)
SENTANI-Setelah sebelumnya gagal diangkat lantaran cuaca buruk, akhirnya Jenazah pilot Dave Craig Clapper berhasil dievakuasi Selasa (12/8), kemarin oleh tim evakuasi yang tergabung dalam tim Sarnas dan Paskhas.
Seperti diketahui, Dave-panggilan akrab sang pilot naas itu, tewas setelah pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) jenis Pilatus PC-6 dengan nomor penerbangan PK-RCZ yang diterbangkannya, jatuh di gunung Teibu, Kampung Ndundu, Distrik Wori, Kabupaten Tolikara, Sabtu (9/8).

Dari lokasi, jenazah korban berkebangsaan Amerika ini, diterbangkan ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya dengan menggunakan pesawat milik AMA, jenis pilatus PK-RCY yang dipiloti Erick Robert.

Jalannya evakuasi korban sendiri tidak terlalu mengalami banyak hambatan. Perjalanan evakusi dimulai pagi hari, dimana rombongan yang di dalamnya termasuk wartawan Cenderawasih Pos berangkat dari hanggar TNI-AU di Sentani pukul 06.00 WIT menggunakan pesawat Heli Super Puma, dipiloti Mayor Pnb Jumarto.

Rombongan tim evakuasi yang terdiri dari tim Sarnas dan Paskhas menuju pendaratan terdekat dari lokasi kejadian, yakni di Kampung Taife 2, Distrik Mori. Tepat itu ditempu dalam waktu sekitar 1 jam.

Setelah menurunkan sebagian muatan, heli langsung menuju lokasi gunung Teibu. Masyarakat Taife yang sudah menunggu kedatangan tim evakuasi ini terlihat tegang. Wajah mereka penuh harap, mengingat saat dilakukan kontak menggunakan satelit, tim pemantau tidak mendapatkan jawaban.

Namun akhirnya selang 27 menit kemudian, tim evakuasi kembali dengan membawa jenazah yang sudah berada di dalam kantong jenazah. Karena sudah di dalam kantong, sehingga bagaimana kondisi jenazah korban tidak diketahui secara pasti. Tapi menurut keterangan Tim SAR, kondisi jenazah korban dalam keadaan utuh. Ini karena kondisi pesawat juga saat jatuh tidak terbakar, namun hanya terbelah tiga.

Awalnya jenazah Dave, hendak langsung dibawa ke Wamena, namun tidak direlahkan oleh warga setempat. Masyarakat Taife memang memiliki ikatan emosional dengan korban. Selain sangat dekat dengan

masyarakata, korban juga dianggap sangat berjasa bagi warga setempat, karena itu disepakati untuk beberapa menit jenazah disemayamkan di kantor Distrik Mori.

Pantauan Cenderawasih Pos saat pesawat mendarat, 6 orang warga yang telah disiapkan langsung mendekati pesawat dan mengangkut kantong jenazah tanpa alat apapun, kemudian digotong ke kantor distrik. Saat itu pula tangisan yang mulai mereda kembali pecah.

Saat pendaratan pukul 07.54 WIT di Taife terdengar isak tangis yang tak henti dari beberapa wanita, termasuk anak-anak hingga menimbulkan pertanyaan bagi Cenderawasih Pos.

Namun setelah mendapat jawaban dari Kepala Kampung, Gerson ternyata tangisan tersebut muncul karena perasaan sedih yang cukup mendalam atas kejadian yang menimpa Dave.

“Masyarakat sangat sedih dengan meninggalnya pilot Dave, dia banyak berjasa bagi masyarakat,” ujar Gerson.

Sangking dekatnya dengan masyarakat, menurut Gerson hari Minggu (10/8) sekelompok masyarakat menutuskan menuju lokasi jatuhnya pesawat dengan jalan kaki, namun di tengah perjalanan rombongan ini akhirnya kembali setelah mendapat kabar bahwa lokasi jatuhnya telah ditemukan dan akan dilakukan pencarian melalui udara.

“Masyarakat juga sudah berusaha mencari, tapi batal karena mendengar kabar tempat jatuhnya sudah diketahui,” imbuh Gerson.

Saat jenazah digotong ke kantor distrik, terlihat sekali kerumunan masyarakat yang sudah menunggu sejak pesawat berangkat ke lokasi. Bahkan setibanya di kantor distrik yang bangunannya berbentuk panggung ini, tangisan kembali pecah terutama kaum perempuan, tidak ketinggalan anak-anak, tua maupun muda. Bahkan sungguh di luar dugaan ternyata nyaris seluruh masyarakat yang saat itu berada di Taife berkumpul untuk melepas sang pilot.

“Dia sudah sangat dekat dengan kami, dia bagai keluarga kami meski orang asing,” tutur seorang wanita setengah baya seraya mengusap pipinya.

Tangisan terdengar tak henti ketika jenazah diletakkan di ruangan sementara masayarakat terus mendesak masuk hingga ruangan terasa pengap. Di sela-sela tangisan itu ada yang mengunakan bahasa setempat dengan lantunan pantun yang jika diartikan menggunakan bahasa Indonesia memiliki maksud seakan mengelu-elukan.

Sekitar pukul 08.42 WIT akhirnya jenazah dikeluarkan dari kantor distrik dan diputuskan untuk dibawa ke Wamena menggunakan pesawat pilatus milik AMA yang memang sudah disiapkan dari pagi dilandasan. Tak lama kemudian rombongan kembali ke Jayapura dan sebelumnya masyarakat terlihat sempat mengucapkan terima kasih kepada tim evakuasi yang sudah membawa jenazah sang pilot meski dalam kondisi meninggal.
Sosok Dave tetap dianggap berharga dan berjasa di mata masyarakat kampung Taife.

Sementara itu dari Wamena dilaporkan, setibanya di Wamena, jenazah korban masih disemayamkan di hanggar Heli mission Wamena hingga Kamis (14/8) untuk menunggu kedatangan kedua putra Dave dari Amerika, Judah David Clapper dan Tirzah Rose Clapper untuk melihat jenazah ayahnya untuk kali terakhir.

Hal itu dibenarkan Kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto. “Jenazah korban rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum Sinagma, namun belum bisa dipastikan kapan pelaksanaan pemakamannya karena masih menunggu dua anak Dave yang tiba pada Kamis dari Amerika,” tegas Yanto ketika ditemui Cenderawasih Pos saat menjemput jenazah korban di hanggar pesawat Heli Mission Wamena kemarin.

“Seluruh masyarakat Papua khususnya yang berada di wilayah Pegunungan Tengah sangat kehilangan dengan kepergian Dave, lebih khusus pihak AMA ,” tambahnya.

Di kediaman Dave yang terletak di jalan Trikora Hom-Hom Wamena yang saat ini didiami Istri dan ketiga anaknya masih terlihat dalam suasana duka. Tak habis-habisnya warga masyarakat berdatangan silih berganti mengucapkan bela sungkawa. Bahkan krans bunga dari berbagai pihak mulai berdatangan sebagai tanda ucapan duka cita. Sampai berita ini ditulis situasi dan kondisi kota Wamena dalam keadaan aman dan kondusif. Pasca pengibaran bendera bintang kejora Sabtu (9/8) lalu tak mengurangi prosesi penjemputan jenazah korban.(ade/jk)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

pengibaran bendera bintang kejora di wamena

Agustus 13, 2008 at 2:01 am (pelanggaran HAM) (, , , )

Didit Tri Kertapati – detikNews

Jakarta – Pengibaran bendera bintang kejora terjadi di Wamena, Papua Namun naasnya saat bendera itu hendak diturunkan, seorang perwira polisi kena panah.

“Ada 3 buah bendera yang berkibar yaitu bendera PBB, bendera merah putih, dan Bintang Kejora,” kata Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo saat dihubungi via telepon Sabtu (9/8/2008).

Pengibaran bendera itu terjadi sekitar pukul 14:30 WIT. Kemudian, lanjut Sulistyo, petugas Polres Wamena bergegas menurunkan bendera tersebut.

“Saat petugas mau menurunkan bendera tersebut, sekelompok massa menyerang dengan batu dan panah, bahkan Kapolres Wamena terkena panah di sepatunya,” jelas Sulistyo.

Sulistyo menjelaskan pihak mabes polri masih melakukan pengecekan ke Polres Wamena mengenai kebenaran informasi yang menyebutkan adanya korban dari masyarakat.

Dia juga belum mengetahui berapa orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. “Kami belum bisa memberikan berapa orang yang dinyatakan tersangka dalam kasus ini,” sebutnya.

Peristiwa pengibaran bendera ini bermula dari perayaan hari Internasional Bangsa Pribumi yang diselenggarakan oleh dewan adat papua, yang juga dihadiri oleh ketua dewan adat Papua Forkorus.(ddt/ndr)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Avakuasi Jenazah Pilot AMA, Gagal

Agustus 13, 2008 at 1:13 am (musibah) (, , , )

pencarian pesawat ama yang jatuh

pencarian pesawat ama yang jatuh

*Akibat Cuaca Buruk, Tim SAR Sempat Sampai ke Lokasi
WAMENA-Meski lokasi letak jatuhnya pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) jenis pilatus porter PC-6 dengan nomor penerbangan PK – RCZ yang menewaskan pilot Dave Craig Clapper di Kampung Ndundu, wilayah Kabupaten Tolikara sudah diketahui, namun sampai hari kedua kemarin upaya evakuasi jenazah sang pilot belum membuahkan hasil.

Gagalnya evakuasi ini, akibat cuaca buruk dan sering berubah-ubah membuat tim SAR mengalami kesulitan melakukan pendaratan pesawat. Kendati pihak AMA sendiri sudah membuka basecamp di Taife II, dekat jatuhnya pesawat naas tersebut.

Tak tanggung-tanggung pihak AMA menurunkan seluruh kekuatannya untuk mencari kejelasan nasib sang Pilot. Bahkan 2 pesawat pilatus bersama 3 orang pilot disiapkan untuk mengevakuasi korban manakala evakuasi berhasil dilakukan.

Tak ketinggalan Manajer AMA Norbert turut dalam rombongan di Taife II. Disisi lain sejumlah armada pesawat di Sentani, Manokwari dan Nabire dalam posisi siap bila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk membantu proses evakuasi.

Hal itu dibenarkan kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto ketika ditemui Cenderawasih Pos di ruang kerjanya siang kemarin.

“Proses evakuasi hari ini (kemarin, red) gagal dilakukan oleh tim SAR, karena cuaca yang berkabut dan sering berubah-ubah. Padahal tim SAR sudah berhasil mendaratkan pesawat tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat, namun harus kembali karena cuaca berkabut,” tegas Yanto.
“Atas musibah itu pihak AMA yang beroperasi di Wamena untuk sementara waktu tidak melayani penerbangan selama seminggu, bahkan Pihak AMA yang beroperasi di Papua pada umumnya baru mulai beroperasi Kamis (14/8),” ujarnya.

Proses evakuasi oleh tim SAR akan dilanjutkan hari ini dan berusaha semaksimal mungkin mengangkut jenazah Dave yang sangat dekat dengan masyarakat Papua itu.

“Kami sangat kehilangan dengan kepergian Dave itu,” ujar Yanto sedih.

Hal senada juga diungkapkan rekan seprofesi Clerence Togeretz, salah seorang pilot AMA yang lain. “Saya merasa sangat kehilangan dengan kepergian Dave, selain sebagai pilot, Dave adalah orang yang sangat baik dalam melayani masyarakat Papua, terutama bagi hamba Tuhan dalam pelayanan gereja,” ujarnya.

Gagalnya evakuasi jenazah pilot naas tersebut juga diakui Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) Jayapura, Kolonel Dedy Permadi,SE.MMDS. Ia mengatakan, pihaknya belum berhasil membawa korban mengingat cuaca buruk dan terus berubah-ubah.

“Laporan yang kami terima pesawat sudah mendarat di tempat yang aman hanya saat akan melakukan evakuasi sedikit menyulitkan, sehingga kami putuskan hanya 4 orang yang turun mengamankan lokasi selanjutnya pesawat kembali,” ujar Dedy Permadi saat ditemui kemarin. Lokasi jatuhnya pesawat ini berada di daerah perbukitan Taife 2 dan Ndundu Kabupaten Tolikara dengan koordinat 03o 26′ 08″ Selatan dan 138o 21′ 58′ Timur. Lokasi tersebut berada di punggung sebuah bukit, namun cukup curam hingga sulit untuk dijangkau.

“Ada empat orang yang kami tinggalkan di lokasi terdiri dari 4 orang, 2 paskas dan 2 tim SAR dan rencananya besok pagi (hari ini) dilakukan pengambilan jenazah,” jelas Dedy yang juga pernah menjadi dosen di ACSC di Australia selama 2 tahun ini.

“Kami masih melakukan koordinasi dengan keluarga korban apa jenazah dikirim ke Wamena atau dibawa ke Sentani,” katanya mempertegas bahwa tidak ada muatan baik orang melainkan hanya barang seperti pakaian yang dibawa oleh sang pilot.

Disinggung penyebab jatuhnya pesawat, Dedy yang sebelumnya menjabat sebagai Komandar Kops Siswa Sesko AU di Lembang ini menjelaskan, hal tersebut menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT).

Sementara Mayor Pnb Jumarto saat ditanya wartawan setibanya di Hanggar TNI-AU usai dari lokasi menceritakan kesulitannya melakukan evakuasi, dimana setelah tiba di lokasi, tak lama kemudian daerah tersebut tertutup awan hingga diputuskan untuk pesawat kembali. Namun setelah 2 jam kemudian cuaca kembali jelek. Bahkan 2 pesawat jenis pilatus yang juga sempat ke lokasi akhirnya kembali dengan alasan yang sama.”Cuaca cepat sekali berubah,” katanya.

Dari lokasi jatuhnya tersebut dikatakan berada pada ketinggian 6200-6400 Feet antara pesawat dan bangkai pesawat sementara letak lokasi tersebut sekitar 7 mile dari Taife 2.

“Bangkai pesawat bisa dilihat jelas karena berada di atas perbukitan hanya kondisinya rusak parah karena terbelah menjadi 3 bagian,” ujar Mayor Jumarto.

Dikatakan pesawat tersebut diperkirakan jatuh akibat cuaca buruk lalu menabrak pohon hingga badan pesawat terpecah menjadi 3 bagian, dimana yang nampak ekor body tersebar dibawah pepohonan, sayap berada diatas pohon begitu pula dengan rover dan stabilizer yang tersangkut di pepohonan. “Hanya pesawat tidak meledak melainkan hanya terpecah-pecah,” ujarnya menggambarkan.
Rencananya hari ini (Selasa, 12/8) setelah dilakukan evakuasi jenazah akan dibawa ke Taife, namun jika tidak memungkinkan jenazah akan dibawa ke Ndundu.

Dalam pencarian kemarin, tim SAR (Search and Rescue) Nasional (Sarnas) dan Paskas TNI-AU melibatkan 12 orang. Mereka terdiri dari 5 crew pesawat, 3 personel paskas dan 4 personel Sarnas dengan menggunakan pesawat Super Puma dari skadron 6 dengan registrasi H-3211 yang dipiloti Mayor Pnb Jumarto dan Kapt Pnb Suryo.

Pesawat Super Puma ini berangkat dari hangar TNI-AU pukul 06.33 WIT langsung menuju lokasi jatuhnya pesawat. Hanya sayangnya karena faktor cuaca, pilot yang dipastikan tewas akhirnya tidak berhasil dievakuasi meski berhasil ditemukan.(jk/ade)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah Perjuangan yang harus kita junjung bersama

Agustus 12, 2008 at 10:56 pm (Uncategorized) (, , , , , , )

http://www.cenderawasihpos.com/utm/UTM1.jpgSALAM JUMPA DAN SALAM KENAL BAGI SEMUA BANGSA PAPUA YANG DAPAT MEMBACA RINGKASAN SAYA INI, SEBAGAI ANAK PAPUA SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH DAN MENGUCAP SYUKUR PADA TUHAN, KARNA LEWAT INI KITA SEBAGAI BANGSA YANG DI TINDAS DIMANA SAJA KITA BERADA ? KITA BISA SALING KENAL DAN BERGANDENGAN TANGAN, BERSATU, SERTA MEMBANGUN JIWA SEMANGAT KITA UNTUK MEREBUT HAK KITA KEMBALI DARI BANGSA PENJAJAH, YANG SELAMA INI TELAH MENINDAS DAN MERAMPOK DAN MERAMPAS KEHIDUPAN DAN HARTA KEKAYAAN KITA. UNTUK SEMUA ITU SAYA SEBAGAI PEREMPUAN PAPUA YANG TELAH MENGAMBIL JALAN INI, SAYA SANGAT BERTERIMAKASIH PADA SIAPA SAJA YANG MEMBACA DAN MENGERTI MAKSUD DAN TUJUAN DISINI SAYA SANGAT-SANGAT BERTERIMAKASIH DAN MENGUCAP SYUKUR PADA TUHAN SEMUA ORANG PAPUA YANG SELALU MENYERTAI KITA DALAM SEGALA KARYA KITA. SYALOM

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Test

Agustus 11, 2008 at 2:00 pm (Uncategorized)

Test

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

Agustus 11, 2008 at 4:24 am (Uncategorized)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar