11 Anggota Brimob Diperiksa

Juli 7, 2009 at 4:59 am (kekerasan) (, , )

04 Juli 2009 15:47:49
Terkait Bentrok di Paniai
JAYAPURA-Bentrok antara masyarakat dengan aparat Brimob di Enarotali, Distrik Paniai Timur, Kabupaten Paniai yang berujung tewasnya 1 warga dan 4 orang luka-luka termasuk anggota Brimob, masih terus diselidiki Polda Papua.

Bahkan, Polda Papua kini telah melakukan pemeriksaan terhadap 11 anggota Brimob yang terlibat dalam kasus tersebut, termasuk beberapa warga masyarakat juga telah dimintai keterangannya.

Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan pihaknya sudah memintai keterangan terhadap 11 anggota Brimob dan beberapa saksi dari warga. “Penembakan yang dilakukan oleh anggota Brimob dalam insiden itu, sudah sesuai dengan prosedur,” ungkap Nurhabri, Jumat (3/7) kemarin.

Dari hasil pemeriksaan saksi-saksi itu, lanjut Nurhabri, diketahui bahwa insiden bentrokan tersebut bermula ketika masyarakat dari Marga Boma mendatangi rumah Yosias Degey di Aikai sambil melakukan tarian adat untuk menuntut denda atas dugaan keluarga mereka yang diduga dibunuh oleh keluarga Degey pada 13 Juni 2009 lalu.

Bahkan, masyarakat dari Marga Boma tersebut kemudian melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey. Sementara itu, anggota Brimo yang di BKO-kan di Polres Paniai saat itu baru pulang dari Mapolresta setelah apel pagi.

Tidak jauh dari Pos Brimob tersebut, anggota Brimob melihat masyarakat dari keluarga Boma sudah melakukan pengrusakan di rumah Yosias Degey, sehingga anggota Brimob yang berjumlah 11 orang tersebut berusaha untuk melerainya.

Namun, saat itu justru anggota Brimob tersebut diserang ratusan masyarakat dari keluarga Boma tersebut dengan parang, panah, kapak, batu dan kayu. “Anggota sempat mengeluarkan tembakan peringatan ke atas, namun massa tetap anarkis bahkan ada yang berusaha merebut senjata anggota Brimob, sehingga anggota langsung melakukan tembakan untuk melumpuhkan. Itu pun dengan peluru karet,” jelas Nurhabri.

Nurhabri mengungkapkan pemicunya sebenarnya masalah tuntuan keluarga Boma yang meminta denda adat kepada marga Degey. “Dua hari sebelum Manis Boma meninggal, sempat bertengkar dengan salah seorang dari marga Degey sehingga diklaim mereka sebagai penyebab meninggalnya Manis Boma tersebut, padahal korban meninggal karena sakit jantung,” ungkapnya.

Ditambahkan, pasca terjadinya bentrok tersebut, sampai saat ini situasi di Enarotali, Kabupaten Paniai dalam keadaan aman. “Sekarang sudah aman dan masyarakat sudah beraktifitas seperti biasanya,” imbuhnya.

Sementara itu, dari kejadian itu terjadi korban tewas Matheus Boma (54) terkena tembakan, Marthen Pigay (27) terkena tembak di paha kanan, Simon Keiye (25) luka tembak di bagian kakikiri, Pentetius Boma (50) luka tembak paha kanan dan Bripda Faizal (24) luka panah di pantatnya dan mendapatkan 5 jahitan. “Korban luka semua dirawat di Paniai dan kini sudah membaik,” pungkasnya. (bat)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kerusakan Hutan Diperkirakan Capai 5 Juta HA

Juli 7, 2009 at 4:41 am (alam) (, )

¶ Topik SPM | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:16 | § Add a Comment

JAYAPURA-Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Ir Karjono, MP, mengungkapkan bahwa kerusakan hutan di Papua cukup mengkhawatirkan dan bisa dikatakan dalam kondisi lampu kuning. Sebab luas hutan yang mengalami kerusakan diperkirakan telah mencapai 5 juta HA.

“Bila dibandingkan dengan luas hutan kita yang da di Papua sekitar 330 juta HA, kerusakan hutan dan lahan yang potensial kritis sebesar 5 juta Ha tentunya masih kecil. Tetapi hal itu perlu mendapat perhatian serius,” ungkap Karjono saat ditemui Cenderawasih Pos di sela kegiatan Penyegaran Pengelolaan DAS Aparat Kehutanan Tahun 2009 di Hotel Relat, Rabu (3/6).

Dikatakan, dari 5 juta Ha areal hutan yang mengalami kerusakan dibagi dalam tiga kategori yaitu potensial kritis atau amat kritis, agak kritis dan kritis sekali. Sedangkan kondisi lahan yang masuk kategori kritis sekali menurut Karjono diperkirakan mencapai 3 juta Ha. “Ini diduga akibat adanya pertambahan penduduk,

perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurangnya keterpaduan antar sektor dan antar wilayah dari hulu hingga hilir dalam pengelolaan DAS,” jelasnya.

Untuk memperbaiki atau merehabilitasi lahan kritis tersebut, pemerintah bersama masyarakat menurutnya telah melakukan berbagai upaya antara lain melalui program penyelamatan hutan, reboisasi, Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK).

“Semua itu merupakan dasar untuk mewujudkan perbaikan lingkungan penanggulangan bencana bajir, tanah longsor dan kekeringan secara terpadu, transparan dan partisipatif,” tambahnya.

Upaya rehabilitasilahan dan hutan yang mulai dilakukan sejak tahun 2004, menurut Karjono sudah mulai menampakan hasil. Dari program-program yang dilakukan, lahan dan hutan yang berhasil direhabilitasi sekitar 34.000 Ha.(ind)

Popularity: 12% [?]
Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua Kecewa
¶ Papua | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 17:15 | § Add a Comment

JAYAPURA-Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Keadilan dan Perdamaian Papua yang juga gabungan penasehat hukum empat tersangka penyerangan Mapolsek Abepura pada Kamis (9/4) masing-masing Yance Yogobi, Dino Agubi, Andi Gobay dan Jhoni Hisage yang kini dalam proses penyidikan di Mapolda Papua mengaku kecewa dengan penyidik Polda Papua

Ketua Tim Penasehat Hukum keempat terdakwa, Gustaf Kawer, SH, mengaku kecewa [...]

Popularity: 13% [?]
Tiga Tahun Setelah itu, Pengungsi Asal West Papua di Australia Mendapat Izin Menetap
¶ Asiaoceania, Catatan Khusus | ©admin | @ Jumat, Juni 5, 2009 2:39 | § Add a Comment

Media NKRI memang jelas tidak memberitakan sedikitpun mengenai kemenangan diplomasi Papua Merdeka. Pada minggu ini, tepatnya 2 Juni 2009, Hermain Wainggai, salah seorang anak Alm. Thom Wainggai mendapat izin tinggal tetap di Australia.

Seperti dilaporkan dalam versi Inggris @westpapua.net, Julius Kogoya, Izack Marani dan Richard Rumbiak di samping Marike Tebay, Papuana Motte, William Omabak, dan [...]

Popularity: 15% [?]
Kelestarian Budaya Baliem Terancam Punah
¶ Masyarakat Adat | ©admin | @ Kamis, Juni 4, 2009 17:05 | § Add a Comment

WAMENA-Pimpinan Sanggar Seni Dani Baliem Wamena, Yoko Huby mengatakan, sejak berdiri pada 2002 lalu, hingga saat ini pihaknya belum mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya baik dalam bentuk bantuan maupun pembinaan.

“Kami sudah beberapa kali ajukan permohonan bantuan guna memajukan sanggar seni ini demi kelestarian budaya Baliem, tapi belum ada direspon dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) [...]

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Di Yapen, Polisi Baku Tembak Dengan OPM

Juli 7, 2009 at 4:30 am (kemerdekaan) (, , )

4 Juli 2009 15:48:44

1 Anggota OPM Ditangkap, 1 Menyerahkan Diri
JAYAPURA-Baku tembak antara anggota Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua dengan anggota TPN/OPM dilaporkan terjadi di Distrik Poiway, Waropen, Selasa (2/7) kemarin.

Dalam kontak tembak yang berlangsung beberapa saat dalam penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Eric Manitori itu, aparat dari Polres Kepulauan Yapen yang berjumlah 15 personel dan dibackup 5 personel TNI dari Kodim 1709, berhasil menangkap 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen.

Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya membenarkan adanya kejadian kontak tembak antara aparat keamanan dengann kelompok TPN/OPM tersebut.

“Kami telah berhasil melakukan penghadangan terhadap kelompok TPN/OPM di wilaya Poiway, Waropen. Kami menduga kelompok ini merupakan pelarian dari Mamberamo Raya di bawah pimpinan Eric Manitori,” ungkap Kapolres Imam Setiawan, Jumat (3/7) kemarin.

Selain berhasil menangkap salah satu dari anggota TPN/OPM, pihaknya juga berhasil mengamankan ratusan barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.

Dari kejadian kontak tembak tersebut, lanjut Kapolres Imam Setiawan, anggota TPN/OPM berhasil melarikan diri masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.

Sehari kemudian (Jumat, 3/7), ujar Kapolres Imam Setiawan, seorang anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Yance Mabuai menyerahkan diri, setelah melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua.

“Kini keduanya telah berada di Polres Kepulauan Yapen dalam pemeriksaan secara intensif dalam rangka penyelidikan lebih lanjut,” ungkap Imam Setiawan.

Kapolres menegaskan bahwa saat ini pihaknya masih memburu TPN/OPM di bawah pimpinan Erik Manitori yang diduga kuat telah bersembunyi di hutan tersebut.

“Polres masih terus melakukan pengusutan terhadap para pelaku lainnya yang terdaftar dalam dokumen yang kami temukan setelah kontak senjata tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri saat dikonfirmasi juga membenarkan adanya kejadian penghadangan tersebut. Nurhabri menduga bahwa kelompok TPN/OPM tersebut diduga merupakan pecahan kelompok TPN/OPM di bawah pimpinan Decky Imbiri yang melakukan penguasaan Lapter Kapeso, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua, selama beberapa minggu lalu.

“Bisa saja, itu bagian dari kelompok TPN/OPM yang sempat menguasai Lapter Kapeso. Apalagi, dari penghadangan itu, ditemukan dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso,” ungkap Nurhabri.

Saat ini, imbuh Nurhabri, aparat kepolisian setempat masih melakukan upaya pengejaran terhadap kelompok TPN/OPM yang melarikan diri ke dalam hutan tersebut.

Sebelumnya, Polda Papua berhasil menguasai Lapter Kapeso tersebut dari penguasaan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri dan mereka melarikan diri yang diperkirakan menuju ke arah Serui. (bat)

Barang bukti diamankan

1. 4 senjata api laras panjang rakitan.
2. 3 pistol rakitan.
3. 1 pelontar granat.
4. 4 sangkur.
5. 7 pisau tulang beracun.
6. 8 butir amunisi SS1.
7. 3 butir amunisi LE.
8. 3 butir amunisi moser.
9. 2 butir amunisi revolver.
10. 3 bendera bintang kejora.
11. 14 ikat kepala jimat warna merah.
12. 5 ikat kepala jimat warna hitam.
13. 16 kalung jimat.
14. 9 kalung salib.
15. 5 batu jimat.
16. 5 taring babi.
17. 7 seragam loreng OPM.
18. bahan makanan sagu.
19. 13 lembar kartu tanda anggota TPN/OPM 203.
20. dokumen rencana penyerangan bandara Kapeso.
21. 17 busur.
22. 144 anak panah.
23. 1 bambu runcing.
24. 1 rangsel militer.
25. 7 alkitab
26. 5 lembar foto.

Sumber Polres Kepulauan Yapen, Papua.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Dua Anggota OPM Akan Dikirim ke Polda

Juli 7, 2009 at 4:21 am (Uncategorized)

06 Juli 2009 09:45:57
JAYAPURA-Dua anggota TPN/OPM yang telah diamankan di Polres Kepulauan Yapen, Provinsi Papua, yang mana satu diantaranya ditangkap dalam penghadangan di Distrik Poiway, Kabupaten Kepulauan Yapen, Selasa (2/7) lalu dan satunya lagi karena menyerahkan diri sehari kemudian, sesuai rencana akan dikirim ke Polda Papua.

ìRencananya, kedua anggota TPN/OPM yang ditangkap dan menyerahkan diri itu, akan kami kirim ke Polda Papua untuk penyidikan lebih lanjut,î kata Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Imam Setiawan ketika dihubungi Cenderawasih Pos via telepon selulernya, Minggu (5/7) kemarin.

Hanya saja, kapan rencana kedua anggota TPN/OPM akan dikirim ke Polda Papua, Kapolres Imam Setiawan belum mau mengungkapnya, yang jelas, keduanya pasti akan dikirim ke Polda Papua.

Apalagi, lanjut Kapolres Imam Setiawan, pihaknya masih melakukan pengembangan penyelidikan dan penyidikan terkait penghadangan kelompok TPN/OPM yang diketahui di bawah pimpinan Erick Manitori yang sempat melakukan perlawanan dengan tembakan itu.

Kapolres Imam Setiawan mengakui, kedua anggota TPN/OPM tersebut, sudah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat dengan pasal 106 KUHP tentang makar. ìKami sudah melakukan penahanan terhadap keduanya,î ungkap Imam.

Sementara itu, terkait dengan anggota TPN/OPM di bawah pimpinan Erick Manitori yang melarikan diri ke hutan, Kapolres menegaskan pihaknya sampai saat ini masih melakukan pengejaran. ìKami masih berupaya untuk mengejar mereka,î tandasnya.

Sementara itu, Plh Kabid Humas Polda Papua, AKBP Nurhabri mengatakan ada kemungkinan bahwa kelompok TPN/OPM di bawah pimpian Erick Manitori ada kaitannya dengan kelompok TPN/OPM pimpinan Decky Imbiri yang sempat menguasai Lapter Kapeso, Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya hingga hampir 1 bulan tersebut.

ìDari penghadangan itu, kami menemukan adanya dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso. Hanya saja, apakah ada kaitannya dengan kelompok Decky Imbiri kami belum bisa memastikan, karena masih kami pelajari,î imbuhnya.

Sekadar diketahui, dalam penghadangan itu, 15 personel dari Polres Kepulauan Yapen yang diback up 5 anggota TNI dari Kodim 1709 sempat terlibat kontak senjata di Poiway, Selasa (2/7).

Dalam penghadangan itu, 1 anggota TPN/OPM yang diketahui bernama Natanael (27) warga Korongbobi, Serui, Kabupaten Kepulauan Yapen berhasil ditangkap.

Selain itu, aparat juga berhasil mengamankan cukup banyak barang bukti, termasuk senjata api laras panjang rakitan, pistol rakitan, pelontar granat rakitan, belasan senjata tajam, termasuk busur dan anak panah serta belasan jimat, dokumen rencana penyerangan Lapter Kapeso dan bendera Bintang Kejora.

Dari kejadian kontak tembak itu, sekitar 20 anggota TPN/OPM berhasil lari masuk ke hutan dan diperkirakan 3 orang dari pihak OPM terluka, namun berhasil diselamatkan oleh rekan mereka.

Jumat (3/7), seorang anggota TPN/OPM bernama Yance Mabuai menyerahkan diri melalui aparat Bamuskam Poiwai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua. (bat

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bintang Kejora Berkibar di 5 Tempat

Juli 2, 2009 at 7:46 pm (kemerdekaan) (, , )

Kapolda: Itu Untuk Cari Perhatian Saja

JAYAPURA – Meski Polda Papua telah melakukan antisipasi terhadap 1 Juli yang diklaim merupakan HUT Organisasi Papua Merdeka, ternyata Bendera Bintang Kejora yang merupakan simbol Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilaporkan telah berkibar di 5 tempat berbeda di wilayah Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan Keerom.

Setidaknya, Bendera Bintang Kejora dilaporkan telah ditancapkan di depan pagar SMPN 5 Keerom di Kampung Yanamaa, Distrik Arso, Kabupaten Keerom, sekitar pukul 03.00 WIT kemarin. Tidak jauh dari tempat tersebut, ditemukan juga Bendera Bintang Kejora Dikibarkan di Kampung Workwama, Perkebunan Kelapa Sawit Pir 2 Arso, tepatnya di perbukitan dengan ketinggian sekitar 50 meter dari jalan utama.

Selain itu, dikabarkan juga, bendera bercorak cerah itu berkibar sekitar pukul 05.45 WIT di dua tempat terpisah di Sentani, Kabupaten Jayapura, yakni di atas sebuah gunung di belakang Koramil. Bendera di pasang badan salib. Sementara Bendera Bintang Kejora lainnya dikibarkan di ujung landasan Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura.

Tidak hanya itu, bendera milik OPM tersebut diduga juga telah dikibarkan di sebuah tempat di Waena, yakni di daerah perbatasan antara Kota Jayapura dengan Kabupaten Jayapura.

Dari data yang dihimpun Cenderawasih Pos, 2 Bendera Bintang Kejora yang dilaporkan berkibar di Sentani diperkirakan telah dikibarkan sejak malam harinya dan baru diketahui pukul 06.00 WIT pagi hari, dan barang bukti berupa bendera tersebut khususnya di atas bukit langsung diamankan oleh pihak Koramil Sentani.

Kapolres Jayapura, AKBP Mathius Fakhiri SIK, saat dikonfirmasi, membenarkan adanya aksi pengibaran bendera pada dua titik tersebut.

“Ya memang ada informasi yang kami dengar seperti itu adanya pengibaran bendera di Bandara Sentani dan di atas bukit di belakang Koramil Sentani,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos disela-sela anjangsana di Panti Asuhan dan Pondok Pesantren YPKP Sentani, Rabu, (1/7).

Kata Kapolres, meski mengetahui ada informasi pengibaran bendera, namun barang bukti (BB) belum ditemukan. Untuk itu, penyidik akan mengkonfirmasikan ke pihak Koramil guna mengetahui secara pasti tentang permasalahan pengibaran Bintang Kejora itu.

Termasuk siapa saja yang mengetahui akan persoalan itu diharapkan partisipasinya memberikan informasi, termauk barang bukti kepada penyidik. “Namun persoalan itu akan tetap ditindaklanjuti untuk mengetahui siapa sebenarnya pelaku dan dalang utama pengibaran Bintang Kejora tersebut,” jelas Kapolres Fakhiri.

Menanggapi adanya pengibaran Bendera Bintang Kejora ini, Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yomboisembut menandaskan, bila dilihat dari pengalaman-pengalaman sebelumnya aksi pengibaran bendera itu bukan dilakukan oleh masyarakat adat Papua, tapi pihak lain yang dengan sengaja memanfaatkan situasi yang ada guna mengkambing hitamkan orang atau organisasi tertentu.

Kedua, jika memang orang adat Papua yang mengibarkan, maka orang itu digunakan oleh para penguasa yang memiliki kuasa, uang dan fasilitas yang kemudian oknum itu menjadi agen provokasi.

“Saya lihat ini bermuara bagaimana penguasa itu menjerat organisasi tertentu ke masalah hukum. Contohnya saja yang dulu ditemukan di kantor DAP ada senjata, padahal mana ada kami punya senjata?,” tandas Forkorus di kediamannya, kemarin.

Menurutnya, setelah organisasi tersebut dijerat hukum, maka langkah selanjutnya penguasa itu membersihkan orang tadi gunakan itu guna tidak diketahui siapa yang menjadi pelaku yang sebenarnya.

Ditegaskan, jika dilihat dari lokasi pengibarannya, yaitu di belakang Koramil di Sentani, sudah pasti itu adalah orang pintar bukan orang bodoh. Dan orang itu sudah pasti diiming-iming dengan janji.

“Ya nyatakan bahwa pada dasarnya skenarionya sudah diatur sedemikin bagus untuk memojokan organisasi tertentu yang bertujuan memberikan efek jera,” tukasnya lagi.

Ia juga mempertanyakan bahwa kenapa selama ini jika pihak TNI yang menemukan dan menahan BB Bintang Kejora. Nah ini jelas suatu kejanggalan karena TNI tugasnya bertempur, dan kenapa itu tidak diserahkan ke Polisi yang punya kewenangan untuk melakukan penyidikan itu.

Ditambahkannya, setahu dirinya jika TPM menaikan Bintang Kejora, mereka tidak menaikan di belakang Kantor Koramil dan lainnya, tapi mengibarkan di markasnya atau tempat-tempat yang sudah dikhususkan. Dan itupun melalui prosesi penting, contohnya menyanyikan lagu kebangsaan.

Terkait dengan itu, diharapkan kepada masyarakat Papua supaya tetap tenang, jangan terpengaruh dengan isu yang tidak bertanggungjawab, jangan ikut jadi agen profokasi, supaya tidak terlibat dalam kasus hukum, karena itu tidak ada untungnya.

Sementara untuk Bendera Bintang Kejora yang berkibar di dua tempat di Kabupaten Keerom sempat diturunkan oleh anggota Polres Keerom setelah mendapatkan informasi dari masyarakat, selanjutnya diamankan ke Mapolres Keerom bersama kayu sekitar 3 meter yang digunakan untuk menancapkan bendera tersebut. Diketahui, bendera tersebut diperkirakan berukuran 1 meter x 72 cm. Hingga kini pelaku pengibaran belum diketahui, diduga mereka langsung melarikan diri setelah mengibarkan bendera tersebut, seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto saat dikonfirmasi membenarkan adanya pengibaran bendera Bintang Kejora tersebut. Hanya saja, Kapolda mengakui baru mendapatkan laporan pengibaran bendera bintang kejora tersebut di dua tempat di Keerom.

“Sesuai laporan yang saya terima hanya di daerah Keerom saja, itupun sudah diantisipasi,” kata Kapolda Bagus Ekodanto di Lapangan SPN Jayapura usai upacara HUT Bhayangkara ke-63, 1 Juli 2009 kemarin.

Kapolda mengatakan informasi yang diperolehnya, bahwa pengibaran bendera Bintang Kejora itu ditempatkan di depan pagar sekolah SMPN 1 Keerom dan beberapa meter jalan arah bukit di Kampung Workwama, Keerom.

Kapolda menilai pelaku yang mengibarkan merupakan masyarakat yang tidak puas, karena kesejahteraan atau hal lainnya sehingga melakukan hal tersebut. “Itu bentuk mencari perhatian saja,” ungkap Kapolda.

Yang jelas, tegas Kapolda Bagus Ekodanto, pelaku pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut, jelas melakuakn pelanggaran terhadap ketertiban umum. ” Mereka melanggar ketertiban umum, maksudnya dalam arti kepentingan orang per orang, bukan kelompok. Yang pasti, dilakukan oleh orang perorang dan sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggungjawab,” ujarnya.

Sementara itu ditanya kekuatan TPN/OPM di Papua? Kapolda mengakui belum tahu secara persis, namun yang jelas kelompok tersebut ada di Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, perbatasan Papua New Guinie (PNG) namun relatif kecil jumlahnya.

Kapolda menegaskan bahwa pada peringatan HUT Bhayangkara 1 Juli 2009 ini, jauh relatif aman di seluruh Papua, apalagi kesadaran masyarakat juga makin meningkat, karena mereka mengetahui bahwa pengibaran Bendera Bintang Kejora tersebut merupakan kepentingan orang-orang tertentu saja.

Khusus di Tingginambut, Puncak Jaya, Kapolda mengungkapkan bahwa 3 hari lalu, sempat terjadi insiden penembakan terhadap iring-iringan masyarakat yang membawa bahan makanan lewat jalan dari dari Wamena-Mulia, namun namun tidak ada korban jiwa dan hanya mengenai kendaraan saja. “Tim saya dari Brimob juga sudah lidik di Tingginambut,” ujarnya.

Terkait dengan pengamanan Pemilu presiden yang sudah dekat, Kapolda menambahkan pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan KPU Provinsi Papua untuk mempersiapkan Pemilu lebih baik, sehingga pihaknya berharap pelaksanaan Pilpres lebih baik dari Pemilu legislatif beberapa bulan lalu. “Semoga tidak terjadi ( gangguan keamanan, red) dan kita terus lakukan upaya untuk mengantisipasinya,” imbuhnya. (nls/bat)

Pengibaran Bintang Kejora di Papua

Pengibaran Bintang Kejora di Papua

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Komitmen Penegakan HAM di Papua

Juni 30, 2009 at 7:42 pm (Penaganan Otsus di Papua) ()

Janji Boediono pada Safari Politiknya di Jayapura
JAYAPURA-Kasus-kasus pelanggaran HAM yang selama ini masih banyak terjadi di Papua, ke depan, diharapkan tidak lagi terulang. Demikian salah satu janji yang ditebarkan Cawapres nomor urut 2, Boediono saat safari politik di Kota Jayapura, kemarin.

Ia mengatakan, jika dirinya yang berpasangan Capres SBY dipercaya memimpin bangsa lima tahun ke depan, maka salah satu komitmen mereka adalah penegakan HAM di Indonesia, termasuk Papua. “Di semua daerah di Indonesia, penegakan HAM jadi komitmen kami bersama pak SBY,”katanya menjawab pertanyaan Cenderawasih Pos, usai sholat Jumat di Masjid Al Fitra, Perumahan Jaya Asri Entrop, kemarin.

Sementara itu, kepada wartawan Boediono mengakui, tidak banyak menyinggung masalah Ekonomi di depan massa di PTC, lantaran waktu cukup terbatas.”Jadi benar saya tidak masuk ke masalah ekonomi,”jelasnya.
Namun Boediono mengaku, cukup kagum dengan sambutan dari tokoh masyarakat, kepala suku, tokoh agama dan masyarakat Papua. “Semuanya nampaknya merasa bahwa Papua perlu perhatian, dan kita tentunya akan memberikan perhatian itu untuk ditingkatkan lagi,”tambahnya.

Ia pun mengatakan, membangun Papua harus dengan menggunakan hati,daripada hanya hitung-hitungan proyek-proyek.

Sebelum Shalat Jumat, Boediono sempat mengunjungi pasar rakyat di samping PTC Entrop. Setelah itu, pertemuan terbatas sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan para kader partai pendukung SBY-Boediono.

Meski bukan datang berorasi kampanye, namun kedatangan Boediono di PTC sempat disambut yel-yel dan tarian adat. Di pasar PTC, Boediono hanya sekitar lima menit. Selain melihat dari dekat kondisi pasar, juga sempat dialog singkat beberapa penjual sayur. Ia sempat menggendong seorang bocah.

Saat di PTC kemarin, pertemuan terbatas dengan tajuk Boediono mendengar, diawali ucapan selamat datang sekalis laporan ketua tim Kampanye Daerah, Yusak Yaluwo,Sh,M.Si. Setelah itu, dilanjutkan sambutan Korwil 9 Timnas SBY-Budiono untuk Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Malut, Fredy Numberi.

Pada intinya Numberi mengajak masyarakat Papua, mendukung pasangan Capres/Cawapres SBY-Boediono pada Pilpres 8 Juli mendatang.

Sebab diakui, selama kepemimpinan SBY, 4 tahun berjalan, sudah banyak
hal dilakukan, tapi tentunya akan lebih baik lagi dilanjutkan
kedepan, termasuk Papua.

Diakui, banyak masalah dihadapi, tapi diyakini semua itu tidak bisa dijawab seperti membalikkan telapak tangan. “Dengan komitmen SBY-Budiono ini, untuk membangun Indonesia, lebih aman, adil dan sejahtera dan demokratis, saya yakin Tanah Papua pun akan diangkat, lebih aman, adil dan sejahtera,”jelas Numberi.

Sementara itu, mengawali sambutannya, Boediono menyatakan rasa kagumnya terhadap keindahan dan kekayaan alam Papua, khususnya Kota Jayapura. “Papua begitu besar potensinya, tapi saya katakan bukan hanya besar tetapi indah alamnya. Kita jaga, tetapi juga kita kelola untuk kesejahteraan masyarakat,”katanya.

Ia juga melihat telah banyak kemajuan pembangunan di Papua, akan terus dilanjutkan. “Banyak sekali pejabat putera Papua yang menduduki jabatan strategis di daerah. Di tingkat nasional semoga dalam waktu depan Number-Numberi lain banyak lagi,”janjinya. Dikatakan, salah satu kebijakan yang akan dilakukan bila terpilih nantinya adalah upaya memajukan sumber daya manusia di berbagai provinsi, termasuk Papua ini.

“Saya beri kesempatan bagi putera Papua untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi,sehingga nantinya mendapatkan jabatan lebih tinggi,”katanya
disambut yel-yel lanjutkan.

Dijelaskan, untuk maju memimpin bangsa ini menjadi besar, putera Papua memiliki kesempatan yang sama dengan daerah lainnya. ” Dan kami sangat mendukung untuk maju memimpin bangsa ini kedepan,”ujarnya.

Kedua lanjutnya, jika melihat tema utama dari pemerintahan yang diinginkan pasangan SBY-Budiono adalah pemerintahan yang bersih, tidak dinodai oleh penyelewengan, korupsi, dan lainnya. Kesemuanya itu untuk kepentingan melayani rakyat bukan pejabat. Jadi, pemerintahan untuk rakyat, bukan untuk pejabat atau kelompok tertentu tapi kembali ke masyarakat. “Ini lah tema utama yang saya
kira akan menjadi langkah yang paling penting kedepan ini bagi kita untuk maju dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Tidak bisa tidak. Kita harus mempunyai pemerintahan yang bersih Dan melayani rakyatnya,”katanya bersemangat.

Kekayaan alam yang melimpah, harus dikelolah baik demi kesejahteraan rakyat. “Kita akan mendukung dari pusat, apakah itu infrastruktur, tentunya bersama-sama dengan Pemda. Dalam era Otda, Pemda pegang peranan penting. Dana sudah banyak mengalir ke daerah, pusat tetap membantu berupa dana maupun dukungan lain, apakah itu keahlian di bidang tertentu yang belum tersedia di Papua. Pak SBY dan saya sangat berharap peran kita di tengah-tengah masyarakat. Gunakan waktu sebaik-baiknya, saudara-saudara ujung tombak dari kami untuk bekerja di tengah-tengah masyarakat dalam memenangkan SBY-Budiono,”ujarnya.

Ia juga mengingatkan massa pendukungnya tidak termakan isu yang berkembang belakangan ini. “Jangan termakan isu, Pilpres menang kabinet akan dipilih dari putera-putri terbaik bangsa. Itu nanti kalau menang. Istilahnya jangan takabur,”tambahnya.

Sementara itu rencana mengunjungi Pasar Youtefa Kotaraja, terpaksa
diurungkan lantaran Boediono harus mengejar waktu melanjutkan safari polotiknya ke Kupang.(don)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

FINAL LIGA COPA YG TIDAK PROFESIONAL

Juni 28, 2009 at 10:21 pm (alam) ()

Pertaningan FINAL LIGA COPA INDONESIA antara PERSIPURA VS SRIWIJAYA FC Penuh dengan kecurangan dan
sangat tidak profesional,dengan kepemimpinan wasit yg tidak jujur dalam memimpin pertandingan.seharusnya
wasit harus tidak memihak pada satu tim,bagaimana persepakbolaan INDONESIA bisa maju dan berkembang.
wasit yang bernama PURWANTO sudah tidak layak untuk memimpin suatu pertandingan.karna faktor umur dan kwalitas sebagai WASIT tidak di miliki oleh PURWANTO.PURWANTO anda semestinya udah pensiun cos udah tua…..muka lho aja kelihatan sebagai orang yang tidak jujur dan mata duitan……..”DASAR WASIT ASUH”!!!!

Permalink 2 Komentar

Janji Pertahankan Otsus

Juni 25, 2009 at 1:17 pm (Penaganan Otsus di Papua) ()

Capres JK Sempat Ditodong Jatah Menteri dari Papua
JAYAPURA- Calon Presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK) dalam kampanye perdana di Jayapura yang berlangsung di GOR Cenderawasih, Jayapura, Papua, Sabtu (20/6) kemarin, berjanji akan mempertahankan pelaksanaan Otonomi Khusus (Otsus) baik di Aceh, maupun di Papua.

Selain itu, JK juga pada kesempatan yang sama, semp at ditodong massa pendukungnya, Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Jayapura, Franklin Wahae terang-terangan menyampaikan hal itu. “Jika jadi presiden, kami minta agar bapak JK membentuk satu menteri khusus untuk Papua,” kata Franklin yang dibalas dengan senyuman oleh JK.

Selain itu, Presiden Mahasiswa USTJ, Muhammad Maulana juga terang-terangan meminta kepada JK jika menjadi presiden untuk jatah menteri dari orang Papua. “Jika bapak menjadi presiden, apakah ada jatah menteri dari orang Papua,” tanya Muhammad Maulana.

Hanya saja, belum ada jawaban jelas dari JK, apalagi banyak pertanyaan yang dilontarkan dalam kampanye dialogis bersama para pendukungnya yang memenuhi GOR Cenderawasih Jayapura tersebut.

Jika ia terpilih menjadi presiden, JK mengaku berjanji akan melaksanakan dan menjalankan ketentuan otonomi khusus yang berlaku baik di Papua, Aceh dan DIY tersebut. “Kalau ada saya berjanji akan selalu menjalankan dan mempertahankan ketentuan Otsus yang berlaku baik di Papua dan Aceh. Saya selalu ingin meningkatkan kemampuan ekonomi di daerah untuk kepentingan daerah dan kesejahteraan rakyat Papua,” ujar JK yang langsung disambut yel-yel oleh pendukungnya.

Dalam kampanyenya, JK sempat memberikan selamat kepada Tim Persipura Jayapura atas kebersilannya menjuarai ISL. Untuk itulah, ia mengajak pendukungnya memiliki semangat dan kerja keras seperti yang dilakukan Persipura Jayapura untuk berjuang mencapai prestasi dan memenangkan pilpres tahun ini.

Apalagi, JK mengatakan jika sepak bola saja bisa menang, tentu bidang-bidang lain bisa dimenangkan, termasuk dalam upaya pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur di Papua, namun hal itu membutuhkan kerja keras.

JK juga menyampaikan bahwa ia bersama pasangan Cawapresnya, Wiranto sebagai pasangan nusantara. Hal ini untuk menjaga kekompakannya dari Sabang-Merauke, apalagi sejak dikumandangkan sumpah pemuda semua masyarakat berhak memimpin bangsa ini.

“Insyaallah, jika saya dan pak Wiranto memimpin bangsa ini, berarti tidak ada kata pantas-pantasan yang memimpin bangsa ini. Tapi tergantung siapa yang mampu dan sanggup dan siapa yang dapat memberikan kemajuan untuk bangsa ini,” ujarnya.

Bahkan, kata JK, jika ia berasal dari Sulawesi Selatan yang termasuk bagian Indonesia Timur dapat membuktikan untuk menjadi Presiden RI tersebut, tentu saja bisa saja dari Papua bisa memimpin bangsa ini. “Waktunya Presiden berasal dari Indonesia Timur. Jika ini terbukti, tentu juga teman-teman dari Papua pada waktunya dapat memimpin bangsa ini,” ujarnya.

Apalagi, lanjut JK, pemimpin bangsa ini tidak ditentukan dimana tempat lahirnya, tapi tergantung apa kemampuan dan kelebihannya, sehingga jika ia dipilih, JK berjanji akan menjaga keharmonisan bangsa, memajukan bangsa dan berjuang untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

Untuk memanjukan bangsa ini, ujar JK, perlu lebih cepat lebih baik, karena bangsa ini memilikikekayaan alam yang tinggal membutuhkan kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.

“Kami selalu mengatakan bangsa ini harus maju, lebih cepat lebih baik. Kenapa lebih cepat karena kita sudah ketinggalan dibanding bangsa-bangsa lain, kita sudah ketinggalan dari Malaysia, Singapura dan lainnya. Sehingga perlu berjuang lebih cepat,” tandasnya.

Dikatakan, pemimpin yang baik yakni yang dapat keputusan, mengarahkan dan bertanggungjawab apa yang dilakukannya untuk kepentingan semua rakyat. Lebih cepat dalam hal pemerintahan yang baik, tidak ingin proses pemerintahan berjalan lambat, pelayanan masyarakat lambat, sehingga program pemerintah harus lebih cepat, termasuk di Papua yang banyak kesulitank karena luas medan sehingga infrastruktur harus dipercepat dibangun bersama-sama, termasuk pendidikan, kesehatan dan perekonomian rakyat.

Kehadiran JK dalam kampanye di Kota Jayapura ini, didampingi istrinya, Ny Mufidah Jusuf Kalla, putranya Solihin Kalla, serta anggota rombongan tetapnya seperti, Sekjen DPP Partai Golkar Soemarsono, Ali Mochtar Ngabalin, dan Yuddy Chrisnandi dengan menggunakan pesawat khusus.

Sementara itu, dalam kampanye di GOR Cenderawasih, JK dinobatkan menjadi anak adat Papua yang diawali dengan upacara menginjak kaki di piring yang digelar masyarakat adat dari Teluk Cenderawasih.

JK menginjakkan kakinya piring porselen asal Dinasti Ming, Tiongkok, yang merupakan alat bayar mas kawin penduduk Teluk Cenderawasih. Ia berdiri di atas piring yang tidak retak sedikit pun, sebagai simbol keberhasilan dalam pilpres.

Ondoafi Waena, Ramses Ohee, memasangkan topi kebesaran wilayah kebudayaan Tabi, Jayapura, berupa hiasan bulu burung Cenderawasih dan Kasuari. Menurut Ramses Ohee, pengukuhan terhadap JK sebagai anak adat itu, menandakan bahwa JK adalah seorang pemimpin rakyat Indonesia.

Untuk itu, Ramses Ohee mengajak semua untuk memperjuangkan JK-Win sebagai presiden dan wakil presidan. “Kami akan berjuang memenangkan JK-Win dalam pilpres tahun ini di Papua,” ujarnya.

Dalam acara ini, tampak hadir Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Barnabas Suebu, Ketua DPD Partai Golkar Kota Jayapura, Drs Manase Roberth Kambu MSi, Ketua DPD Partai Golkar Tolikara, DR (HC) Jhon Tabo, ketua DPD Partai Golkar dari Kabupaten lainnya bersama pengurus, kader dan simpatisan, termasuk ketua dan pengurus Partai Hanura di Papua.

Menariknya, dalam kampanye di GOR Cenderawasih ini, pengamanan sangat ketat. Bahkan, para kader dan simpatisan serta pengurus partai politik pendukung JK-Win juga harus melewati alat pendeteksi logam yang dipasang di pintu masuk GOR sebelah kiri.

Tidak hanya itu, setiap orang yang masuk harus digeledah baik tas maupun barang bawaan, termasuk periksa badan. “Waduh, ini ketat sekali pengamanannya. Pakai periksa badan lagi,” kata Jhon salah seorang penggemar JK kepada Cenderawasih Pos.

Sementara itu, ada yang berbeda pada kampanye JK di GOR Sabtu (20/6) lalu, dimana meski Partai Keadilan Sejahtera (PKS) resmi mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden SBY-Boediono dalam Pemilu presiden tahun ini, namun di lapisan bawah masih ada kader atau simpatisan yang mendukung pasangan JK-Wiranto.

Hal ini terlihat dengan keberadaan bendera PKS yang dikibar-kibarkan oleh seorang ibu muda berjilbab saat kampanye calon presiden Muhammad Jusuf Kalla (JK) yang berlangsung di GOR Cenderawasih, Sabtu (20/6) akhir pekan kemarin.

Bahkan, beberapa kali terlihat ibu muda yang diketahui bernama Hj Fatmawati ini, sering berteriak dengan semangat menyambut yel-yel JK-Wiranto.

Tidak hanya itu, wanita yang selain membawa bendera kebesaran Partai Keadilan Sejahtera tersebut, juga membawa famlet ‘JK: Jamin Kabinetnya’ tersebut, juga terlihat beberapa kali berdiri mengkibar-kibarkan bendera yang cukup besar tersebut dalam kampanye JK yang diikuti pendukung Persipura Jayapura atau Persipura Mania dan Persipura Junior.

“JK… JK. Lebih cepat lebih baik,” serunya mengikuti para pendukung kampanye JK-Win di GOR tersebut.
Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Keadilaan Sejahtera, Ichwanul Muslimin, SPd saat dikonfirmasi) mengenai adannya bendera PKS kampanye JK-WIN di GOR Cenderawasih, Sabtu (20/6) kemarin mengaku akan mencari dulu kebenaran informasi tersebut

“Kami akan terus mencari kebenaran dan segera mengklarifikasi adanya kejadian tersebut,”ungkapnya kepada Cenderawasih Pos melalui handphonenya, minggu (21/6) kemarin.

Dikatakan, PKS Papua masih tetap solid mulai dari DPC hingga DPD Kota/Kabupaaten di seluruh provinsi Papua tidak ada yang menyebarang ke calon presiden lainnya kecuali calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil presiden Boediono (SBY-Boediono).

“Kami tetap memilih SBY-Boediono sebagai Capres dan Wapres periode 2009-2014, tidak menyeberang ke Capres lain, ” tegasnya.(bat/ind)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Tokoh OPM Bertemu Gubernur

Maret 26, 2009 at 5:46 pm (Pejabat Daerah)

PDF Print E-mail
Ditulis Oleh: Islami/Papos
Selasa, 24 Maret 2009

http://papuapos.com
Cinderamata : Tokoh OPM Nicoolas Jouwe menerima cinderamata yang diserahkan oleh Gubernur Papua Barnabas Suebu, SH di Gedung Negara
JAYAPURA (PAPOS) -Setelah tiba di Jayapura, Minggu (22/3) lalu, menggunakan Pesawat dari Jakarta, tokoh atau pencetus Organisasi Papua Merdeka(OPM), Nicholas Jouwe, Senin (23/3) kemarin, melakukan pertemuan dengan Gubernur Papua, Barnabas Suebu SH.

Pertemuan di Gedung Negara (kediaman Gubernur Papua) dimulai sekitar pukul 10.00 WIT dan dilakukan secara tertutup, sehingga seluruh awak media baik cetak maupun elektronik, lokal, nasional dan mancanegara tidak diperkenankan masuk. Dalam pertemuan sekitar satu jam lebih itu, Nicholas Jouwe didampingi kedua anaknya Alexander Jouwe dan Nancy Leilani Jouwe, serta 2 orang pencari suaka yang telah kembali ke Indonesia, Alberth Frans Yoku dan Nikko Meset.

Dari pantauan Papua Pos, Gubernur Suebu didampingi beberapa pimpinan SKPD Pemprov dan staf ahli Gubernur, dari kaca luar terlihat pembicaraan keduanya sangat serius.

Usai pertemuan sekitar pukul 11.30 WIT, seluruh kuli tinta diperkenankan masuk mengabadikan gambar. Gubernur Papua, Barnabas Suebu, SH sempat memberikan sebuah kenang-kenangan kepada Nicholas Jouwe.

Kepada wartawan usai pertemuan Nicholas Jouwe mengatakan, bahwa dirinya ialah seorang pejuang dan semua orang mengetahui hal itu, tetapi Gubernur ialah seorang pelaksana.

“Gubernur lakukan tugas yang saya mimpikan, itu beda antara kami berdua. Saya sangat senang bertemu dengan Gubernur dan dia (Kaka Bas-red) ialah salah satu putera Papua yang duduk pada tempat yang benar,” ujar Jouwe.

Disampaikan, apa yang dikerjakannya dan diperjuangkan selama ini dari luar, dia (Gubernur-red) yang memperjuangkan dari dalam, dan hal itu dinilai Jouwe sangat bagus.

“Beliau lebih capek dari pada saya, sebab saya cuma kata-kata, Gubernur yang berbuat, beda antara kata dan perbuatan dan inilah bedanya. Ini artinya, apa yang diperjuangkan Youwe sudah dilaksanakan bapak Gubernur untuk membangun Papua,” tegas Nicholas Jouwe.

Disisi lain Gubernur Suebu menjelaskan, keinginan merdeka ialah untuk kesejahteraan dan sejahtera itu yang kini sedang dikerjakan pemerintah dengan melakukan pembangunan infrastruktur, pembangunan kampung, memperbaiki makanan dan gizi, pendidikan, kesehatan, rumah rakyat, air minum dan membangun Papua dari pemerintahan yang bersih dari korupsi.

“Jadi itu yang bapak (Nicholas Jouwe) katakan, saya berjuang secara politik karena isi dari kemerdekaan itu adalah pada akhirnya untuk rakyat sejahtera, pendidikan dan kesehatan baik, itu yang beliau maksudkan,” ungkap Suebu.(islami)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kejari Biak Dipraperadilankan

Januari 17, 2009 at 11:34 pm (korupsi) (, , )

10 Januari 2009 09:05:00

Hakim Sempat Marah-marah Saat Wartawan Mengambil Gambar

BIAK-Kejaksaan Negeri Biak dipraperadilan oleh tiga tersangka dugaan korupsi pengadaan meubelair di BP3D Biak Numfor, masing-masing YS, HS SF. Dalam kasus prapedilan ini, pemohon menilai penahanan, penangkapan dan pemblokiran rekening HS dinilai menyalahi aturan. Oleh karena itu, ketiga pemohon mengajukan gugatan pra peradilan kepada Kejari Biak.

“Kami menilai ada aturan-aturan hukum yang kurang diterapkan baik dalam penanganan klien kami. Mulai dari penangkapan, penahanan dan pemblokiran rekening,” kata Turan Tengko, SH, kuasa hukum ketiga tersangka kepada Cenderawasih Pos, kemarin.
Menurutnya, dalam surat penahanan dari pihak kejaksaan, tidak dicantumkan uraian singkat perkara. Selain itu, lanjutnya, surat penahanan tidak diberikan kepada ketiga tersangka, hanya diberikan pada keluarganya masing-masing.

Sedangkan pemblokiran rekening, kata Tengko, tidak perlu dilakukan oleh pihak kejaksaan sebab uang yang ada di rekening adalah uang hasil pekerjaan proyek rehap dan pengadaan meubelair di BKPAD Kabupaten Biak Numfor, bukan proyek pengadaan meubelair di BP3D Kabupaten Biak Numfor.

“Hal lain yang membuat kami mengajukan gugatan pra peradilan adalah klien kami menolak dilakukan penahanan, namun mereka langsung ditangkap lalu dibawa ke mobil. Ketiganya tidak dibuatkan surat penangkapan pada hal dipindahkan ke LP,”ujarnya.

Sementara itu, Kajari Biak Abraham B Sitinjak, SH, MH membantah jika pihaknya melakukan penangkapan. “Kami tidak pernah melakukan penangkapan, kami hanya melakukan penahanan. Surat perintah penahanan ada dan ditunjukkan ke mereka, namun mereka tidak mau menandatanganinya. Kami juga telah menyerahkan ke Kalapas dan keluarganya” ujar Kajari.

Diungkapkan, penahanan yang pihaknya lakukan sudah memenuhi bukti yang cukup. Ia menilai, dalil-dalil yang mereka kemukakan bukan alasan pra peradilan.
Dikatakan, penahanan dilakukan pihaknya salah satunya karena tindak pidana korupsi ancaman hukumannya lima tahun atau lebih. Selain itu, juga karena didasarkan pada unsur penyidikan. “Jangan sampai tidak ditahan lalu mengulangi lagi perbuatannya,” tandas Sitinjak.

Dijelaskan, yang perlu digaris bawahi dalam pra peradilan perlu diatur dalam Pasal 77 KUHAP dan Pasal 1 butir 10 KUHAP. Dimana wewenang pra peradilan ini ada tiga hal, sah atau tidaknya suatu penangkapan dan atau penahanan atas permintaan tersangka atau keluarga, sah atau tidaknya perhentian penuntutan, permintaan kerugian atau rehabilitasi.

“Soal pemblokiran rekening yang kami lakukan bukan merupakan alasan untuk pra peradilan, pemblokiran ini diatur UU tindak pidana korupsi No 31 Tahun 1999. Kewenangan penyedidik diatur dalam pasal 29 ayat 4,”jelasnya.

Sidang pra peradilan yang dimulai pukul 15.30 WIT itu dipimpin oleh hakim Imanuel Baru, SH. Namun sangat disayangkan sidang yang terbuka untuk umum ini, majelis hakim sempat marah-marah saat wartawan mengambil gambar.

Bahkan hakim yang bersangkutan berteriak-riak memanggil wartawan yang sedang mengambil gambar. Kejadian ini sempat menarik perhatian di sekitar ruangan persidangan, namun hakim tersebut dengan sendirinya diam dan melanjutkan pemeriksaan berkas yang diajukan saksi.

Sekadar diketahui, ketiga tersangka ditahan oleh pihak Kejadi Biak sejak 3 Desember 2008 lalu karena diduga terlibat kasus korupsi pengadaan meubelair di Jemaat GKI Paulus Dwar dan Jemaat GKI Samau Tahun 2007 senilai Rp 275 juta dan Jemaat GKI Sosmay dengan meubelair sarana ibadah Tahun 2008 dengan nilai Rp 817 juta.(ito)

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »